Home / DAERAH / KESEHATAN / KOTA PADANG PANJANG / NASIONAL / PERISTIWA / SUMBAR

Monday, 29 June 2026 - 00:42 WIB

Bukan Sekadar Mengobati, PWI Padang Panjang Sedang Menumbuhkan Ketangguhan Warga

Bukan Sekadar Mengobati, PWI Padang Panjang Sedang Menumbuhkan Ketangguhan Warga

Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap terapi alternatif herbal dan pengobatan alami, PWI Padang Panjang justru memilih berbagi tanpa memungut biaya. Pada peringatan satu abad Gempa Padang Panjang, sentuhan di punggung warga berubah menjadi pesan kemanusiaan: masyarakat yang sehat adalah fondasi masyarakat yang tangguh menghadapi bencana.

PadangPanjang.sinyalnews.com-Di bawah tenda sederhana di Komplek Gedung M. Syafei, Minggu (28/6/2026), tak terdengar riuh pidato maupun seremoni panjang. Yang terdengar justru percakapan hangat, tawa kecil para ibu, dan ucapan syukur dari warga yang satu per satu keluar dari kursi terapi dengan wajah lebih lega.

Di saat terapi kesehatan alternatif dan pengobatan herbal semakin diminati masyarakat Indonesia, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Padang Panjang bersama Komunitas Totok Punggung Indonesia (KTPI) Padang Panjang menghadirkan sesuatu yang sederhana, tetapi bermakna besar: pelayanan terapi Totok Punggung (Topung) secara gratis bagi masyarakat.

Momentum itu sengaja dipilih bertepatan dengan Bulan Mitigasi Satu Abad Gempa Padang Panjang, sebuah refleksi sejarah yang mengingatkan bahwa kesiapsiagaan terhadap bencana bukan hanya soal sirene, jalur evakuasi, atau simulasi penyelamatan.

Lebih dari itu, kesiapsiagaan dimulai dari tubuh yang sehat.

Sejak pagi, puluhan warga berdatangan. Mayoritas merupakan ibu rumah tangga yang datang bersama keluarga maupun tetangga. Mereka rela mengantre demi memperoleh terapi yang selama ini hanya bisa dinikmati dengan biaya puluhan ribu rupiah setiap sesi.

Baca Juga :  Laskar Anti Korupsi Indonesia Berikan Kontribusi Terhadap Pemberantasan Korupsi

Di tengah tren meningkatnya ketertarikan masyarakat terhadap terapi komplementer dan pengobatan alami, langkah PWI Padang Panjang menghadirkan layanan tersebut tanpa dipungut biaya menjadi bentuk nyata pengabdian kepada masyarakat.

Ketua PWI Padang Panjang, Supriyanto  mengatakan bahwa wartawan tidak hanya hadir menyampaikan informasi kepada publik, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial untuk memberi manfaat secara langsung kepada masyarakat.

“Pers tidak hanya bertugas memberitakan persoalan masyarakat, tetapi juga harus hadir menjadi bagian dari solusi. Melalui kolaborasi ini, kami ingin berbagi manfaat. Jika masyarakat sehat, maka mereka akan lebih kuat, lebih produktif, dan lebih siap menghadapi berbagai situasi, termasuk ketika bencana datang. Inilah bentuk kecil pengabdian PWI kepada masyarakat Padang Panjang,” ujar Supriyanto

Kolaborasi dengan KTPI Padang Panjang, menurutnya, menjadi contoh bahwa organisasi profesi dan komunitas masyarakat mampu bersinergi menghadirkan pelayanan sosial yang langsung dirasakan manfaatnya oleh warga.

Ketua KTPI Padang Panjang, Firdaus, memandang kesehatan sebagai bagian penting dalam konsep mitigasi bencana.

Menurutnya, seseorang tidak akan mampu menolong dirinya sendiri maupun orang lain saat keadaan darurat apabila kondisi fisiknya tidak prima.

Karena itu, KTPI terus mengusung gerakan “Satu Rumah Satu Terapis”, agar setiap keluarga memiliki pengetahuan dasar menjaga kesehatan melalui terapi totok punggung.

“Mitigasi bukan hanya belajar menyelamatkan diri ketika gempa terjadi. Tubuh yang sehat juga merupakan bagian dari kesiapsiagaan. Orang yang sehat memiliki peluang lebih besar untuk bertindak cepat dan membantu sesama saat bencana datang,” tutur Firdaus.

Baca Juga :  Mesjid Besar Nurul Ikhlas Wakil Kecamatan Padang Utara Penilaian "AMPERA"

Sekitar 60 warga memanfaatkan layanan sosial tersebut.

Salah satunya Nova. Ia mengaku sudah lama ingin mencoba terapi totok punggung, namun selama ini mengurungkan niat karena biaya terapi di tempat praktik mencapai sekitar Rp50 ribu untuk sekali pelayanan.

Hari itu, keinginannya akhirnya terwujud tanpa harus mengeluarkan biaya.

“Saya senang sekali. Selama ini hanya mendengar cerita orang. Hari ini akhirnya bisa mencoba sendiri. Rasanya ringan dan nyaman,” katanya sambil tersenyum.

Di tengah derasnya perkembangan layanan kesehatan alternatif yang kini semakin populer, kegiatan kecil di bawah tenda sederhana itu mengirimkan pesan yang jauh lebih besar.

Bahwa kepedulian tidak selalu diwujudkan melalui pembangunan fisik atau program besar.

Kadang, ia hadir melalui sepasang tangan yang membantu mengurangi rasa sakit, sekelompok wartawan yang memilih mengabdi di luar ruang redaksi, dan komunitas yang percaya bahwa kesehatan adalah investasi pertama dalam membangun masyarakat yang tangguh.

Pada akhirnya, bakti sosial itu bukan sekadar layanan terapi gratis.

Ia menjadi pengingat bahwa semangat mitigasi sesungguhnya dimulai dari kepedulian terhadap sesama. Sebab masyarakat yang sehat bukan hanya lebih kuat menjalani kehidupan sehari-hari, tetapi juga lebih siap bangkit ketika bencana datang kembali menguji.(paulhendri)

Share :

Baca Juga

ARTIKEL

Pastikan Wilayah Aman, Babinsa Aktif Laksanakan Patroli Malam

BERITA

Kapal Nelayan Asal Cilacap Terbakar di Samudra Hindia, 2 ABK Selamat Dan 11 ABK Masih Dalam Pencarian

ARTIKEL

Pusbintal TNI Gelar Pembekalan Mental Kepada Satgas Pamtas RI–PNG Kewilayahan di Yonif 511/DY Kodam V/BRW 

ARTIKEL

Hari Pertama Pasca Pemilihan, Ketua KAN Terpilih Rumuskan Formula Penyelesaian Konflik Sako

BERITA

Sumbar Terima 21 Sertifikat Warisan Budaya tak Benda dan 2 Sertifikat Cagar Budaya Nasional 2023 dari Kemendibudristek RI

ARTIKEL

PENYERAHAN NASKAH AKADEMIK DAN DRAF RANPERDA KEPADA DPRD KOTA PADANG TELAH TERLAKSANA

BERITA

Halal Bi Halal PPKM di Padang, Gubernur Sumbar Mahyeldi Membaur Bersama Perantau Maninjau

BERITA

“Senja, Takjil, dan Seorang Rahmad yang Pulang ke Jaho