Home / BERITA / DAERAH / KOTA PADANG PANJANG / NASIONAL / PENDIDIKAN / PERISTIWA / SUMBAR

Friday, 31 July 2026 - 20:06 WIB

Ketika Seorang Wali Kota Memilih Mendengar

Di halaman sekolah, Hendri Arnis tidak sekadar menyosialisasikan program beasiswa. Ia membuka pintu bagi mimpi-mimpi yang selama ini nyaris dikubur anak-anak karena keterbatasan ekonomi. Di sana, seorang siswi kelas IX bernama Salsabila menemukan kembali keberaniannya untuk bercita-cita menjadi dokter.

Oleh : Paulhendri (wartawann)

PadangPanjqng.Sinyalnews.com—Jumat pagi itu, halaman SMP Negeri 1 Padang Panjang tidak hanya dipenuhi barisan siswa berseragam biru putih. Di sana, harapan juga sedang berbaris.

Mereka menunggu seorang tamu.Bukan untuk menyaksikan seremoni pemerintahan.Bukan pula untuk mendengar pidato panjang yang biasanya selesai bersama tepuk tangan formal.

Mereka menunggu seorang pemimpin yang pagi itu memilih datang sebagai pendengar.

Wali Kota Padang Panjang Hendri Arnis memulai rangkaian kunjungannya ke SMP dan SMA se-Kota Padang Panjang guna menyosialisasikan salah satu program unggulan pasangan Hendri Arnis–Allex Saputra yang tertuang dalam Rencana Strategis (Renstra) Pemerintah Kota.

Program itu sederhana dalam kalimat, tetapi besar dalam maknanya.

Pemerintah Kota Padang Panjang akan memberikan beasiswa kepada lulusan SMA ber-KTP Padang Panjang, dan secara khusus beasiswa penuh hingga lulus bagi siswa yang diterima di Fakultas Kedokteran perguruan tinggi negeri.

Di tengah biaya pendidikan yang terus meningkat, kebijakan itu menjadi kabar yang menghidupkan harapan banyak keluarga.

Namun pagi itu, yang paling membekas justru bukan pengumuman program tersebut.Melainkan cara seorang kepala daerah memperlakukan anak-anak.

Usai menyampaikan materi, Hendri Arnis tidak buru-buru meninggalkan lokasi.Ia menatap para siswa. Lalu berkata singkat.

“Siapa yang mau curhat sama Wali Kota?”

Kalimat sederhana itu seolah meruntuhkan dinding yang selama ini memisahkan pejabat dengan masyarakat.

Puluhan tangan langsung terangkat.Di luar dugaan, anak-anak SMP Negeri 1 Padang Panjang tampil begitu percaya diri.

Mereka berbicara tentang sekolah.Tentang fasilitas belajar.Tentang guru. Tentang lingkungan.

Bahkan tentang mimpi-mimpi yang selama ini hanya mereka simpan dalam hati.

Tidak ada rasa takut.Tidak ada kecanggungan.Percakapan mengalir hangat, seperti dialog antara seorang ayah dengan anak-anaknya.

Sesekali tawa pecah.Sesekali tepuk tangan terdengar.Dan lebih banyak lagi senyum yang lahir karena merasa didengar.

Baca Juga :  Jaksa agung tindak pidana umum menyetujui 2 pengajuan penghentian penuntutan berdasarkan Restorative Justice

Hendri Arnis hampir tak pernah memotong pembicaraan.

Ia memilih mendengarkan.

Karena ia percaya, terkadang seorang pemimpin tidak selalu harus menjadi orang yang paling banyak berbicara.

Tetapi menjadi orang yang paling bersedia mendengar.

Ketika Salsabila Menemukan Jalan Menuju Mimpinya

Di antara puluhan siswa yang berbicara pagi itu, perhatian Hendri Arnis tertuju pada seorang siswi kelas IX.

Namanya Salsabila. Usianya baru sekitar 14 tahun. Namun cara berpikirnya jauh lebih dewasa daripada usianya.

Dengan suara tenang dan pilihan kata yang tertata, ia menceritakan satu mimpi yang telah lama ia simpan.

Ia ingin menjadi dokter.

Tetapi setiap kali mimpi itu datang, selalu ada satu pertanyaan yang membuatnya memilih diam.

Ia adalah anak sulung dari keluarga sederhana.Baginya, kuliah di Fakultas Kedokteran bukan hanya persoalan lolos seleksi.

Melainkan persoalan biaya yang selama ini terasa begitu jauh dari jangkauan keluarganya.

Lebih dari itu, ia selalu memikirkan adik-adiknya.“Saya sering berpikir, kalau saya kuliah kedokteran nanti, tentu akan menguras keuangan keluarga. Bagaimana nasib adik-adik saya? Jangan sampai karena saya mengejar cita-cita, mereka kehilangan kesempatan sekolah,” tuturnya lirih.

