Home / BERITA / BUDAYA / DAERAH / KOTA PADANG PANJANG / NASIONAL / PERISTIWA / SUMBAR

Tuesday, 23 December 2025 - 22:17 WIB

Satu Pasar, Dua Daerah, dan Luka yang Tak Dijenguk

Screenshot

Screenshot

PadangPanjang.Sinyalnews.com-Pasar itu bernama Pasar Padang Panjang, tetapi denyutnya adalah Batipuh X Koto. Sejak ratusan tahun lalu, batas administrasi tak pernah mampu memisahkan batin dua wilayah ini. Orang Batipuh berbelanja di Padang Panjang, orang Padang Panjang hidup dari hasil keringat Batipuh. Jika sakit, saling menengok. Jika meninggal, saling menjenguk. Tak ada sekat, selain peta di atas meja birokrasi.

Ketika banjir bandang dan longsor melanda Padang Panjang, duka itu tak berhenti di batas kota. Jembatan Kembar menjadi saksi: Batipuh X Koto ikut terguncang. Di sisi lain, Tanah Datar,khususnya Batipuh Selatan: Malalo, Sumpur, Batu Taba, juga remuk oleh longsor dan banjir bandang. Luka itu sama-sama dalam.

Kini, Padang Panjang telah keluar dari masa tanggap darurat. Perlahan bangkit, mulai memulihkan diri. Tetapi di seberang ikatan sejarahnya, saudaranya masih terbaring sakit. Ironisnya, justru dari yang paling dekat, tak tampak wajah.

Baca Juga :  Kadisbud Sumbar, Tutup Festival Seni Tradisional Sipakrago ke II Tahun 2023

“Kalau hidup bermasyarakat selama ratusan tahun, mestinya kalau sakit saling melihat, kalau meninggal saling menjenguk. Tapi hari ini, kami tak melihat itu dari Pemko Padang Panjang,” ujar Basrizal Dt Pangulu, dengan suara yang menahan kecewa.

Yang paling perih, luka ini menyentuh persoalan batin. Wakil Wali Kota Padang Panjang dikenal luas di Batipuh Selatan, khususnya Malalo. Kampung itu bukan tempat singgah, melainkan kampung kedua baginya setelah Sungai Tarab. Bertahun-tahun ia hidup, mengais rezeki, dan dibesarkan oleh kepercayaan masyarakat Malalo. Ia dicintai, dihormati, bukan hanya dirinya, tapi juga istri dan keluarganya.

Baca Juga :  “Tak Sekadar Takjil: Persit Secata B Rindam I/BB Tebar Kepedulian di Senja Ramadan Padang Panjang.”

Namun hari ini, ketika Malalo porak-poranda oleh banjir bandang dan longsor, nama itu justru hadir dalam keheningan.

“Ironis. Setelah menjadi Wakil Wali Kota, seolah lupa dengan kampung kedua yang pernah memberinya kedudukan dan penghormatan. Sekarang di Malalo, itu bahkan sudah jadi sebutan,” kata Basrizal Dt Pangulu.

Tak ada tuntutan berlebihan. Bukan soal bantuan besar atau seremoni. Yang dirindukan adalah kehadiran,sekadar melihat, menyapa, dan mengakui bahwa luka ini juga luka bersama.

Sebab hubungan Padang Panjang dan Batipuh X Koto tak pernah dibangun oleh APBD atau SK jabatan. Ia dibangun oleh sejarah, darah, dan rasa. Dan dalam adat Minangkabau, lupa pada asal-usul adalah kehilangan yang paling memalukan.(Paulhendri)

Share :

Baca Juga

BERITA

Babinkamtimas Riski Amelia lakukan Pembinaan terhadap Kaum Pemuda.

BERITA

Di Antara Kayuhan dan Harapan.UMKM Menyala di Gowes Fun Adventure Padang Panjang

BADAN NEGARA

Disperindag Sumbar Gelar Pelatihan Teknis Peningkatan Mutu Minyak Atsiri

ARTIKEL

Subsatgas Penyelundupan TNI Gagalkan Penyelundupan Miras Ilegal di Perbatasan Indonesia-Malaysia

BADAN NEGARA

Dandim 1710/Mimika Sambut Kunker Waasops Kasad Bidang Siapsat

ARTIKEL

Gandeng MUI Dan BAZNAS, Kemenag Berikan Pembinaan Muallaf Se Kota Padang

BERITA

Dandim dan Kapolres Kebumen Tanam Mangrove di Pesisir Mirit 

BERITA

Diduga Ada Praktek Kolusi dan Korupsi Terjadi Antara Penegak Hukum, Pemerintah dan PT. Bakapindo