PadangPanjang.Sinyalnews.com-Keputusan PSSI menggugurkan PSPP Padang Panjang dari putaran nasional Liga 4 memantik kemarahan besar di Kota Padang Panjang. Bukan hanya manajemen dan pemain yang terpukul, publik pun menilai ada ketidakjelasan dalam sistem penentuan tim lolos nasional.
PSPP resmi melayangkan surat keberatan kepada Ketua Umum PSSI tertanggal 13 Mei 2026. Dalam surat itu, PSPP mempertanyakan formula koefisien dan mekanisme penentuan 64 tim nasional yang dinilai tidak transparan.
Kemarahan itu bukan tanpa alasan. Tim berjuluk Laskar Serambi Mekah tersebut harus menjalani kompetisi berat di Sumatera Barat dengan total 12 pertandingan hingga final. Namun ironisnya, di sejumlah provinsi lain, ada tim yang tetap mendapatkan tiket nasional hanya dengan memainkan 4 hingga 7 pertandingan.
Padang Panjang pun meledak. Banyak yang menilai PSPP tersingkir bukan karena kalah kualitas, melainkan kalah oleh sistem yang dianggap tidak adil.
Ketua Umum PSPP Padang Panjang, Irsyad Hanif, menegaskan pihaknya tidak meminta belas kasihan, melainkan kejelasan dan keadilan.
“Kami bertanding dengan keringat, tenaga dan biaya besar. Anak-anak berjuang di lapangan dengan penuh pengorbanan. Kalau akhirnya digugurkan karena hitung-hitungan yang tidak pernah dijelaskan secara terbuka, tentu ini menyakitkan. Kami hanya ingin keadilan ditegakkan,” tegas Irsyad.
Kekecewaan paling dalam justru datang dari para pemain. Sebab, skuad PSPP sebenarnya telah menjalani pemusatan latihan sejak pertengahan April demi menghadapi putaran nasional.
Pemain PSPP, Ibnu Mareza, mengaku terpukul atas keputusan tersebut. Ia menyebut seluruh pemain telah mengorbankan waktu, tenaga bahkan pekerjaan demi membawa nama Padang Panjang di pentas nasional.
“Kami sudah TC, latihan keras hampir setiap hari. Banyak pemain meninggalkan pekerjaan dan keluarga demi fokus membela PSPP. Rasanya sakit kalau perjuangan itu berhenti bukan karena kalah bertanding, tapi karena keputusan yang kami sendiri tidak paham dasar perhitungannya,” ungkap Ibnu dengan nada kecewa.
Sebelumnya, Pelatih Kepala PSPP, Dian Rama Saputra, telah menyusun tim secara serius dan selektif untuk menghadapi putaran nasional.
PSPP mempertahankan sejumlah pilar utama seperti Ivan Fadilah, Syaiful Ramadhan, Ibnu Mareza, Bima Lesmana, Dimas Adi Putra, Rori Pranandi hingga striker andalan Jojo Rahmat Dwi. Tim juga diperkuat Samsul Arifin di bawah mistar, serta tambahan pemain seperti Raj Vireen, Muhammad Fadhil, Ikhsan Saifulah, Fajar Ginting, Alfiano, Ridwan dan striker senior Hanif.
Sebagian besar pemain bahkan sudah mengikuti sesi latihan intensif di GOR Khatib Sulaiman Bancalaweh demi membangun chemistry dan kesiapan menuju putaran nasional.
Namun semua persiapan itu kini seperti runtuh dalam sekejap.
Wali Kota Padang Panjang, Hendri Arnis, meminta PSSI memberikan penjelasan terbuka agar polemik ini tidak melukai semangat pembinaan sepak bola daerah.
“Anak-anak ini sudah berjuang membawa nama daerah. Jangan sampai semangat mereka dipatahkan oleh sistem yang tidak transparan. Sepak bola harus menjunjung sportivitas dan rasa keadilan,” ujar Hendri Arnis.
Nada lebih keras disampaikan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia, Supriyanto. Ia menilai polemik ini menjadi tamparan bagi wajah sepak bola nasional.
“Publik bisa menerima kekalahan di lapangan. Tapi publik sulit menerima ketika tim yang bertanding lebih banyak, berjuang lebih panjang, justru tersingkir oleh rumus yang tidak transparan. Kalau begini caranya, jangan salahkan masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap tata kelola sepak bola nasional,” tegas Supriyanto.
Kini, gugurnya PSPP bukan lagi sekadar kabar olahraga. Di Padang Panjang, ini telah berubah menjadi simbol kekecewaan masyarakat terhadap sistem yang dianggap mengubur perjuangan anak daerah sebelum pluit pertandingan nasional benar -benar di tiup .(Paulhendri)














