Bukittinggi.Sinyalnews.com— Ketika piala itu diserahkan, tepuk tangan pecah di arena Wirakarya Jambore Kader PKK Berprestasi ke-XXII Tingkat Provinsi Sumatera Barat.
Di tengah para kader yang menyambut kemenangan, Maria Feronika Hendri tampak menahan haru.
Namun, air mata akhirnya berbicara.
Ketua TP-PKK Kota Padang Panjang itu menerima sebuah kemenangan yang tidak datang tiba-tiba. Di balik piala Juara Umum Gerakan PKK dan Dasa Wisma yang kini berada di hadapannya, tersimpan perjalanan panjang, kerja para kader, serta sebuah sejarah yang pernah ditulis sebelas tahun silam.
Padang Panjang kembali menjadi juara umum.
Bagi Maria Feronika, kemenangan di Bukittinggi, Rabu (2/9/2026), memiliki makna yang lebih dari sekadar hasil sebuah perlombaan.

Tahun 2015, dalam Jambore PKK di Kayu Tanam, Padang Panjang juga pernah berdiri sebagai juara umum. Ketika itu, Maria Feronika telah menjadi bagian dari perjalanan gerakan PKK kota tersebut.
Waktu kemudian berjalan.
Kepemimpinan berganti. Para kader pun datang dan tumbuh bersama generasinya masing-masing. Maria Feronika sempat menjalani masa lima tahun tidak mengemban amanah sebagai Ketua TP-PKK.
Namun, perjalanan itu kembali menemukan babaknya.
Ketika Hendri Arnis kembali memimpin Kota Padang Panjang untuk periode 2025–2030, Maria Feronika kembali mengemban amanah sebagai Ketua TP-PKK.
Ia kembali bersama para kader.
Kembali ke ruang-ruang pembinaan keluarga.
Kembali menyusun program.
Kembali mempersiapkan sebuah kontingen untuk membawa nama Padang Panjang ke tingkat provinsi.
Dan sebelas tahun setelah kemenangan di Kayu Tanam, Padang Panjang kembali berdiri di tempat tertinggi.
Kali ini di Bukittinggi.
Sebelum sampai pada pengumuman juara umum, kontingen TP-PKK Kota Padang Panjang lebih dahulu menjalani hari yang padat.

