PadangPanjang.Sinyalnews.comTidak ada sirene. Tidak ada hitungan mundur. Yang terdengar hanya gemuruh dari balik gelapnya tebing, lalu dalam sekejap tanah dan bebatuan meluncur deras menutup jalan nasional.
Malam itu, Kamis (30/7/2026) sekitar pukul 20.35 WIB, Lembah Anai kembali “berbicara”. Tebing di Nagari Singgalang, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, longsor dan menutup seluruh badan Jalan Padang–Padang Panjang di Kilometer 66,700, tepat menjelang Jembatan Kembar.
Dalam hitungan menit, urat nadi transportasi Sumatera Barat lumpuh total.
Lampu-lampu kendaraan membentuk antrean panjang dari dua arah. Mesin dimatikan. Sebagian pengendara memilih keluar dari mobil, memandangi lereng yang masih mengeluarkan guguran tanah. Tidak ada yang berani melintas. Alam sedang menunjukkan kekuatannya.

Kasat Lantas Polres Padang Panjang, AKP Pifzen Finot, memastikan jalur nasional tersebut langsung ditutup demi keselamatan masyarakat.
“Longsor terjadi sekitar pukul 20.35 WIB di KM 66,700. Jalan dari arah Padang maupun dari arah Padang Panjang kami tutup total karena material menutupi badan jalan,” katanya.
Alat berat milik Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Wilayah V Sumatera Barat sebenarnya telah berada di lokasi tidak lama setelah kejadian. Namun pekerjaan tidak bisa langsung dilakukan. Tebing masih terus menjatuhkan material sehingga setiap pergerakan alat berat harus dilakukan dengan sangat hati-hati.
Hingga Jumat (31/7/2026) dini hari sekitar pukul 00.30 WIB, petugas masih berjibaku membersihkan timbunan tanah dan batu.
“Kami masih melakukan pembersihan. Jalan dari dua arah masih ditutup. Jika tidak ada longsor susulan, insyaallah satu hingga dua jam lagi jalur dapat dibuka kembali,” ujar Pifzen.
Ia mengimbau masyarakat tetap bersabar, mematuhi arahan petugas, dan menggunakan jalur alternatif apabila memungkinkan.
Namun longsor kali ini bukan sekadar bencana yang datang sesaat.
Ia adalah pengulangan dari cerita lama yang terus berulang.
Baru sebulan lebih berlalu, tepatnya 24 Juni 2026, titik yang hampir sama juga diterjang longsor hingga memutus arus kendaraan selama berjam-jam. Sebelum itu, kawasan ini juga berkali-kali mengalami kejadian serupa setiap kali hujan deras mengguyur pegunungan Bukit Barisan.
Lembah Anai memang menyimpan paradoks. Di satu sisi, ia adalah salah satu bentang alam terindah di Sumatera Barat, lengkap dengan air terjun yang menjadi ikon wisata. Namun di sisi lain, tebing-tebing curam yang mengapit jalan nasional itu merupakan kawasan dengan tingkat kerawanan longsor yang tinggi. Tanah yang jenuh oleh air hujan dengan mudah kehilangan daya ikatnya, lalu runtuh membawa batu dan pepohonan ke badan jalan.
Yang terhenti setiap kali longsor bukan hanya laju kendaraan.
Distribusi logistik terganggu. Perjalanan pasien menuju rumah sakit tertunda. Aktivitas ekonomi melambat. Wisatawan terjebak. Sopir angkutan barang kehilangan waktu. Ribuan masyarakat yang bergantung pada jalur Padang–Padang Panjang harus menunggu alam kembali tenang.
Karena itu, setiap musim hujan datang, kekhawatiran yang sama selalu muncul: sampai kapan Lembah Anai akan terus menjadi langganan longsor?
Pertanyaan itu layak dijawab bukan hanya dengan pengerahan alat berat setiap kali bencana datang, tetapi juga melalui langkah-langkah mitigasi yang lebih permanen—mulai dari penguatan lereng, sistem pemantauan dini, pengendalian drainase kawasan, hingga evaluasi menyeluruh terhadap titik-titik rawan longsor.
Sebab jika tidak, Lembah Anai akan terus menjadi panggung berulang bagi kisah yang sama: hujan turun, tebing runtuh, jalan nasional lumpuh, lalu masyarakat kembali diminta bersabar.
Dan ketika alam kembali mengirimkan peringatan berikutnya, waktu mungkin tidak selalu berpihak.(Paulhendri)