Ruangan mendadak sunyi.Kalimat itu tidak lahir dari seorang mahasiswa.Bukan pula dari orang dewasa yang telah lama mengenal kerasnya kehidupan.Melainkan dari seorang siswi kelas IX yang bahkan belum memasuki bangku SMA.

Di usia ketika sebagian besar anak seusianya masih sibuk bermain, Salsabila telah belajar menunda mimpinya demi keluarganya.

Namun pagi itu, sesuatu berubah. Ketika Hendri Arnis menjelaskan bahwa Pemerintah Kota Padang Panjang akan memberikan beasiswa penuh hingga tamat bagi putra-putri Padang Panjang yang diterima di Fakultas Kedokteran perguruan tinggi negeri, wajah Salsabila perlahan berubah.

Matanya berbinar. Seperti masih sulit memercayai apa yang baru saja didengarnya. Ia lalu spontan mencubit lengannya sendiri.

“Saya cubit kulit saya… ternyata sakit, Pak,” katanya sambil tersenyum malu, mengundang tawa hangat di ruangan.

Baca Juga :  Berikan Imunisasi, Bukittinggi Komit Antisipasi Virus Polio

Namun rupanya, ia masih ingin memastikan.

Dengan suara yang sedikit bergetar, ia kembali bertanya kepada Wali Kota.

“Pak… apakah ini benar? Kalau ini benar, ini seperti vitamin bagi saya untuk mengejar mimpi. Benar, Pak?”

Pertanyaan itu membuat Hendri Arnis terdiam sejenak. Di hadapannya bukan sekadar seorang pelajar. Ia melihat ribuan anak Indonesia yang memiliki cita-cita besar, tetapi kerap dipaksa menyerah oleh keadaan.

Dengan mata yang mulai berkaca, Hendri menjawab perlahan. “Benar, Nak. Ini benar. Maka mulai hari ini, persiapkanlah mimpimu. Belajar sungguh-sungguh. Jangan takut bercita-cita. Kalau Allah mengizinkan dan kamu lulus masuk Fakultas Kedokteran, pemerintah akan hadir mendampingimu.”

Kalimat itu seolah menjadi titik balik bagi Salsabila.
Senyumnya mengembang.Bukan karena ia telah menjadi dokter.Melainkan karena untuk pertama kalinya, ia merasa jalan menuju cita-citanya benar-benar terbuka.

Hari itu, ia tidak pulang membawa selembar brosur.Ia pulang membawa harapan.Lebih dari Sekadar Program

Bagi pemerintah, beasiswa mungkin tercatat sebagai salah satu program dalam dokumen perencanaan pembangunan.

Namun bagi anak-anak seperti Salsabila, beasiswa adalah jembatan.

Jembatan antara keterbatasan ekonomi dan cita-cita.

Jembatan antara keraguan dan keyakinan.

Jembatan antara “tidak mungkin” menjadi “insya Allah bisa.”

Kunjungan Hendri Arnis ke sekolah-sekolah pagi itu akhirnya meninggalkan pelajaran yang jauh lebih besar daripada sosialisasi sebuah program.

Bahwa pendidikan tidak hanya dibangun dengan ruang kelas yang baik.Tidak hanya dengan kurikulum. Tidak hanya dengan angka-angka dalam APBD.

Tetapi juga dengan kehadiran seorang pemimpin yang bersedia datang, duduk sejajar dengan anak-anak, mendengarkan kegelisahan mereka, lalu memberi alasan untuk kembali bermimpi.

Sebab seorang kepala daerah memang bisa membangun jalan, jembatan, gedung, atau taman.Tetapi warisan terbesar seorang pemimpin adalah ketika ia mampu membangun keberanian anak-anak untuk berkata,

“Saya punya mimpi… dan sekarang saya percaya, mimpi itu bisa saya capai.” Melalui bea siswa itu !(***)

Share :

Baca Juga

BERITA

Wakapolri Naik Becak Bermotor di Unimed

BADAN NEGARA

Satgas TMMD Kodim 1805/Raja Ampat dan Warga Gotong Royong Merakit Kayu Untuk Pembangunan RTLH

ARTIKEL

Polisi Batang Tingkatkan Keamanan Masyarakat dengan Razia Petasan Di Tersono

ARTIKEL

Progres Sasaran Fisik TMMD Ke-123 Kodim 1510/Sula Capai Hasil Signifikan

BERITA

Menhan Prabowo Hadiri Perayaan Hari Nasional Jerman

BERITA

PT PSGM Sakato Group Buka Lowongan Sales Motor

BERITA

Peradi Go to School Sasar SMKN 1 Padang

ARTIKEL

Forum Nagari Padang Besi Mengadakan Sosialisasi BMN CSR Semen Padang