Upacara berlangsung khidmat. Seragam rapi, barisan tegak, dan bendera berkibar tanpa cela. Namun di balik itu, terselip kegelisahan yang tak ikut terucap lantang. Hendri Arnis berdiri memberi hormat, lalu menyampaikan arah kebijakan. Tapi yang terasa bukan sekadar pidato, melainkan peringatan halus: pendidikan sedang tidak baik-baik saja.
PadangPanjang.Sinyalnews.com-Pagi itu, nuansa adat Nusantara membungkus peringatan Hari Pendidikan Nasional di Padang Panjang. Sebuah simbol kebanggaan identitas, sekaligus pengingat bahwa pendidikan bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga soal membentuk manusia.
Namun realitas di lapangan tak seindah panggung upacara.
Di balik dinding sekolah, persoalan terasa makin kompleks: kualitas pembelajaran yang belum merata, motivasi siswa yang merosot, hingga beban administratif yang perlahan menggerus peran utama guru.
Dalam pidatonya, Wali Kota Hendri Arnis menyampaikan lima kebijakan pendidikan nasional. Tapi yang lebih terasa adalah kegelisahan yang tersirat.
“Pendidikan tidak boleh sekadar rutinitas. Kita tidak bisa lagi bekerja biasa-biasa saja, karena yang kita hadapi adalah masa depan bangsa,” ujarnya.
Nada yang sama datang dari Wakil Ketua DPRD, Mardiansyah. Ia menilai persoalan pendidikan sudah berada pada titik yang mengkhawatirkan.
“Ini bukan lagi persoalan kecil. Sudah sistemik. Butuh keberanian untuk membenahi dari hulu ke hilir,” tegasnya.
Di ranah akademik, Jontra melihat adanya jurang antara konsep dan pelaksanaan.“Program banyak, tapi implementasi sering tidak konsisten. Di situlah siswa menjadi korban,” katanya.
Namun suara yang paling mengguncang justru datang dari tokoh masyarakat. Ia berbicara tanpa jargon, langsung pada inti persoalan yang selama ini dirasakan, tapi jarang diungkapkan terang-terangan.
“Sekarang ini guru bukan lagi hadir sebagai pendidik, tapi hanya sebagai pengajar. Ini sangat miris. Orientasi banyak bergeser hanya mengejar sertifikasi, bukan lagi membentuk karakter,” ujarnya.
Ia juga menyinggung realitas yang semakin rumit di ruang kelas,ketika kewibawaan guru berhadapan dengan batasan yang sering disalahpahami.
“Ketegasan guru hari ini seperti terbelenggu. Sedikit saja marah atau menegur, langsung dikaitkan dengan pelanggaran hak anak. Akhirnya guru takut. Sementara murid justru makin berani melampaui batas,” lanjutnya.
Ironisnya, menurut dia, situasi itu diperparah oleh sikap sebagian orang tua.
“Orang tua menitipkan anaknya ke sekolah, tapi ketika anaknya ditegur, tidak terima. Bahkan ada yang melaporkan guru ke polisi. Ini yang membuat posisi guru semakin lemah,” katanya.
Pernyataan itu bukan sekadar kritik. Ia adalah potret retak dari relasi yang seharusnya menjadi fondasi pendidikan. kepercayaan antara guru, siswa, dan orang tua.
Seorang guru di Padang Panjang mengakui hal itu dengan nada lirih.
“Kami ingin mendidik, bukan hanya mengajar. Tapi ruang itu semakin sempit. Ada kekhawatiran yang tidak pernah kami rasakan dulu,” ujarnya.
Di sisi lain, siswa pun berada dalam kebingungan mereka sendiri.
“Kami belajar banyak hal, tapi kadang tidak tahu arah. Rasanya hanya mengejar nilai,” kata seorang pelajar.
Di titik ini, “tunas harapan bangsa” itu seperti berjalan di jalur yang tidak sepenuhnya jelas. Mereka tumbuh, tapi tidak selalu dipastikan tumbuh dengan utuh.
Ketua PWI Padang Panjang, Supriyanto, mengingatkan bahwa persoalan ini tidak bisa dibiarkan berlarut.
“Kalau pendidikan kita goyah, maka masa depan daerah ini ikut goyah. Semua pihak harus kembali duduk bersama,guru, orang tua, dan pemerintah,” katanya.
Upacara pun usai. Barisan dibubarkan. Suara pengeras berhenti.
Namun kegelisahan itu tetap tinggal.
Ia hidup di ruang-ruang kelas, di kepala para guru, di hati orang tua, dan di langkah siswa yang sedang mencari arah.
Dan mungkin, di situlah makna sejati Hari Pendidikan Nasional.
bukan sekadar diperingati,tetapi diperjuangkan, dengan keberanian untuk mengakui bahwa ada yang harus dibenahi, sekarang juga.(paulhendri)














