Home / BERITA / DAERAH / KESEHATAN / KOTA PADANG PANJANG / NASIONAL / PERISTIWA / SUMBAR

Saturday, 2 May 2026 - 21:40 WIB

Sebulan Memimpin, Maria Tak Beri Waktu PMI Berhenti: Dari Ruang Kelas ke Medan Kemanusiaan

Di sebuah ruang sederhana di Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, suara instruksi dan derap semangat tak henti mengalir. Bagi Ny. Maria Feronika Hendri Arnis, ini bukan sekadarSebulan Memimpin, Maria Tak Beri Waktu PMI Berhenti: Dari Ruang Kelas ke Medan Kemanusiaan tetap hidup, bahkan sejak hari-hari awal kepemimpinannya.

PadangPanjang.Sinyalnews.com-Baru seumur jagung memimpin Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Padang Panjang, ritme kerja Ny. Maria Feronika Hendri Arnis justru seperti tak mengenal jeda. Sabtu (2/5/2026), ia berdiri di hadapan peserta Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) Korps Sukarela (KSR) PMI Unit ISI Padang Panjang, bukan sekadar membuka acara, tetapi menegaskan arah: relawan tak boleh setengah jadi.

Di ruang V2 yang disulap menjadi pusat pembelajaran kemanusiaan itu, 19 peserta duduk dengan wajah serius. Mereka bukan hanya belajar teori. Mereka sedang ditempa.Dari pertolongan pertama hingga simulasi evakuasi, dari manajemen bencana hingga prinsip-prinsip kepalangmerahan, semua dirangkai dalam satu tujuan: membentuk manusia yang siap hadir saat orang lain tak mampu berdiri.

Maria paham betul, relawan bukan sekadar pelengkap. Mereka adalah garis depan.“Relawan KSR adalah ujung tombak PMI. Mereka yang pertama hadir, sering kali sebelum sistem benar-benar siap,” ujarnya, dengan nada yang tak sekadar formalitas.

Baca Juga :  Tingkatkan Syiar Ramadhan, Kemenag dan RRI Padang Teken MoU

Kalimat itu bukan retorika. Dalam sebulan kepemimpinannya, agenda PMI Padang Panjang nyaris tanpa sela. Pelatihan, koordinasi, hingga penguatan kapasitas relawan terus digerakkan. Seolah ada kesadaran yang mendesak: bencana tak pernah menunggu kesiapan.

Dukungan terhadap langkah cepat itu juga datang dari kalangan pers. Ketua PWI Padang Panjang, Supriyanto, menilai PMI bukan sekadar organisasi, tetapi representasi nyata dari nilai kemanusiaan yang bekerja dalam diam.

“PMI itu hadir di saat orang lain panik. Mereka bekerja bukan untuk sorotan, tapi untuk menyelamatkan. Ini kerja sosial yang paling nyata, menyentuh langsung kebutuhan manusia dalam kondisi paling rentan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti keseriusan kepemimpinan Maria yang dinilainya membawa energi baru bagi PMI di Padang Panjang.

“Kita melihat bagaimana dalam waktu yang sangat singkat, Bu Maria langsung bergerak. Program sosial berjalan, penguatan SDM relawan dilakukan, dan kegiatan seperti Diklatsar ini jadi bukti bahwa PMI tidak ingin berjalan biasa-biasa saja. Ini patut kita dukung,” tegasnya.

Menurutnya, penguatan kapasitas relawan adalah investasi jangka panjang yang sering kali luput dari perhatian, padahal justru menjadi fondasi utama dalam setiap aksi kemanusiaan.

Baca Juga :  Team Opsnal Polsek Padang Selatan Tangkap Seorang Pelaku Judi Togel

Di sela pelatihan, simulasi demi simulasi digelar. Tubuh-tubuh muda itu belajar bergerak cepat, membaca situasi, dan mengambil keputusan dalam tekanan. Keringat yang jatuh hari ini adalah latihan untuk menyelamatkan nyawa esok hari.

Seorang peserta terlihat mencatat serius, yang lain mencoba membalut luka dalam simulasi. Di sudut ruangan, instruktur PMI mengawasi dengan ketat, tak ada ruang untuk asal-asalan.

Karena di dunia kemanusiaan, kesalahan kecil bisa berarti kehilangan besar.
Maria menegaskan, Diklatsar bukan akhir, melainkan awal dari tanggung jawab panjang. Ia ingin relawan yang lahir bukan hanya terlatih, tapi juga memiliki kepekaan,kemampuan melihat penderitaan orang lain sebagai panggilan, bukan beban.

Di bawah kepemimpinannya, PMI Padang Panjang tampak bergerak lebih agresif. Bukan sekadar menjalankan program, tetapi membangun kesiapsiagaan yang nyata.

Dari ruang kelas itu, harapan kecil sedang disusun. Bahwa ketika bencana datang, dan ia pasti datang, akan ada tangan-tangan sigap yang sudah terlatih, hati-hati yang sudah ditempa, dan keberanian yang tak perlu lagi diajarkan.

Sebab kemanusiaan, seperti yang diyakini Maria, bukan untuk ditunggu. Ia harus disiapkan.(paulhendri )

Share :

Baca Juga

BERITA

Songsong Pemilu Berkualitas, Wawalkot Salahudin Ajak Pemilih Pemula Jangan Golput

ARTIKEL

Dansatgas Cek Pembuatan Drainase Dengan Alat Berat Excavator

ARTIKEL

Rangkaian Kegiatan Meriahkan Festival Seni Budaya “Giat Seni dari Kuranji Harmoni Untuk Negeri”

ARTIKEL

PKM UNP adakan Pemberdayaan Kesehatan Lansia Melalui Sosialisasi Senam Sex Kegel Pada Lansia Dan Pelatihan Kreativitas Berbasis Kearifan Local Di Kecamatan Canduang Kabupaten Agam.

BADAN NEGARA

Panglima TNI dan Kalemdiklat Polri Pimpin Wisuda 1.944 Taruna TNI-Polri di Magelang

BERITA

Terbakar Api Cemburu, Seorang Pria Nekad Membunuh Mantan Pacarnya

ARTIKEL

Ketua Peradi Padang Miko Kamal, Sekarang Tidak Masanya Lagi Melakukan Tawuran dalam Bentuk Fisik

ARTIKEL

Kapolda Sumatera Selatan Berikan PIN Emas Personel Berprestasi.