Membagikan 900 butir telur mungkin terlihat sederhana. Namun, di balik langkah Ketua TP-PKK sekaligus Bunda PAUD Kota Padang Panjang, Ny. Maria Feronika Hendri, tersimpan keyakinan bahwa masa depan sebuah daerah dibangun bukan hanya dengan jalan dan gedung, melainkan dari anak-anak yang tumbuh sehat, cerdas, dan bahagia.
PadangPanjang.Sinyalnews.com— Pagi itu, bukan pidato panjang yang dibawa Ny. Maria Feronika Hendri ketika memasuki ruang-ruang kelas di sejumlah sekolah dasar dan sebuah PAUD di Kota Padang Panjang. Di tangannya hanya ada kotak-kotak berisi telur.
Benda yang terlihat biasa itu sejatinya membawa pesan yang luar biasa.
Setiap telur yang diserahkan adalah doa agar anak-anak tumbuh lebih sehat. Setiap senyum yang menyambutnya adalah harapan bahwa tidak ada lagi masa depan yang terenggut hanya karena kekurangan gizi.
Sebanyak 900 butir telur dibagikan kepada peserta didik di enam Sekolah Dasar dan satu PAUD, Kamis (7/8/2026). Sebanyak 750 butir disalurkan untuk enam SD dan 150 butir lainnya bagi peserta didik PAUD.
Angkanya mungkin tidak spektakuler. Namun, maknanya jauh melampaui jumlah itu.
Di tengah hadirnya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah-sekolah, Maria memilih untuk tidak berpangku tangan. Ia percaya bahwa kepedulian tidak mengenal batas program maupun kewenangan.
Selama masih ada anak yang membutuhkan perhatian, selalu ada ruang untuk berbuat.
Sebagai Ketua TP-PKK sekaligus Bunda PAUD Kota Padang Panjang, ia memahami bahwa anak-anak hari ini adalah wajah kota pada masa depan. Karena itulah, di sela-sela kesibukan mendampingi berbagai program pembangunan, ia tetap meluangkan waktu turun langsung ke sekolah-sekolah.
Bagi Maria, bertemu anak-anak bukan sekadar memenuhi agenda organisasi.
Itu adalah panggilan hati.
“Anak-anak merupakan aset sekaligus generasi penerus bangsa yang harus kita jaga bersama. Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak seluruh pihak untuk lebih peduli terhadap pemenuhan gizi anak. Telur merupakan sumber protein yang mudah diperoleh dan memiliki kandungan gizi yang baik untuk mendukung tumbuh kembang mereka,” ujarnya.
Pernyataan itu sederhana, tetapi mencerminkan sebuah filosofi pembangunan yang sering terlupakan.
Bahwa kualitas manusia jauh lebih menentukan daripada megahnya bangunan.
Stunting tidak hanya membuat tubuh anak gagal tumbuh optimal, tetapi juga berpotensi mengurangi kualitas sumber daya manusia di masa depan. Karena itu, pencegahannya tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah.
Rumah, sekolah, tenaga kesehatan, organisasi kemasyarakatan, hingga lingkungan sekitar harus bergerak bersama.
Maria percaya perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Sebutir telur memang tidak dapat mengubah dunia dalam sehari.
Namun, jika setiap anak memperoleh gizi yang cukup sejak dini, dunia merekalah yang akan berubah.
“Kami berharap bantuan ini dapat memberikan manfaat bagi anak-anak serta menjadi motivasi bagi orang tua untuk terus memperhatikan pola makan bergizi di rumah,” katanya.
Pihak sekolah menyambut hangat bantuan tersebut. Bukan semata karena tambahan sumber protein bagi peserta didik, tetapi karena perhatian yang diberikan menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak hanya berbicara tentang membaca dan berhitung.
Anak-anak tidak akan mampu belajar secara optimal apabila tubuh mereka lapar dan kebutuhan gizinya terabaikan.
Di balik 900 butir telur itu, sesungguhnya tersimpan pesan yang jauh lebih besar.
Bahwa seorang ibu tidak selalu melahirkan anak yang ia cintai.
Kadang, ia memilih menjaga ribuan anak yang bahkan tidak memanggilnya “ibu”.
Sebagai Bunda PAUD Kota Padang Panjang, Maria Feronika Hendri memperlihatkan bahwa kasih sayang kepada anak-anak tidak berhenti pada kata-kata atau seremoni. Ia hadir dalam tindakan yang nyata, menyapa mereka, mendengarkan mereka, dan memastikan tumbuh kembang mereka menjadi bagian dari perhatian bersama.
Sebab, masa depan sebuah kota tidak pernah dimulai dari ruang rapat.
Ia dimulai dari ruang kelas, dari bekal gizi yang cukup, dari senyum anak-anak yang tumbuh sehat, dan dari kepedulian orang-orang yang percaya bahwa investasi terbaik sebuah bangsa adalah generasi mudanya.
Mungkin sejarah tidak akan mengingat berapa harga 900 butir telur yang dibagikan hari itu.
Namun, sejarah selalu mencatat mereka yang memilih hadir ketika masa depan sedang dibentuk,satu anak, satu senyum, dan satu harapan pada satu waktu.(paulhendri)














