Karutan Padang Panjang Tanamkan Kesadaran Hukum dan Bahaya Bullying Sejak Dini di SDN 2 Padang Panjang Timur
Padang Panjang.Sinyalnews.com-Riuh suara anak-anak memenuhi halaman SDN 2 Padang Panjang Timur, Rabu (13/5). Namun pagi itu bukan sekadar kegiatan sekolah biasa. Di hadapan puluhan siswa berseragam merah putih dan cokelat, Kepala Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Padang Panjang, Novri Abbas, hadir membawa pesan penting tentang bahaya bullying, empati, dan kesadaran hukum sejak usia dini.
Dengan pendekatan hangat dan penuh interaksi, Novri Abbas mengajak para siswa memahami bahwa tindakan mengejek, merendahkan, hingga menyakiti teman bukanlah candaan biasa. Perundungan, kata dia, dapat meninggalkan luka psikologis mendalam dan membentuk karakter kekerasan di masa depan.
“Kadang dimulai dari ejekan kecil, panggilan buruk, atau dorongan yang dianggap bercanda. Tapi bagi korban, itu bisa menjadi luka yang dibawa sampai dewasa,” ujar Novri di hadapan para siswa.
Dalam kegiatan edukasi dan sosialisasi tersebut, Karutan didampingi Kepala SDN 2 Padang Panjang Timur, Dafrizal, S.Pd.I., M.Pd.I., beserta para guru. Suasana berlangsung cair. Sesekali Novri melempar pertanyaan ringan kepada siswa, diselingi candaan dan hadiah kecil bagi mereka yang berani menjawab.
Namun di balik suasana hangat itu, tersimpan pesan yang tegas.
Novri menjelaskan, bullying atau perundungan merupakan tindakan agresif yang dilakukan secara sengaja dan berulang, baik dalam bentuk fisik maupun verbal. Menurutnya, perilaku seperti memukul, menendang, mengejek, mengancam, hingga memberikan julukan buruk tidak boleh dianggap hal biasa.
“Anak-anak harus diajarkan sejak dini bahwa menyakiti orang lain bukanlah keberanian. Keberanian itu justru ketika kita mampu menghargai teman, menjaga ucapan, dan menyelesaikan masalah tanpa kekerasan,” katanya.
Ia juga mengingatkan, perilaku bullying yang dibiarkan tumbuh dapat menyeret seseorang pada tindakan kriminal dan persoalan hukum di kemudian hari. Selain itu, pelaku perundungan cenderung mengalami kesulitan membangun hubungan sosial yang sehat karena terbiasa menyelesaikan masalah dengan kekerasan dan tekanan.
“Karena sejak dini pengetahuan ini harus diberikan kepada siswa-siswa agar menjadi pelajaran untuk tidak melakukan bully. Sebab itu akan memengaruhi sifat dan sikap mereka ketika dewasa nanti,” tambahnya.
Di tengah kegiatan, beberapa siswa tampak mulai berani mengangkat tangan dan berbagi cerita tentang pengalaman mereka di sekolah. Sebagian tertawa malu, sebagian lainnya hanya diam mendengarkan dengan wajah serius.
Bagi pihak sekolah, kehadiran Karutan memberi warna baru dalam pendidikan karakter di lingkungan sekolah.
Kepala SDN 2 Padang Panjang Timur, Dafrizal, M.Pd.I., menyampaikan apresiasi atas kepedulian Rutan Padang Panjang terhadap dunia pendidikan.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Karutan atas kesediaannya memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada siswa didik kami. Semoga kegiatan ini menjadi pembelajaran penting bagi anak-anak dan juga guru-guru di sekolah ini,” ujarnya.
Apresiasi juga datang dari Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Padang Panjang, Supriyato. Menurutnya, langkah edukatif yang dilakukan Rutan Padang Panjang menunjukkan bahwa lembaga pemasyarakatan tidak hanya berfungsi sebagai tempat pembinaan warga binaan, tetapi juga memiliki kepedulian besar terhadap pembentukan karakter generasi muda.
“Ini langkah yang sangat baik dan patut diapresiasi. Rutan tidak hanya hadir sebagai tempat pembinaan warga binaan, tetapi juga ikut membangun kesadaran hukum sejak usia dini. Anak-anak harus dikenalkan sejak sekarang bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, termasuk bullying yang selama ini sering dianggap candaan biasa,” ujar Supriyato.
Ia menilai, edukasi seperti ini penting dilakukan secara berkelanjutan agar anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang menghargai sesama, memahami batas perilaku, serta memiliki rasa tanggung jawab terhadap tindakan mereka.
“Ketika anak-anak sudah memahami mana yang benar dan salah sejak dini, maka ke depan mereka akan tumbuh menjadi generasi yang sadar hukum, menghormati orang lain, dan tidak mudah terjerumus dalam tindakan kekerasan maupun pelanggaran hukum,” tambahnya.
Di akhir kegiatan, tepuk tangan anak-anak pecah ketika satu per satu siswa maju menjawab pertanyaan dari Karutan. Di tengah tawa polos mereka, terselip harapan sederhana: semoga tidak ada lagi anak yang pulang sekolah dengan hati yang terluka hanya karena merasa berbeda.
Sebab kadang, masa depan seorang anak tidak hancur oleh pukulan keras, melainkan oleh ejekan yang terus dibiarkan tumbuh tanpa kepedulian.(paulhendri)














