PadangPanjang.Sinyalnews.com-Langit cerah sejak pagi hingga sore seakan memberi restu bagi alek anak nagari yang telah lama dinanti. Gelanggang pacuan kuda Bancah Laweh, Batipuah X Koto, berubah menjadi lautan manusia. Derap langkah kuda, sorak penonton, dan teriakan joki berpadu dalam satu harmoni: kebanggaan tradisi dan semangat anak nagari yang tak pernah padam.
Diperkirakan lebih dari 12 ribu orang memadati area pacu. Mereka datang dari berbagai penjuru nagari, bahkan ada yang sengaja pulang dari rantau demi menyaksikan alek kebesaran yang telah menjadi ikon budaya Minangkabau. Sejak pagi, ruas jalan menuju gelanggang sudah dipenuhi kendaraan dan pedagang musiman.

“Ini bukan sekadar hiburan, tapi kebanggaan anak nagari. Alek seperti inilah yang membuat ekonomi masyarakat berputar dari bawah,” ujar Datuk Rajo Malano, tokoh masyarakat Batipuah, di sela keramaian penonton yang menyesaki pagar pembatas.
Sorak-sorai menggema setiap kali kuda memasuki garis akhir. Para joki cilik berpacu bukan hanya untuk piala, tetapi juga untuk nama baik kandang dan nagari. Sementara itu, di luar lintasan, denyut ekonomi rakyat berputar cepat.
Pedagang kaki lima, ojek, tukang parkir, hingga pelaku UMKM merasakan limpahan berkah. “Biasanya sehari seratus ribu, kini bisa sejuta lebih. Alhamdulillah, rezeki dari pacu kuda,” ungkap Leni (38 tahun), pedagang minuman dingin yang berjualan di pinggir gelanggang.
Kebahagiaan serupa dirasakan Rizal, pengemudi ojek yang sejak pagi bolak-balik mengantar penonton dari terminal menuju lokasi acara. “Ramai bana urang datang, dari pagi indak putuih orderan.kalau biasanya 50 ribu aja susah sehari, hari sampai 10 kali lipat. Kalau bisa, acara seperti ini jangan cuma sekali lima tahun,” katanya.
Namun, di balik euforia dan banjir rezeki, tersisa satu pemandangan yang membuat miris. Ketika musik berhenti dan penonton pulang, lapangan Bancah Laweh dipenuhi sampah plastik dan sisa makanan. Lembaran gelas sekali pakai, bungkus nasi, hingga wadah Styrofoam berserakan di tanah, menutupi jejak langkah kuda yang sehari sebelumnya menjadi kebanggaan nagari.

Fenomena ini mendapat sorotan dari pengamat politik dan ekonomi daerah, Leon Simonmoechlis , yang menilai bahwa keberhasilan alek rakyat semestinya diimbangi dengan kesadaran lingkungan.
“Pacu kuda ini luar biasa dampaknya bagi ekonomi rakyat, tapi hendaknya pelaku UMKM, pedagang, dan panitia juga menyiapkan tempat sampah di setiap titik. Setelah banjir rezeki dan banjir manusia, jangan sampai lapangan ikut banjir sampah. Itu merusak wajah alek anak nagari,” tegasnya.
Sementara Romi Martianus juga menambahkan, tanggung jawab sosial dan budaya harus berjalan seiring dengan semangat ekonomi. “Alek seperti ini seharusnya menjadi momentum untuk menanamkan kesadaran kolektif: menjaga tradisi, sambil menjaga alam dan lingkungan,” katanya.
- Harapan besar pun datang dari masyarakat agar Persatuan OlahRaga Kuda Seluruh Indonesia (PORDASI ) bersama Pemko Padang Panjang dan pemerintah Kabupaten Tanah Datar mewakili Batipuah X koto menjadikan pacu kuda sebagai agenda tahunan.
“Minimal sekali setahun, se amba-amba nyo tabu. Bak kato pepatah Minang, dima tanah dipijak, disinan langik dijunjuang. Tradisi nan elok kok bisa diraso urang banyak, jangan sampai hilang. Ini program yang langsung menyentuh ekonomi masyarakat,” tutup Datuk Rajo Malano penuh harap.
Kini, Batipuah X Koto tak hanya berpacu dalam arena kuda, tapi juga berpacu dalam kesadaran. Karena sejatinya, menjaga alek anak nagari bukan sekadar meramaikan gelanggang, tapi juga merawat nilai-nilai yang tumbuh di tanahnya—agar harum tradisi tak tertutup bau sampah, dan semangat kebersamaan tetap hidup sepanjang musim (Paulhendri)














