Home / BERITA / BUDAYA / DAERAH / HUKUM / KOTA PADANG PANJANG / NASIONAL / PERISTIWA / SUMBAR

Wednesday, 5 August 2026 - 20:19 WIB

Ketika Teman Menjadi Penyelamat

Di tengah derasnya arus pergaulan dan dunia digital yang kian sulit dikendalikan, Padang Panjang memilih menyiapkan remaja untuk menjaga sesamanya,agar tak kehilangan masa depan sebelum sempat menggapai cita-cita

.Oleh:Paulhendri (Wartawan)

PadangPanjang.Sinyalnews.com—Tidak semua remaja yang tersenyum sedang baik-baik saja.

Di balik seragam sekolah yang rapi, tawa di ruang kelas, dan unggahan ceria di media sosial, banyak anak muda sedang memikul beban yang tak mampu mereka ceritakan kepada siapa pun. Ada yang menjadi korban perundungan, terjebak dalam tekanan pergaulan, kecanduan media sosial, kehilangan arah, bahkan perlahan terseret pada perilaku yang berujung pada persoalan hukum.

Ironisnya, banyak dari mereka memilih diam.
Bukan karena tidak ingin ditolong, melainkan karena tidak tahu kepada siapa harus bercerita.

Kegelisahan itulah yang kini menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Padang Panjang. Di tengah kekhawatiran terhadap semakin kompleksnya persoalan remaja, pemerintah mencoba menghadirkan solusi dari lingkungan yang paling dekat dengan mereka: teman sebaya.

Sebanyak 25?pelajar tingkat SLTA se-Kota Padang Panjang mengikuti Pelatihan Konseling Remaja di Aula Kantor Camat Padang Panjang Barat, Rabu (5/8/2026). Mereka tidak sekadar mengikuti pelatihan biasa, tetapi dipersiapkan menjadi konselor sebaya—remaja yang mampu mendengar, memahami, dan menjadi tempat pertama bagi temannya yang sedang menghadapi persoalan.

Kegiatan yang diselenggarakan Kelurahan Pasar Usang tersebut menghadirkan Ketua TP-PKK Kota Padang Panjang, Ny. Maria Feronika Hendri Arnis, dengan materi “Konseling Remaja: Bimbingan dan Dukungan Psikologis untuk Menghadapi Masa Transisi.” Sementara dari sisi hukum, peserta mendapat pembekalan dari Advokat Muhammad Nur Idris, mantan Anggota DPRD Kota Bukittinggi dua periode, melalui materi “Konseling Remaja dalam Perspektif Hukum.”

Bagi Maria Feronika, masa remaja adalah persimpangan kehidupan. Pada fase itulah seseorang mulai membentuk karakter, menentukan jati diri, sekaligus menghadapi godaan yang tidak ringan.

Jika dahulu tantangan remaja sebatas lingkungan bermain, kini ancamannya jauh lebih rumit. Media sosial menghadirkan tekanan tanpa batas, pergaulan bebas semakin mudah dijangkau, penyalahgunaan narkoba terus mengintai, sementara persoalan kesehatan mental kian banyak ditemukan pada usia sekolah.

Baca Juga :  Rendang JMK, Menembus Mancanegara

Ia mengaku kekhawatiran itu bukan sekadar data statistik, tetapi kenyataan yang perlahan hadir di tengah kehidupan masyarakat.

“Remaja adalah tunas muda harapan bangsa. Jangan sampai mereka kehilangan masa depan hanya karena salah memilih lingkungan atau tidak memiliki tempat untuk berbagi ketika menghadapi persoalan. Mereka membutuhkan seseorang yang mau mendengar sebelum semuanya terlambat,” kata Maria.

Menurutnya, tidak semua persoalan mampu disampaikan seorang anak kepada orang tua ataupun guru. Justru teman sebayalah yang sering menjadi orang pertama mengetahui perubahan sikap, kesedihan, atau kegelisahan yang dialami seorang remaja.

Karena itu, kehadiran konselor sebaya bukan sekadar pelengkap kegiatan sekolah, melainkan benteng awal untuk mencegah berbagai persoalan berkembang menjadi krisis.

“Teman yang baik bukan yang membiarkan sahabatnya berjalan ke arah yang salah, tetapi yang berani merangkul, mendengarkan, menguatkan, lalu mengajaknya kembali ke jalan yang benar. Remaja harus menjadi agen perubahan yang membawa pengaruh positif di sekolah maupun di masyarakat,” ujarnya.

