PADANG, Sinyalnews.com – Target Indonesia mengakhiri epidemi Tuberkulosis (TB) pada 2030 membutuhkan kerja bersama lintas sektor. Pemerintah menegaskan penanggulangan TB tidak bisa hanya mengandalkan Kementerian Kesehatan, tetapi harus melibatkan organisasi profesi, perguruan tinggi, lembaga riset, dunia industri hingga masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Kesehatan RI, Dr. Benjamin Paulus Octavianus, saat membuka Konferensi Kerja (Konker) PDPI ke-XVIII di The ZHM Premiere Hotel, Padang, Jumat (18/9/2026).
Benjamin mengatakan pencegahan dan pengobatan TB merupakan salah satu tugas penting yang diberikan Presiden Prabowo kepada pemerintah. TB merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dan dapat berakibat fatal apabila tidak ditangani secara tepat.
“Untuk mengakhiri epidemi TB ini agar Indonesia terbebas dari TB, pemerintah tidak bisa sendiri, tetapi harus melibatkan banyak pihak dan lintas sektor,” ujar Benjamin.
Menurutnya, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) memiliki posisi strategis dalam mendukung percepatan eliminasi TB, terutama melalui kontribusi keilmuan, standar klinis, pendidikan serta penguatan jejaring profesional.
Selain organisasi profesi, pemerintah juga mendorong perguruan tinggi untuk berperan dalam riset, inovasi, pengembangan sumber daya manusia dan pengabdian kepada masyarakat.
Sementara itu, BRIN diharapkan mampu menghasilkan berbagai riset dan inovasi berbasis sains, termasuk vaksin, diagnostik, obat-obatan dan teknologi yang dapat mendukung penanggulangan TB.
“Dari sisi industri, kontribusinya diharapkan melalui produk kesehatan, memperkuat produksi dan distribusi, serta mendorong ketersediaan yang berkelanjutan,” katanya.
Benjamin menegaskan Kementerian Kesehatan tetap menjadi leading sector dalam implementasi program nasional.
“Kemenkes sendiri akan memimpin implementasi program, penguatan layanan, deteksi, pengobatan dan pencapaian target eliminasi TB nasional,” jelasnya.
Konker PDPI Diikuti 1.349 Dokter Paru
Konker PDPI ke-XVIII diikuti 1.349 dokter paru dari seluruh Indonesia. Selain dokter paru, kegiatan tersebut juga dihadiri dokter dari bidang terkait, tenaga kesehatan, akademisi, peneliti, peserta didik dan unsur lainnya.
Ketua Panitia Konker PDPI ke-XVIII, Dr. Oea Khairsyaf, mengatakan kegiatan mengusung tema “Expanding Horizons in Every Breath”.
Rangkaian kegiatan berlangsung sejak Rabu (16/9/2026) hingga Sabtu (19/9/2026), meliputi forum ilmiah, workshop, simposium serta kegiatan pengabdian masyarakat.
Untuk pengabdian masyarakat, PDPI melaksanakan Cek Kesehatan Gratis (CKG) selama dua hari. Kegiatan pertama berlangsung Kamis (17/9/2026) di Puskesmas Pauh Padang dan dilanjutkan Jumat (18/9/2026) di Kantor Camat Lubuk Begalung.
“Kegiatan ini melibatkan 300 warga yang mengikuti pemeriksaan kesehatan, edukasi kesehatan dan skrining TB. Pelaksanaan CKG ini merupakan kerja sama PDPI dengan Pemprov Sumbar dan Pemko Padang,” ujar Oea.
Hadir dalam pembukaan Konker tersebut Ketua Umum PDPI Dr. Arief Riadi Arifin, Ketua Panitia Konker PDPI XVIII Dr. Oea Khairsyaf, Ketua PDPI Sumbar Dr. Masrul Basyar, Direktur RSUP M. Djamil Dr. Dovy Djanas, jajaran IDI Sumbar dan IDI Padang serta sejumlah pejabat dan tenaga kesehatan lainnya.
Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah, didampingi Sekdaprov Sumbar Arry Yuswandi dan Kepala Dinas Kesehatan Sumbar dr. Aklima, turut memberikan sambutan.
PDPI Sumbar: Penanganan TB Harus Menyentuh Akar Persoalan
Ketua PDPI Sumbar, Dr. Masrul Basyar, Sp.P(K), mengatakan persoalan TB di Sumatera Barat membutuhkan penanganan secara menyeluruh.
Ia menyebut Sumatera Barat berada pada peringkat keempat prevalensi kasus TB tertinggi di Indonesia. Karena itu, PDPI Sumbar berkomitmen membantu percepatan eliminasi TB dengan menggandeng berbagai pihak.
Menurut Masrul, penanganan TB tidak cukup hanya dengan memberikan pengobatan kepada pasien yang telah terdiagnosis. Faktor gizi, lingkungan tempat tinggal dan perilaku masyarakat juga perlu menjadi perhatian.
“Penyebaran TB itu berkaitan dengan malnutrisi atau kekurangan gizi, kondisi tempat tinggal seperti padat penduduk dan kumuh, ventilasi dan cahaya matahari yang kurang, serta perilaku hidup yang tidak sehat seperti kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol jangka panjang,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya melakukan pemeriksaan terhadap orang yang memiliki kontak erat dengan penderita TB, khususnya anggota keluarga yang tinggal serumah.
Menurutnya, orang yang terinfeksi kuman TB dapat berada dalam kondisi TB laten, yakni belum menunjukkan gejala penyakit aktif. Namun, ketika daya tahan tubuh menurun, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi TB aktif.
“Orang yang pernah kontak dengan penderita TB, terutama yang tinggal serumah dengan penderita TB, harus segera mendapat penanganan dengan melakukan pengecekan, sebab mereka berpotensi menjadi orang yang turut menyebarkan kuman TB di kemudian hari,” katanya.
Karena itu, upaya eliminasi TB membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, mulai dari pencegahan, penemuan kasus, pemeriksaan kontak erat, pengobatan hingga perbaikan faktor lingkungan dan perilaku masyarakat.
(*)














