PadangPanjang.Sinyalnews.com-Malam itu, di Masjid Taqwa Muhammadiyah, Safari Ramadhan 1447 Hijriah tidak sekadar menjadi agenda seremonial. Ia berubah menjadi ruang muhasabah yang dalam. Di hadapan jamaah, unsur Forkopimda dan seluruh kepala OPD, Wali Kota Padang Panjang, Hendri Arnis, menyampaikan kegelisahan yang tak bisa lagi disimpan.
Kasus dugaan asusila di dua SMP negeri di kota itu( SMPN 5&6) satu melibatkan oknum guru terhadap muridnya, satu lagi dugaan perilaku menyimpang di sela jam pelajaran ,disebutnya sebagai noda serius bagi dunia pendidikan.
“Jangan ditutupi. Jangan dibungkus rapi seolah tidak terjadi apa-apa. Ini bukan hanya pelanggaran hukum, tapi pelanggaran moral yang bisa mengundang murka Allah,” tegas Hendri.
Ia meminta Dinas Pendidikan bertindak tegas, mengevaluasi kepala sekolah dan pengawas yang lalai, serta memastikan proses hukum berjalan tanpa intervensi.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Padang Panjang, Nasrul, SH, menyatakan sikap tegas.
“Kami tidak akan mentolerir tindakan asusila dalam bentuk apa pun di sekolah. Jika terbukti, oknum guru akan diproses sesuai aturan disiplin ASN dan hukum yang berlaku. Kepala sekolah dan pengawas yang lalai juga akan dievaluasi,” ujarnya.
Ia memastikan tim investigasi internal segera dibentuk, koordinasi dengan aparat penegak hukum dilakukan, serta penguatan pengawasan dan pendidikan karakter diperketat.
“Transparansi adalah komitmen kami. Dunia pendidikan tidak boleh kehilangan kepercayaan masyarakat,” katanya.
Tausyiah Buya Hamidi, Pendidikan Bukan Sekadar Ilmu, Tapi Akhlak
Malam itu, tausyiah disampaikan oleh Buya Hamidi, alim ulama yang juga pernah menjabat Ketua DPRD Padang Panjang selama dua periode. Suaranya tenang, namun kalimat-kalimatnya menghunjam.
Buya Hamidi mengingatkan, pendidikan sejatinya bukan hanya transfer ilmu, melainkan pembentukan akhlak. Ketika akhlak runtuh di dalam sekolah, maka yang retak bukan hanya dinding kelas, tetapi fondasi peradaban.
“Sekolah itu benteng moral. Kalau bentengnya jebol dari dalam, maka musuh tak perlu lagi menyerang dari luar,” ujarnya.
Ia menegaskan, jangan pernah ada upaya menutup aib dengan dalih menjaga nama baik lembaga. Sebab, menurutnya, menyembunyikan keburukan tanpa memperbaiki justru memperpanjang dosa kolektif. “Jangan takut membuka kebenaran. Yang harus kita takutkan adalah murka Allah karena kita membiarkan kemungkaran terjadi di hadapan mata,” tegasnya.
Sebagai mantan pimpinan legislatif, ia juga mengingatkan pentingnya pengawasan berlapis dan keberanian moral para pemimpin sekolah.“Jabatan itu amanah. Kepala sekolah, pengawas, guru ,semuanya akan dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat,” katanya, disambut anggukan jamaah.
Safari Ramadhan malam itu menjadi lebih dari sekadar agenda kunjungan. Ia menjelma menjadi momen perenungan kolektif: bahwa menjaga generasi bukan hanya tugas administratif, tetapi panggilan iman.
Di Kota Padang Panjang, doa-doa dipanjatkan lebih khusyuk. Harapannya satu ,agar luka ini menjadi titik balik, bukan awal dari kerusakan yang lebih dalam.(Paulhendri)













