Home / BERITA / BUDAYA / DAERAH / KOTA PADANG PANJANG / NASIONAL / PENDIDIKAN / SUMBAR / UMKM

Wednesday, 3 June 2026 - 23:31 WIB

Ketika Kepala Perpusnas Menyentuh Naskah-Naskah Tua Minangkabau, Ada Pertanyaan Besar yang Menggema: Masihkah Kita Mau Membaca Masa Lalu untuk Menata Masa Depan?

PadangPanjang.Sinyalnews.com — Di tengah deretan foto tokoh bangsa, lembaran arsip yang mulai menua, dan jejak panjang peradaban Minangkabau yang tersimpan rapi di Museum Bustanul Arifin PDIKM, suasana Rabu (3/6/2026) siang itu terasa lebih dari sekadar kunjungan kerja.

Langkah Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Endang Aminudin Aziz, yang menyusuri ruang demi ruang museum seakan membawa pesan yang lebih dalam: sebuah bangsa tidak akan pernah kehilangan arah selama ia masih menjaga ingatan kolektifnya.

Di hadapan koleksi-koleksi bersejarah yang menjadi saksi perjalanan Minangkabau, Endang tidak hanya melihat benda-benda lama yang tersimpan di balik kaca. Ia melihat peluang. Ia melihat masa depan.

Sebab di balik setiap manuskrip tua, foto usang, dan dokumentasi sejarah yang tersimpan di kawasan Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM), tersimpan modal besar yang belum sepenuhnya dimanfaatkan: literasi.

“Kawasan seperti ini jangan hanya menjadi tempat menyimpan sejarah. Ia harus hidup, harus produktif, dan harus menjadi ruang yang melahirkan gagasan-gagasan baru,” kata Endang saat berdiskusi dengan Wakil Wali Kota Padang Panjang Allex Saputra dan jajaran pemerintah daerah.

Pernyataan itu terasa seperti alarm yang mengetuk kesadaran bersama.
Sebab selama ini, banyak museum dan pusat dokumentasi budaya di Indonesia kerap terjebak menjadi ruang sunyi. Koleksinya berharga, tetapi sepi pengunjung. Arsipnya luar biasa, tetapi jarang dibaca. Sejarahnya kaya, tetapi perlahan menjauh dari generasi muda.

Padahal, menurut Endang, museum dan pusat dokumentasi budaya dapat menjelma menjadi pusat peradaban baru apabila dihidupkan dengan aktivitas literasi yang berkelanjutan.

Diskusi buku, bedah karya, pelatihan menulis, kelas budaya, pameran edukatif, hingga ruang berkumpul komunitas menjadi cara agar bangunan-bangunan penyimpan sejarah itu kembali bernapas dan dekat dengan masyarakat.

Di sinilah Padang Panjang memiliki peluang besar.

Kota kecil berhawa sejuk yang selama ini dikenal sebagai Kota Literasi itu dinilai memiliki modal sosial dan budaya yang kuat untuk menjadikan PDIKM bukan sekadar etalase masa lalu, melainkan pusat lahirnya gagasan-gagasan masa depan.

Baca Juga :  IPARI Gelar FGD Bersama Lintas Sektoral, Siapkan Ibu Tangguh, Wujudkan Anak Sehat dan Hebat

Perpusnas, kata Endang, bahkan membuka peluang dukungan melalui berbagai program pembiayaan bagi komunitas literasi yang aktif mengembangkan budaya baca masyarakat.

Bagi Padang Panjang, dukungan tersebut datang pada momentum yang tepat.

Di tengah derasnya arus informasi digital yang sering membuat masyarakat lebih sibuk menggulir layar daripada membuka buku, keberadaan ruang-ruang literasi menjadi semakin penting. Bukan sekadar untuk meningkatkan minat baca, tetapi juga menjaga identitas budaya agar tidak tergerus zaman.

Wakil Wali Kota Padang Panjang Allex Saputra menyambut optimisme itu dengan penuh antusias.

Menurutnya, PDIKM tidak boleh hanya menjadi tempat menyimpan jejak kejayaan masa lalu Minangkabau. Kawasan ini harus menjadi ruang hidup yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat hari ini.

“Keberadaan PDIKM harus menjadi ruang yang produktif dan edukatif. Semakin banyak kegiatan yang dilakukan di sini, semakin besar dampaknya bagi masyarakat, budaya, dan pariwisata daerah,” ujarnya.

Pernyataan itu menyimpan harapan besar.

