Tindasan Pena Rubrik Cahaya Ilmu
Penulis: Darman Shiddiq
Cahaya Ilmu – Ada kalanya kehidupan membawa seorang hamba pada keadaan yang tidak sesuai dengan harapan. Doa belum terjawab, usaha belum membuahkan hasil, persoalan datang silih berganti, bahkan terkadang hati bertanya, “Mengapa Allah belum memberikan apa yang aku harapkan?”
Di saat seperti itulah seorang mukmin perlu menjaga prasangkanya kepada Allah.
Allah Ta’ala berfirman dalam hadis qudsi:
“Aku sesuai dengan sangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Husnuzan kepada Allah
Berbaik sangka kepada Allah atau husnuzan billah berarti meyakini bahwa Allah memiliki sifat-sifat kesempurnaan: Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, Maha Mengampuni, dan tidak pernah menzalimi hamba-Nya.
Apa yang menurut manusia baik, belum tentu baik menurut Allah. Sebaliknya, sesuatu yang tidak disukai manusia bisa saja mengandung kebaikan yang besar.
Allah mengingatkan:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)
Karena itu, ketika doa belum dikabulkan sebagaimana yang kita inginkan, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Allah tidak mendengar.
Allah mendengar.
Allah mengetahui.
Allah mengatur.
Hanya saja, jawaban Allah tidak selalu datang dalam bentuk yang kita harapkan.
Sangkaan yang Baik Harus Disertai Amal
Husnuzan kepada Allah bukan berarti seseorang boleh meninggalkan ikhtiar.
Mengatakan, “Saya yakin Allah akan menolong saya,” harus dibuktikan dengan usaha, doa, kesabaran, dan ketaatan.
Seorang yang sakit tetap berobat sambil berharap kepada Allah.
Seorang yang sedang mencari rezeki tetap bekerja sambil meyakini bahwa rezekinya berada dalam ketetapan Allah.
Seorang yang menghadapi persoalan tetap mencari jalan keluar sambil menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.
Inilah keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal.
Allah berfirman:
“Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”
(QS. Ali ‘Imran: 159)
Jangan Berputus Asa dari Rahmat Allah
Salah satu bentuk buruk sangka kepada Allah adalah merasa bahwa dosa kita terlalu besar untuk diampuni atau masalah kita terlalu berat untuk mendapatkan jalan keluar.
Padahal Allah berfirman:
“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Az-Zumar: 53)
Ayat ini mengajarkan bahwa pintu harapan kepada Allah tidak boleh ditutup oleh seorang hamba.
Sebesar apa pun dosa, jangan tinggalkan taubat.
Sebesar apa pun masalah, jangan tinggalkan doa.
Seberat apa pun ujian, jangan tinggalkan kesabaran.
Dan sepanjang apa pun perjalanan hidup, jangan tinggalkan Allah.
Ketika Allah Menunda
Terkadang kita mengira bahwa tertundanya sesuatu adalah tanda Allah tidak memberikan perhatian.
Padahal bisa jadi penundaan itu adalah bentuk penjagaan.
Kita meminta sesuatu, tetapi Allah mengetahui bahwa waktunya belum tepat.
Kita menginginkan seseorang, tetapi Allah mengetahui bahwa orang tersebut bukan yang terbaik bagi kita.
Kita mengejar suatu jalan, tetapi Allah mengarahkan kita kepada jalan yang berbeda.
Maka seorang mukmin belajar berkata:
“Ya Allah, aku meminta apa yang kuinginkan, tetapi aku menerima apa yang Engkau tetapkan, karena Engkau lebih mengetahui apa yang terbaik bagiku.”
Inilah salah satu bentuk kedewasaan iman.
Sangkaan Baik Melahirkan Keteguhan
Orang yang memiliki husnuzan kepada Allah tidak berarti hidupnya selalu mudah.
Ia tetap bisa menangis.
Ia tetap bisa kecewa.
Ia tetap bisa merasa lelah.
Namun ia tidak membiarkan kesulitan membuatnya berburuk sangka kepada Allah.
Ketika jatuh, ia bangkit.
Ketika gagal, ia belajar.
Ketika kehilangan, ia bersabar.
Ketika doa belum terjawab, ia tetap berdoa.
Karena ia yakin bahwa Allah tidak pernah sia-sia dalam menetapkan sesuatu.
Sebagaimana firman Allah:
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.”
(QS. At-Talaq: 2–3)
Penutup
Maka, jagalah sangkaan kita kepada Allah.
Jangan menilai kasih sayang Allah hanya dari apa yang kita dapatkan hari ini.
Jangan mengukur pertolongan Allah hanya dari cepat atau lambatnya sebuah doa dikabulkan.
Teruslah berdoa, berusaha, bertawakal, dan bersabar.
Sebab seorang hamba tidak pernah rugi ketika menggantungkan harapannya kepada Allah.
“Aku sesuai dengan sangkaan hamba-Ku kepada-Ku.”
Maka hadirkan dalam hati sangkaan yang baik kepada Allah, tetapi buktikan dengan amal yang baik.
Allah tidak pernah menyia-nyiakan hamba yang berharap kepada-Nya.
Penulis: Darman Shiddiq
Tindasan Pena Rubrik Cahaya Ilmu














