Sekolah Keluarga Angkatan II Dimulai, Maria Feronika Yakinkan Pengasuhan adalah Investasi Terbesar Sebuah Bangsa
Oleh: Paulhendri(wartawan )
PadangPanjang.Sinyalnews.com — Di tengah padatnya agenda sebagai Ketua TP-PKK Kota Padang Panjang, Ny. Maria Feronika Hendri Arnis masih menyempatkan diri berdiri di hadapan puluhan ibu, bukan sekadar memberi sambutan, tetapi mendengarkan. Mendengar keresahan. Mendengar keluh kesah. Mendengar cerita yang selama ini sering terpendam di balik dinding rumah.
Bagi Maria, membangun sebuah kota tidak selalu dimulai dari jalan yang mulus atau gedung yang megah. Ada pekerjaan yang jauh lebih sunyi, tetapi menentukan masa depan: membangun keluarga.
Sebagai seorang ibu yang membesarkan tiga anak di tengah kesibukan mendampingi berbagai aktivitas sosial dan pemerintahan, ia memahami bahwa menjadi orang tua tidak pernah memiliki buku petunjuk yang sempurna. Setiap anak membawa cerita, setiap keluarga memiliki ujian yang berbeda.
Karena itulah, ketika Sekolah Keluarga Angkatan II Tahun 2026 resmi dibuka di Pendopo Rumah Dinas Wali Kota, Selasa (4/8), Maria hadir bukan hanya sebagai Ketua TP-PKK, melainkan sebagai sesama ibu yang mengerti betapa beratnya perjalanan membesarkan anak di tengah perubahan zaman.
Sebanyak 80 peserta mengikuti program yang dibuka Wakil Wali Kota Allex Saputra itu. Namun, lebih dari sekadar angka peserta, kegiatan tersebut membawa harapan baru bahwa keluarga masih menjadi benteng pertama yang harus diperkuat.
Di hadapan para peserta, Maria berbicara dengan nada yang sederhana, tetapi menyimpan kegelisahan yang mendalam.
Selama berinteraksi dengan kader-kader TP-PKK di berbagai kelurahan, ia mengaku semakin sering menerima cerita dari para ibu yang merasa kelelahan menghadapi persoalan rumah tangga, kesulitan memahami karakter anak, hingga kebingungan mencari tempat untuk berbagi.
Menurutnya, banyak orang tua sesungguhnya ingin menjadi ayah dan ibu yang baik. Hanya saja, tidak semua memiliki kesempatan belajar bagaimana mendidik anak dengan benar.
“Kegiatan ini sangat dibutuhkan oleh ibu-ibu kita. Kami menerima curhat dan aduan dari kader-kader kita. Banyak sekali orang tua yang merasa belum memiliki bekal ilmu parenting yang cukup. Karena itu kami menghadirkan ruang untuk belajar, berbagi pengalaman, sekaligus menjadi tempat bercerita,” ujar Maria.
Kalimat itu lahir bukan dari teori, melainkan dari pengalaman panjang mendampingi masyarakat.
Ia percaya, terkadang seseorang tidak membutuhkan jawaban yang rumit. Cukup ada telinga yang mau mendengar dan ruang yang tidak menghakimi.
Bagi Maria, Sekolah Keluarga bukan sekadar kelas parenting. Ia ingin menjadikannya ruang tumbuh bagi para orang tua, tempat mereka saling menguatkan ketika menghadapi persoalan yang hampir dialami setiap keluarga.
Di balik kesibukannya mengurus berbagai kegiatan sosial, menghadiri rapat, mendampingi agenda pemerintahan, hingga menggerakkan organisasi perempuan, Maria tetap menjalankan peran utamanya sebagai seorang ibu.
Baginya, keberhasilan seorang perempuan tidak diukur dari banyaknya jabatan yang disandang, melainkan dari kemampuannya menjaga keseimbangan antara keluarga dan pengabdian kepada masyarakat.
Ia meyakini, perempuan yang kuat akan melahirkan keluarga yang kuat. Dan keluarga yang kuat akan melahirkan kota yang kuat.
Pandangan itu sejalan dengan pesan Wakil Wali Kota Allex Saputra yang membuka kegiatan tersebut.
Menurut Allex, keluarga adalah sekolah pertama yang membentuk watak seorang anak. Tidak ada guru yang lebih lama membersamai anak selain orang tua.
“Karakter seorang anak tidak akan berkembang tanpa bimbingan orang tuanya. Karena itu kita membutuhkan orang tua yang berkualitas agar mampu melahirkan generasi yang juga berkualitas,” katanya.
Allex juga mengingatkan bahwa menjadi orang tua bukan sekadar memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Pengasuhan membutuhkan pengetahuan, kesabaran, komunikasi, dan kesiapan menghadapi tantangan yang terus berubah.
Karena itu, ia berharap Sekolah Keluarga menjadi ruang belajar yang mampu meningkatkan kapasitas orang tua sekaligus memperkuat ketahanan keluarga di Kota Padang Panjang.
Di tengah derasnya arus digital, meningkatnya tantangan pengasuhan, serta semakin kompleksnya persoalan anak dan remaja, program seperti Sekolah Keluarga menjadi pengingat bahwa investasi terbesar sebuah daerah sesungguhnya bukan hanya pembangunan fisik.
Investasi terbesar adalah manusia.
Dan manusia yang berkualitas lahir dari rumah-rumah yang dipenuhi kasih sayang, komunikasi, serta orang tua yang tidak pernah berhenti belajar.
Di penghujung acara, Maria kembali menegaskan satu hal yang sederhana, tetapi sarat makna.
“Bantuan pemerintah tidak selalu harus berupa sembako atau bantuan materi. Memberikan ilmu, pendampingan, dan ruang untuk belajar bersama seperti Sekolah Keluarga ini juga merupakan bentuk nyata kehadiran pemerintah di tengah masyarakat.Barangkali memang benar, membangun sebuahkota tidak selalu dimulai dengan suara alat berat. Kadang, perubahan besar justru lahir dari sebuah ruangan sederhana yang dipenuhi para ibu, yang memilih belajar agar esok anak-anak mereka tumbuh menjadi manusia yang lebih baik.
Sebab masa depan sebuah bangsa, pada akhirnya, selalu dimulai dari keluarga.(Paulhendri)