Bahwa suatu hari nanti, anak-anak muda Padang Panjang tidak hanya datang ke PDIKM untuk melihat koleksi sejarah yang terpajang di dinding. Mereka datang untuk berdiskusi, membaca, menulis, berdebat tentang ide, menggali akar budayanya, lalu pulang membawa mimpi yang lebih besar.

Karena sesungguhnya, sebuah kota tidak hanya dibangun oleh jalan yang mulus atau gedung yang megah.
Ia dibangun oleh manusia-manusia yang gemar membaca, berpikir, dan memahami sejarahnya sendiri.

Dan siang itu, di antara lembaran arsip tua yang tersimpan di Museum Bustanul Arifin, harapan tentang masa depan literasi Minangkabau kembali menemukan nyalanya. Sebuah nyala yang mengingatkan bahwa peradaban besar selalu lahir dari mereka yang tidak pernah berhenti

Baca Juga :  Arisan IBaP Jambak Sungai Sapih Gotong Royong Bersihkan Makan Keluarga Menyambut Bulan Suci Ramadhan 1444H

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Padang Panjang,Syupriyanto , menilai kunjungan Kepala Perpustakaan Nasional RI ke Museum Bustanul Arifin dan kawasan PDIKM merupakan momentum penting untuk kembali membangkitkan kesadaran masyarakat terhadap nilai sejarah dan literasi budaya.

Menurutnya, tantangan terbesar saat ini bukan sekadar menjaga bangunan museum atau merawat koleksi yang ada, tetapi bagaimana menghadirkan museum sebagai ruang belajar yang hidup bagi generasi muda.

“Pertanyaan yang harus kita jawab bersama hari ini adalah sejauh mana kita rela mengedukasi tunas-tunas muda kita tentang keberadaan museum ini. Jangan sampai mereka lebih mengenal budaya dari layar gawai dibandingkan dari jejak sejarah yang tersimpan di daerahnya sendiri,” ujar Bento pangilan akrabnya ketua PWI

Ia menyampaikan apresiasi atas kunjungan Kepala Perpusnas RI ke kawasan yang dikenal sebagai Minangkabau Village tersebut. Menurutnya, kehadiran pimpinan lembaga perpustakaan tertinggi di Indonesia menjadi sinyal kuat bahwa Padang Panjang memiliki posisi penting dalam pengembangan literasi dan pelestarian kebudayaan nasional.

“Kunjungan ini bukan sekadar kunjungan seremonial. Ini adalah bentuk penghormatan terhadap warisan intelektual dan kebudayaan Minangkabau. Kehadiran Kepala Perpusnas memberikan semangat baru bahwa PDIKM dan Museum Bustanul Arifin dapat berkembang menjadi pusat literasi, pusat kebudayaan, sekaligus ruang tumbuh bagi generasi masa depan,” katanya.

Bento berharap kunjungan tersebut menjadi titik awal lahirnya lebih banyak program kolaboratif yang melibatkan sekolah, komunitas, pegiat literasi, media massa, dan masyarakat luas.

“Museum jangan hanya menjadi tempat menyimpan masa lalu. Museum harus menjadi tempat menciptakan masa depan. Ketika anak-anak mulai datang, membaca, berdiskusi, dan mengenal akar budayanya di tempat ini, maka sesungguhnya kita sedang menanam peradaban yang akan dipanen oleh generasi berikutnya,” tuturnya.(paulhendri)

Share :

Baca Juga

BERITA

Keluarga Pelapor Berterimakasih kepada Kapolda Sumut

DAERAH

Pengelola Humas Kemenag Padang, Zarisman Tanjung Lulus PPPK Tahap 1

ARTIKEL

Kemenag Kota Padang : Jaga Stamina dan Jalin Kebersamaan Rutinkan Senam Sehat Setiap Rabu Pagi

BADAN NEGARA

Lapas Kelas II A Bukittinggi Komit Tingkatkan Kinerja Tahun 2023

BADAN NEGARA

Sidak PT.Bakapindo Tim Gabungan, Temukan Izin Ganda Objek yang Sama

BERITA

Buntut Penemuan Mayat di Tritih Kulon Ditetapkan 4 Tersangka Pengeroyokan dan 7 Orang Tersangka Karena Membawa Sajam

BERITA

SMK Kab.Bengkalis Raih 3 juara di Lomba Cerdas Cermat Budaya Melayu Th.2023

BERITA

Sempat Kejar-kejaran dengan Pemiliknya, Pencuri Sepeda Motor Berakhir Ditangkap Tim Resmob Polres Pekalongan