Home / BERITA / DAERAH / HUKUM / KOTA PADANG PANJANG / NASIONAL / PERISTIWA / SUMBAR / TNI

Tuesday, 26 May 2026 - 12:43 WIB

223” dari Padang Panjang: Doa, Air Mata, dan Salam Perpisahan untuk Sang Komandan

PadangPanjang..Sinyalnews.com- Malam itu, Rumah Dinas Wali Kota Padang Panjang tak lagi terasa seperti ruang pemerintahan. Ia berubah menjadi ruang kenangan. Tempat tawa, haru, dan rasa kehilangan bertemu dalam satu malam yang sulit dilupakan.

Pisah sambut Dandim 0307/Tanah Datar berlangsung hangat, namun penuh emosi. Hadir Wali Kota dan Wakil Wali Kota Padang Panjang, Ketua DPRD, unsur Forkopimda, kepala OPD, camat, lurah, hingga tokoh adat dari KAN Gunung, Busur, dan KAN Lareh Nan Panjang.

Namun yang membuat malam itu terasa berbeda adalah sentuhan adat yang begitu kuat.

Acara dibuka dengan pasambahan adat oleh tiga Ketua KAN sebelum jamuan makan dimulai. Kata-kata adat mengalir lembut namun penuh makna, seolah menjadi penegas bahwa yang dilepas malam itu bukan sekadar pejabat negara, melainkan seorang anak nagari yang telah menyatu dengan masyarakat.

Ketika Dandim lama menyampaikan sambutan, suasana mendadak hening.

Dengan nada suara yang beberapa kali tertahan, ia mengenang suka duka selama bertugas di Padang Panjang selama 2 tahun, 2 bulan, 3 minggu.

Baginya, Padang Panjang bukan hanya wilayah tugas. Tetapi rumah pengabdian yang memberinya begitu banyak kenangan.

Ia mengaku sangat tersentuh dengan kekompakan pemerintah daerah, Forkopimda, dan masyarakat, terutama saat kota dilanda bencana.

“Di sini saya merasakan kepedulian luar biasa. Saat bencana datang, semua bergerak cepat. Tidak ada yang saling menunggu. Pemko sangat membantu dan koordinasi berjalan sangat baik,” ujarnya.

Baca Juga :  Sosialisasi Bela Negara Oleh Satgas TMMD Ke-125 Kodim 1506/Namlea

Ucapan itu bukan basa-basi.

Sebab semua yang hadir tahu bagaimana sosok sang Dandim selama ini dikenal tegas, agresif, cepat bergerak, dan selalu berada di garis depan ketika keadaan genting datang menghantam kota.

Wali Kota Padang Panjang, Hendri Arnis, bahkan secara khusus mengenang satu momen penting saat bencana terjadi dan dirinya sedang tidak berada di tempat.

“Saya waktu itu langsung meminta Pak Dandim mengambil alih tongkat pimpinan dalam situasi darurat. Dan semuanya selesai dengan baik oleh beliau,” ujar Hendri Arnis.

Kalimat itu langsung membuat ruangan dipenuhi tepuk tangan panjang. Namun malam itu, Hendri Arnis juga menyampaikan sesuatu yang membuat suasana semakin emosional.

Ia menyebut lama masa tugas sang Dandim di Padang Panjang: 2 tahun, 2 bulan, 3 minggu.“223 itu angka naik,” katanya sambil tersenyum.“Semoga karier Pak Dandim terus naik sampai puncak tertinggi… sampai bintang empat.”

Riuh tepuk tangan kembali pecah.

Menurut Hendri Arnis, Padang Panjang adalah kota penuh keberkahan. “Siapa saja yang pernah bertugas di Padang Panjang, setelah keluar dari sini kariernya selalu naik. Ini Kota Serambi Mekkah,” ujarnya penuh keyakinan.

Sementara itu, Dandim baru yang sebelumnya bertugas di Fakfak, Papua Barat, memperkenalkan dirinya dengan kisah pengabdian di ujung timur Indonesia. Ia bercerita tentang beratnya medan tugas di Papua, suka duka bertugas jauh dari keluarga, hingga tantangan menjaga wilayah yang penuh keterbatasan.

Baca Juga :  Sosialisasi Kepatuhan Pajak Kendaraan dan Disiplin Berlalu Lintas: Polresta Cilacap Ajak Masyarakat Berperan Aktif

Namun malam itu, ia mulai merasakan sesuatu yang berbeda di Padang Panjang: kehangatan. Kehangatan yang lahir dari budaya, persaudaraan, dan rasa hormat yang begitu kuat antara rakyat dan pemimpinnya.

Menjelang akhir acara, suasana yang sejak tadi hangat perlahan berubah semakin haru. Lampu ruangan terasa redup oleh perasaan kehilangan. Lagu perpisahan pun diperdengarkan.

Beberapa tamu terlihat terdiam. Ada yang menatap kosong ke arah panggung. Ada pula yang mengabadikan momen dengan mata berkaca-kaca.

Satu per satu cenderamata diserahkan sebagai simbol penghormatan dan ucapan terima kasih atas pengabdian sang komandan selama menjaga Padang Panjang dan Tanah Datar.

Di balik bingkai cenderamata itu, tersimpan begitu banyak cerita: tentang malam bencana, rapat darurat, kebersamaan tanpa sekat, dan pengabdian yang tulus untuk rakyat.

Dan ketika salam komando terakhir diberikan malam itu, semua orang seakan memahami satu hal. Jabatan memang bisa berganti. Tetapi jejak pengabdian yang ditinggalkan dengan hati… akan selalu tinggal di ingatan kota ini.(paulhendri)

Share :

Baca Juga

ARTIKEL

Paparkan Capaian saat Peringatan HUT Provinsi Sumbar ke-78, Gubernur Mahyeldi Komitmen Terus Pacu Laju Pembangunan dan Ekonomi

BERITA

Menjaga Ruang, Menjaga Masa Depan: Ketika Tata Ruang Dibicarakan Bersama di Bulan Ramadan”

ARTIKEL

Babinsa Koramil 07/Maos Melaksanakan Kerja Bakti di Desa

BERITA

Pengguna Jalan Keluhkan Tiang Telpon ditengah Jalan 

BERITA

Taruna AAL Korps Marinir Mengikuti Upacara HUT Ke – 78 Korps Marinir Dan Sertijab Dankormar

ARTIKEL

Kadisperindag Sumbar Lepas Afrisman dan Yunidar yang Purnabakti

BERITA

Medan Berat Tak jadi Penghambat, Target Pembuatan Badan Jalan Baru di Ds. Kedungsono hampir Rampung

ARTIKEL

Asah Kemampuan Prajurit, Kodim 0104/Atim Gelar Latihan Menembak Senjata Ringan TW IV Tahun 2023