Padang,Sinyalnews,com- Perjalanan itu bukan sekadar jarak. Sekitar 95 kilometer dari Bukittinggi menuju Padang ditempuh bukan hanya dengan kendaraan, tetapi dengan tekad yang belum padam sejak kekalahan terakhir. Tim Vella datang membawa satu kalimat yang sederhana, tetapi menggigit: Veni, vidi, vici, kami datang, kami melihat, kami menang.
Di arena Oracle Biliar Padang, kalimat itu bukan sekadar slogan. Ia menjelma jadi tekanan, jadi energi, dan akhirnya menjadi kemenangan. Beberapa hari sebelumnya, luka itu masih segar. Di Osama Biliar Padang Panjang, dua atlet binaan Vella pulang tanpa mahkota. Alfin terhenti di 8 besar. Naoufal gagal menyentuh puncak (Runner up) Kekalahan itu menyisakan sunyi dan pertanyaan.
Namun, Rabu malam, 6 Mei 2026, sunyi itu dijawab dengan cara paling lantang: kemenangan.
Alfin Vella tampil seperti pemain yang selesai berdamai dengan kegagalannya. Setiap pukulan terasa terukur, dingin, dan penuh keyakinan. Di semifinal, ia mengunci kemenangan atas Fikri dengan skor 6–3, tanpa memberi celah untuk drama.
Di meja lain, Fajri memastikan langkah ke final setelah menumbangkan Rian Tamy 6–4 dalam laga yang lebih keras, lebih berisik, dan penuh tekanan.
Final pun mempertemukan dua energi berbeda, Alfin yang stabil dan Fajri yang agresif.
Namun sejak break pertama, arah pertandingan seperti sudah ditulis. Alfin melesat 4–0. Tidak banyak ekspresi, tidak ada selebrasi berlebihan, hanya fokus yang tak bergeser.
Fajri sempat mengejar, memperkecil skor menjadi 5–3, memberi sedikit ketegangan di ujung laga.,Tetapi Alfin tidak datang sejauh 95 kilometer untuk menyerahkan cerita. Satu pukulan terakhir menutup semuanya: 6–3. Meja hijau menjadi saksi, bahwa kemenangan bukan soal siapa yang paling berbakat, tetapi siapa yang paling siap bangkit.
Ketua POBSI Bukittinggi, Yuyatno, yang juga membina para atlet Vella, menyebut kemenangan ini sebagai jawaban dari proses panjang.
“Ini bukan kebetulan. Ini hasil dari kegagalan yang tidak mereka sia-siakan. Alfin bermain dengan kepala dingin dan hati yang panas. Itu kombinasi yang tidak semua atlet punya,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Pelaksana turnamen Iwan Wijaya menilai laga final sebagai potret utuh dari karakter seorang atlet.
“Yang kita lihat malam ini bukan hanya teknik. Ini soal mental. Bagaimana pemain mengubah kekalahan menjadi tenaga untuk menang. Itu yang membuat pertandingan ini terasa hidup,” katanya.
Di tengah euforia kemenangan, Fajri, yang harus puas sebagai runner-up, menunjukkan kelasnya. Ia tak menutup kekecewaan, tetapi juga tak menafikan keunggulan lawan. “Alfin memang pantas jadi juara malam ini. Dia tampil lebih tenang dan konsisten. Saya sempat mencoba mengejar, tapi dia tidak memberi banyak celah. Ini jadi pelajaran besar buat saya untuk kembali lebih kuat,” ujar Fajri.
Hasil akhir turnamen mencatat:
Alfin sebagai juara, Fajri runner-up, serta Rian Tamy dan Fikri sebagai semifinalis.
Bagi tim Vella, perjalanan dari Bukittinggi ke Padang malam itu bukan lagi sekadar angka di peta.
Ia berubah menjadi pernyataan.
Bahwa dalam olahraga,seperti dalam hidup, yang datang dengan tekad, melihat dengan jernih, dan bertarung tanpa ragu, pada akhirnya punya peluang terbesar untuk menang.(Paulhendri)