Dalam satu hari, mereka mengikuti tiga cabang perlombaan secara maraton.
Penampilan pertama berlangsung dalam Lomba Bermain Peran atau Drama di Panggung Utama Istana Bung Hatta.
Para kader membawa persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat,sanitasi dan perilaku hidup bersih.
Melalui cerita dan dialog, mereka mengangkat program Pokja IV tentang lima pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat atau STBM.
Pesan yang pada mulanya terdengar sebagai program teknis itu diolah menjadi sebuah pertunjukan. Penonton tidak hanya menyaksikan para peserta memainkan peran, tetapi juga menerima pesan tentang pentingnya perubahan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Usai dari panggung drama, perjuangan belum selesai.
Kontingen Padang Panjang melanjutkan penampilan pada Lomba Cakap Gelari Pelangi, bagian dari Gerakan Keluarga Indonesia dalam Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Pengelolaan Ekonomi.
Pokja II membawa materi tentang penguatan ekonomi keluarga melalui Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga atau UP2K, serta pentingnya meningkatkan literasi.
Gagasan itu disampaikan dengan pendekatan yang membumi.
Bahwa ketahanan keluarga tidak hanya berbicara tentang pendapatan, tetapi juga kemampuan membangun pengetahuan dan mengelola potensi yang ada.
Dari sana, para kader kembali berpindah ke arena berikutnya.
Pada Lomba Kampanye Pengelolaan Sampah Rumah Tangga, Pokja III Padang Panjang mengangkat persoalan yang hampir setiap hari hadir di rumah-rumah masyarakat.
Sampah.
Pesan yang mereka bawa sederhana, pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya.
Dari rumah.
Dari kebiasaan memilah.
Dari kesadaran bahwa persoalan lingkungan tidak selalu harus menunggu penanganan dari tempat yang jauh.
Tiga perlombaan dijalani dalam satu hari.
Tenaga terkuras. Konsentrasi diuji. Namun para kader tetap menjaga kepercayaan diri.
Di belakang mereka, dukungan datang dari berbagai pihak.
Wakil Wali Kota Padang Panjang Allex Saputra turut memberikan semangat. Maria Feronika Hendri hadir bersama Staf Ahli PKK Sri Wahyuni Allex, Kepala Dinas Sosial PPKBPPPA Dr. Winarno, jajaran pengurus TP-PKK, dan para kader.
Bagi Maria Feronika, hasil perlombaan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.
Sebelum pengumuman pemenang, ia telah lebih dahulu menyampaikan kebanggaannya terhadap penampilan kontingen.
“Alhamdulillah, penampilan kader kita di tiga perlombaan hari ini luar biasa bagus. Saya sangat mengapresiasi kerja keras, kekompakan, dan rasa percaya diri yang mereka pancarkan di atas panggung. Apa pun hasil akhirnya nanti, yang paling utama adalah mereka telah memberikan performa terbaik untuk nama baik Kota Padang Panjang,” katanya.
Pernyataan itu kemudian menemukan konteksnya ketika pengumuman juara dilakukan.
Nama Padang Panjang disebut berulang kali
Kontingen kota itu keluar sebagai Juara Umum Gerakan PKK dan Dasa Wisma.
Riuh tepuk tangan pun menyambut,
Di balik kemenangan itu terdapat kerja yang tidak seluruhnya terlihat di atas panggung.
Ada proses persiapan yang dijalani para kader. Ada latihan. Ada koordinasi. Ada pula dukungan dari perangkat daerah dan jajaran yang mendampingi kontingen sejak masa persiapan.
Kepala Dinas Sosial PPKBPPPA Kota Padang Panjang, Dr. Winarno, menjadi salah satu unsur yang aktif memberikan dukungan dalam persiapan tersebut.
Sebagai OPD yang berkaitan dengan pembinaan dan kemitraan gerakan PKK, Dinas Sosial PPKBPPPA ikut mendampingi berbagai kebutuhan kontingen.
Kerja seperti itu jarang menjadi bagian utama ketika piala diserahkan.
Padahal, sebuah kemenangan tidak pernah dibangun hanya oleh orang-orang yang berdiri di depan.
Ada banyak kerja yang berlangsung sebelum panggung dibuka.
Maria Feronika memberi arah dan semangat.
Para pengurus menyiapkan kebutuhan.
Kader berlatih dan tampil.
Pemerintah daerah memberikan dukungan.
Perangkat daerah ikut mendampingi.
Ketika nama Padang Panjang diumumkan sebagai juara umum, semua kerja itu seperti bertemu pada satu titik.

Bagi Maria Feronika, Bukittinggi 2026 tentu bukan sekadar tentang kemenangan hari ini.
Ada Kayu Tanam 2015 di belakangnya.
Ada rentang sebelas tahun di antara keduanya.
Ada masa ketika ia tidak lagi berada dalam posisi Ketua TP-PKK.
Dan kini, setelah kembali mengemban amanah tersebut, ia kembali menyaksikan Padang Panjang berdiri sebagai juara umum.
Wajah-wajah di sekelilingnya tentu tidak seluruhnya sama seperti sebelas tahun lalu.
Generasi kader telah berubah.
Tantangan yang dihadapi juga berubah.
Tetapi semangat gerakan PKK tetap bertumpu pada ruang yang sama: keluarga dan masyarakat.
Mungkin itulah yang membuat momen penyerahan piala menjadi begitu emosional.
Air mata Maria Feronika bukan sekadar respons atas sebuah kemenangan.
Di sana ada perjalanan waktu.
Ada kenangan.
Ada kerja panjang yang kembali menemukan hasilnya.
Di tangan para kader, piala juara umum itu menjadi penanda keberhasilan.
Bagi Maria Feronika, mungkin piala itu juga menjadi pengingat bahwa perjalanan sebuah pengabdian tidak selalu lurus.
Kadang ada jeda.
Kadang sebuah amanah harus ditinggalkan.
Namun ketika kesempatan kembali datang, pekerjaan harus dimulai lagi dari awal.
Dan kali ini, perjalanan itu membawa Padang Panjang kembali ke puncak.
Sebelas tahun setelah Kayu Tanam, piala itu kembali pulang.
Bukan karena sejarah mengulang dirinya sendiri.
Melainkan karena di antara dua masa kemenangan itu, selalu ada orang-orang yang memilih bekerja, mempersiapkan diri, dan menjaga keyakinan bahwa Padang Panjang masih mampu berdiri di antara yang terbaik.
Di Bukittinggi, sejarah itu mendapat bab baru.
Dan di antara riuh tepuk tangan serta air mata yang perlahan jatuh, sebuah kota kembali mencatatkan namanya sebagai juara.(paulhendri)