Pesan itu menggema di ruang pelatihan yang dipenuhi diskusi hangat. Para peserta belajar memahami dasar-dasar konseling, komunikasi efektif, membangun empati, hingga bagaimana memberikan respons yang tepat ketika seorang teman datang membawa persoalan.

Namun, pelatihan itu tidak hanya berbicara tentang empati.
Di hadapan para pelajar, Advokat Muhammad Nur Idris mengingatkan bahwa banyak kasus hukum yang melibatkan remaja justru bermula dari tindakan yang dianggap biasa.

Bullying, penyebaran konten yang merendahkan orang lain, ujaran kebencian, tawuran, hingga penyalahgunaan media sosial, menurutnya, sering dilakukan tanpa kesadaran bahwa semua itu memiliki konsekuensi hukum.

“Jangan pernah berpikir usia muda membuat seseorang kebal terhadap hukum. Setiap tindakan memiliki konsekuensi. Sekali terjerat persoalan hukum, bukan hanya nama baik yang dipertaruhkan, tetapi juga cita-cita dan masa depan,” tegas Nur Idris.

Baca Juga :  Penyerahan BLT-DD Alokasi Oktober- November tahun 2023 Diwilayah Kecamatan Maos

Ia mengajak para pelajar untuk menjadikan hukum sebagai kompas moral, bukan sekadar aturan yang ditakuti.

“Keberanian terbesar seorang remaja bukan mengikuti arus pergaulan, tetapi berani berkata tidak pada bullying, narkoba, kekerasan, tawuran, dan penyalahgunaan media sosial. Jangan biarkan satu kesalahan merampas masa depan yang telah kalian impikan sejak kecil,” katanya.

Suasana pelatihan berlangsung hidup. Satu demi satu peserta mengangkat tangan, bertanya, berdiskusi, bahkan berbagi pengalaman mengenai persoalan yang mereka jumpai di sekolah maupun di dunia digital. Dari perundungan, tekanan teman sebaya, hingga keresahan menghadapi kehidupan yang semakin kompetitif.

Di ruangan itu, pelajaran paling penting ternyata bukan tentang teori konseling ataupun pasal-pasal hukum.

Melainkan tentang kepedulian.

Bahwa terkadang, satu kalimat sederhana, “Apa kamu baik-baik saja?”, mampu menyelamatkan seseorang dari keputusan terburuk dalam hidupnya.

Kegiatan yang dibuka Camat Padang Panjang Barat, Romi Ar Rahman, itu diharapkan melahirkan generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki empati, kesadaran hukum, keberanian menjaga sesama, serta karakter yang kuat.

Sebab di tengah dunia yang semakin bising oleh informasi, tantangan terbesar bukan lagi sekadar mencetak anak-anak yang cerdas.

Melainkan memastikan mereka tetap menjadi manusia yang peduli.

Karena masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh nilai rapor atau prestasi di atas panggung, tetapi juga oleh seberapa banyak anak muda yang bersedia menjadi cahaya bagi temannya yang mulai kehilangan arah.

Dan dari sebuah aula sederhana di Padang Panjang, harapan itu mulai ditanam. Bukan dengan kemewahan, melainkan dengan keyakinan bahwa ketika seorang remaja mampu menyelamatkan satu temannya, sesungguhnya ia sedang ikut menyelamatkan masa depan sebuah generasi.(**)

Share :

Baca Juga

BERITA

Menhan Prabowo Resmikan 12 Sumber Titik Air di Pamekasan Madura, Jawa Timur  

SEPAK BOLA

Gustami Hidayat Buka Pelatihan Pelatih Tenis Meja se Sumbar  

ARTIKEL

Disperindag Sumbar Gelar Bimtek Digital Marketing bagi Pelaku Usaha

ARTIKEL

Miko Kamal pada Peradi Goes to School ke 21: Orang yang Punya Empati Tinggi Pasti Tidak Akan Melanggar Hukum

ARTIKEL

Fenomena Sritex Tutup dan PHK Ribuan Karyawan

ARTIKEL

Panglima TNI Kunjungan ke MUI Bahas Masalah Keagamaan dan Palestina

ARTIKEL

Babinsa Koramil 07/Maos Laksanakan Kegiatan MPLS

BERITA

Babinsa Kemojing Hadiri Rapat Pembentukan Panitia HUT RI Ke 78