Home / BERITA / DAERAH / EKONOMI / KOTA PADANG PANJANG / NASIONAL / PERISTIWA / SUMBAR

Monday, 4 May 2026 - 18:37 WIB

Dari Balik Jeruji, Harapan Itu Ditebar: Lele-Lele Kecil dan Mimpi Besar Ketahanan Pangan

Di balik tembok tinggi Rutan Padang Panjang, hari itu bukan sekadar seremoni. Bibit lele ditebar, makanan dibagikan, bahkan sebatang rokok menjadi jeda kecil bagi jiwa-jiwa yang lama terkungkung. Di sana, harapan tidak datang dalam pidato panjang, melainkan dalam tindakan nyata.

PadangPanjang.Sinyalnews.com- Air kolam bergetar saat ribuan bibit lele dilepas. Sekitar 5.000 ekor, bantuan dari Wali Kota Padang Panjang, Hendri Arnis, bersama Mardiansyah, mengalir ke dalam kolam sederhana di Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Padang Panjang. Tapi yang ditebar hari itu bukan hanya ikan ,melainkan peluang hidup yang lebih bermakna bagi warga binaan pemasyarakatan (WBP).

Hendri Arnis tak datang dengan tangan kosong. Ia membawa lebih dari sekadar program, ia membawa pendekatan kemanusiaan. Bersama Mardiansyah, bantuan itu diperluas: makan siang untuk warga binaan, bahkan rokok,hal kecil yang kerap dianggap sepele, tapi di ruang terbatas seperti rutan, ia menjadi simbol perhatian.

Baca Juga :  Lomba Merangkai Bunga, DWP Kemenag Kota Padang Jaya Gondol Juara Pertama

“Ketahanan pangan itu penting, tapi kemanusiaan jauh lebih penting,” ujar Hendri Arnis, dengan nada tenang namun tegas. “Mereka ini tetap manusia. Mereka harus kita rangkul, bukan sekadar diawasi.”

Di sampingnya, jajaran Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sumatera Barat menyambut program ini sebagai langkah konkret pembinaan. Kolam lele itu bukan hanya proyek, tapi ruang belajar, tentang tanggung jawab, kerja keras, dan harapan yang pelan-pelan dipulihkan.

Beberapa warga binaan tampak memperhatikan dengan mata yang tak biasa, bukan kosong, melainkan penuh rasa ingin tahu. Ada yang tersenyum saat makan siang dibagikan. Ada pula yang menikmati rokok dengan tatapan jauh, seolah mengingat kehidupan di luar sana. Di momen-momen kecil itulah, kemanusiaan terasa begitu dekat.

Ketua PWI Padang Panjang, Supriyanto, menilai langkah ini sebagai pendekatan yang utuh, tidak hanya menyentuh aspek fisik, tapi juga psikologis warga binaan.

“Program seperti ini penting, karena menyentuh sisi yang sering dilupakan. Ketahanan pangan berjalan, pembinaan jalan, tapi yang paling terasa adalah sentuhan kemanusiaannya,” ujarnya.

Baca Juga :  Pemko Bukittinggi Dukung Tradisi Adat Daerah Dalam Perayaan Khatam Al Qur'an

Menurutnya, sinergi antara pemerintah daerah dan pemasyarakatan harus terus diperkuat. Sebab dari kolaborasi seperti ini, lahir kebijakan yang tidak kaku, tetapi hidup, menjawab kebutuhan nyata di lapangan.

Di balik jeruji, hidup memang berjalan dengan ritme yang berbeda. Tapi hari itu, ritme itu berubah. Ada gerak, ada rasa, ada harapan. Dari kolam lele, dari sepiring makan siang, dari sebatang rokok, semua menjadi bagian dari cerita kecil tentang bagaimana negara mencoba hadir, bukan hanya sebagai pengawas, tapi sebagai penguat.

Dan ketika lele-lele itu tumbuh besar nanti, mungkin yang ikut tumbuh adalah sesuatu yang lebih dalam: rasa dihargai, rasa diperhatikan, dan keyakinan bahwa bahkan dari tempat paling sunyi, harapan masih bisa hidup. Di Rutan masih ada rasa memanusiakan manusia .(Paulhendri)

Share :

Baca Juga

ARTIKEL

Press Conference ke II, Polresta Cilacap Berhasil Menangani 11 Kasus Tindak Pidana Selama Operasi Aman Candi 2025

BERITA

Terjatuh Ke Dalam Parit, Pengendara dan Penumpang Minibus Meninggal Dunia

BERITA

Terima Mobil Ambulance, Rutan Padang Panjang Siap Maksimalkan Pelayanan Kesehatan

BERITA

Mobil Pick Up Terbakar di Jalanan Umum

ARTIKEL

12 Personel Bakamla RI Naik Pangkat dan Golongan

BERITA

Kemenag Kota Padang Terima Study Tiru Kemenag Kota Pekanbaru

ARTIKEL

KA Sibinuang Hantam Sebuah Mini Bus. 4 Orang Tewas ditempat

ARTIKEL

Satgas Kizi TNI Konga XXXVII-J Minusca Car kunjungi  Camp kontingen Minusca pada momen Idul Fitri 1445 H