PadangPanjang.Sinyalnews.com-Siang itu, pelataran rumah pribadi Mardiansyah, S.Kom di Tanah Pak Lambiak Kota Padang Panjang berubah menjadi tempat yang tak biasa.Tak ada panggung.Tak ada karpet merah.Hanya kursi plastik hijau yang disusun berderet, dan puluhan warga yang duduk dengan sabar menunggu giliran.
Di satu sudut halaman, karung-karung beras tersusun seperti barisan diam. Berat, putih, dan sederhana. Namun bagi orang-orang yang duduk di kursi itu, karung-karung tersebut menyimpan sesuatu yang lebih dari sekadar bahan makanan.
Ia adalah ketenangan kecil untuk dapur rumah mereka.
Satu per satu nama dipanggil.
Satu per satu karung diangkat.
Satu per satu tangan menerima.
Siang itu, 1 ton beras dibagikan kepada warga Kota Padang Panjang.
Beras itu berasal dari seorang anggota DPR RI dari Sumatera Barat “Arisal Aziz.
Namun cerita yang sebenarnya bukan sekadar tentang beras.
Cerita itu bermula dari sebuah keputusan yang sunyi,keputusan yang jarang terdengar di lorong-lorong kekuasaan.
Sejak dilantik sebagai anggota DPR RI pada Oktober 2024, Arisal memilih tidak mengambil gaji dan tunjangannya sebagai wakil rakyat.
Gaji.
Tunjangan.
Dana reses.
Perjalanan kerja.
Semua yang menjadi haknya sebagai pejabat negara, ia alihkan menjadi bantuan untuk masyarakat. Santunan untuk fakir miskin.
Bantuan bagi garin dan imam masjid.
“Kalau masih banyak rakyat yang hidup susah, rasanya berat kalau semua fasilitas itu saya nikmati sendiri,” pernah ia katakan kepada sejumlah koleganya.
Hari ini , 270 Ton beras yang Mengalir ke Kampung-Kampung
Keputusan itu kemudian menjelma menjadi angka yang tidak kecil.
Beras itu bergerak dari satu daerah ke daerah lain di Sumatera Barat, masuk ke gang-gang kecil, sampai ke rumah-rumah yang sering kali hidup di ujung ketidakpastian.
Untuk Kota Padang Panjang, Arisal mempercayakan 1 ton beras kepada Mardiansyah, Wakil Ketua DPRD Padang Panjang.
Distribusinya dilakukan sederhana saja.
Di halaman rumah pribadinya sendiri.
Tidak di gedung mewah.
Tidak di ruang berpendingin udara.
Hanya di halaman rumah yang terbuka bagi warga.
Di antara warga yang menerima bantuan itu, seorang lelaki bernama Rebo berdiri sambil memeluk karung beras yang baru saja ia terima.
Tangannya tampak keras oleh kerja. Wajahnya menyimpan cerita panjang tentang hidup yang tidak selalu mudah.
“Alhamdulillah… ini sangat membantu kami,” katanya pelan.
Rebo adalah pekerja serabutan. Ia tidak selalu tahu apakah besok ada pekerjaan atau tidak.
Kadang ada yang memanggil.
Kadang tidak.
“Kadang kerja ada, kadang tidak. Kalau dapat beras seperti ini, rasanya beban di rumah jadi agak ringan,” ujarnya.
Ia lalu mengangkat karung itu ke pundaknya.
Beras itu mungkin hanya beberapa kilogram.
Namun bagi Rebo, ia adalah beberapa hari ketenangan bagi dapur rumahnya.
Di sisi lain halaman, seorang ibu rumah tangga bernama Ade Irma menerima karung beras dengan kedua tangannya.
Ia tersenyum kecil, lalu menatap karung itu beberapa saat.
“Bagi orang lain mungkin biasa saja,” katanya lirih, “tapi bagi kami ini sangat berarti.”
Ade Irma bercerita, di rumahnya ada anak-anak yang setiap hari menunggu makan dari dapur yang sering harus dihemat.
“Beras ini bisa jadi makan anak-anak beberapa hari ke depan,” katanya.
Matanya kemudian sedikit berkaca.
Ia tidak berbicara panjang. Ia hanya menutup kalimatnya dengan sebuah doa sederhana.
“Semoga yang memberi selalu dilapangkan rezekinya.”
“Jalan Sunyi Seorang Wakil Rakyat”
Di negeri yang sering kali gaduh oleh berita tentang fasilitas pejabat, kisah seperti ini terasa seperti berjalan di jalan yang berbeda.
Arisal Aziz memilih tetap hidup dari usahanya sebagai pengusaha.
Sementara penghasilan dari kursinya di DPR RI,kursi yang bagi banyak orang adalah puncak karier politik,ia alirkan kembali kepada masyarakat.
Bukan untuk menjadi cerita heroik.
Bukan pula untuk tepuk tangan.
Tetapi untuk memastikan bahwa jabatan itu tetap punya satu makna yang sering terlupakan.Bahwa kekuasaan, pada akhirnya, seharusnya mengalir kembali kepada rakyat.
Di pelataran rumah sederhana di Padang Panjang itu, siang perlahan turun.
Warga satu per satu pulang.
Sebagian memanggul karung beras di pundak.Sebagian memeluknya di dada.
Langkah mereka mungkin masih berat oleh hidup.Tetapi hari itu, mereka pulang dengan satu keyakinan kecil.
Bahwa di suatu tempat di gedung besar bernama parlemen, masih ada seseorang yang memilih mengembalikan gajinya kepada rakyat.
Dan bagi banyak rumah kecil, itu berarti satu hal yang sangat sederhana.
malam ini, dapur mereka bisa kembali mengepul.(paulhendri)














