PadangPanjang.Sinyalnews.com-Padang Panjang dan sekitarnya terbangun dalam getar yang tak biasa. Pukul 02:29 WIB, ketika sebagian warga terlelap dalam lelah dan sebagian lainnya bersimpuh dalam tahajud, Gunung Marapi memuntahkan lahar dan abu pekat ke langit gelap.
Dentuman keras memecah sunyi.
Bukan sekadar suara, ia seperti hantaman yang membakar jantung, mengguncang dinding rumah, menggetarkan dada setiap orang yang mendengarnya.
Dari kejauhan, pijar merah menyala di punggung gunung. Asap membumbung tinggi, tebal, menggulung seperti raksasa yang bangkit dari tidur panjangnya. Langit yang semula hening berubah muram.
Di surau-surau kecil, doa terhenti sesaat. Beberapa jamaah saling berpandangan. Di rumah-rumah sederhana, pintu dibuka tergesa. Warga berdiri di halaman, menatap ke arah gunung dengan campuran cemas dan pasrah.
Al Masir, warga Aia Angek yang rumahnya berada di kaki gunung, menyaksikan langsung peristiwa itu dari halaman rumahnya. “Saya sedang bangun untuk tahajud. Tiba-tiba dentumannya panjang dan keras sekali. Dari rumah terlihat jelas api pijar di lereng. Terangnya bukan sebentar, sekitar 30 menit masih menyala jelas. Seperti bara besar di puncak gunung. Dada ini rasanya ikut bergetar,” ujarnya.
Menurut Al Masir, cahaya merah itu kontras dengan gelapnya dini hari. Warga sekitar keluar rumah, berdiri dalam diam, menyaksikan nyala yang hidup terang sebelum perlahan meredup.Di tengah kekhawatiran itu, ia hanya bisa menengadahkan tangan.
“Kami hanya bisa berdoa, semoga Allah melindungi kampung kami. Ya Allah, jadikanlah ini sebagai tanda kebesaran-Mu, bukan sebagai musibah yang menghancurkan. Lindungi keluarga kami, jauhkan dari lahar dan abu yang membahayakan, dan kuatkan hati kami menghadapi ujian-Mu.”
Letusan kali ini kembali mengingatkan bahwa Marapi bukan sekadar lanskap indah di ufuk barat. Ia adalah gunung api aktif yang sewaktu-waktu menunjukkan kuasanya. Lahar panas dan material vulkanik dilaporkan mengalir di lereng, sementara abu pekat menyelimuti langit malam.
Namun di tengah kepanikan yang tertahan, ketenangan perlahan dirajut. Aparat dan relawan mulai bergerak memantau situasi. Warga diimbau tetap waspada dan mengikuti arahan pihak berwenang.
Malam itu, tahajud terasa lebih panjang.
Doa-doa melangit bersama pijar yang sempat hidup terang selama setengah jam di kaki langit Marapi. Di antara dentuman dan cahaya merah yang menyala, masyarakat Sumatera Barat kembali belajar: alam bisa menggelegar kapan saja, tetapi iman dan kebersamaanlah yang membuat mereka tetap berdiri.(paulhendri)














