PadangPanjang..Sinyalnews.com-Seusai prosesi pelantikan yang khidmat itu, langkah para pengurus tak berhenti di podium. Mereka bergerak ke ruang lain,lebih riuh, lebih hidup, dan lebih jujur menggambarkan denyut ekonomi kreatif yang sesungguhnya.
Di sebuah ruang rapat sederhana, lembar-lembar kain terbentang di atas meja. Motifnya beragam halus, berwarna, dan sarat identitas lokal. Di sinilah, Ketua PPEKRAF Pusat T. Nurliyana Habsjah, didampingi Maria Feronika Hendri, menunduk lebih dekat. Bukan sekadar melihat, tetapi menyentuh, merasakan tekstur, dan membaca cerita yang tersimpan di setiap helai karya.
Ini bukan kain biasa. Ini adalah hasil tangan-tangan pelaku kriya binaan Pemerintah Kota Padang Panjang, produk yang lahir dari ketekunan, dari dapur-dapur kecil, dari waktu yang sering kali tak terlihat.
Percakapan pun mengalir ringan namun penuh makna. Pertanyaan sederhana tentang proses produksi, bahan, hingga pemasaran menjadi jembatan antara kebijakan dan realitas. Di hadapan mereka, para perajin tak hanya menunjukkan produk, tetapi juga harapan,agar karya mereka tak berhenti di meja pamer, melainkan menemukan jalan ke pasar yang lebih luas.
Di luar ruang pelantikan, suasana bahkan lebih hidup. Stand-stand kecil dipadati tamu. Baju, songket Gucci Pandai Sikek, baju kuruang basiba, dompet kerajinan tangan hingga aneka makanan ringan tersaji, dan satu per satu berpindah tangan.
“Alhamdulillah, hari ini dagangan kami banyak yang habis. Biasanya kami hanya berharap dari pasar mingguan, tapi di acara ini langsung dibeli tamu-tamu penting,” ujar salah seorang perajin dengan mata berbinar.
Ia menambahkan, “Yang paling membahagiakan bukan hanya laku, tapi karya kami dilihat, dihargai. Itu yang membuat kami ingin terus berkarya.”
Perajin lain yang menjajakan songket juga tak bisa menyembunyikan rasa harunya. “Songket Pandai Sikek ini kami kerjakan berbulan-bulan. Ketika tadi ada yang langsung membeli tanpa menawar panjang, rasanya seperti dihargai seluruh proses kami,” kata Des pengrajin songket pandai sikek dari kelurahan Tanah Hitam
Di antara para pembeli, terlihat Hendri Arnis turut memilih beberapa produk. Ia bahkan berhenti cukup lama di salah satu meja.
“Ini yang harus terus kita dorong. Produk lokal kita tidak kalah kualitasnya. Tinggal bagaimana kita bantu akses pasar dan konsistensi produksi,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Allex Saputra yang juga terlihat membeli produk kriya.
“Kalau bukan kita yang bangga dan membeli produk sendiri, siapa lagi? Ini bukan sekadar belanja, tapi bentuk dukungan nyata,” katanya singkat namun tegas.
Ny. Maria tampak tak sekadar mendampingi. Ia sesekali mengamati detail, berdialog, dan memberi respons yang menunjukkan satu hal: kedekatan. Bahwa organisasi yang baru saja dilantik ini tak ingin berjarak dengan pelaku usaha yang menjadi denyut utamanya.
Sementara itu, Nurliyana Habsjah terlihat serius, sesekali mengangguk. Ada kesadaran yang menguat, bahwa ekonomi kreatif bukan dibangun dari atas, tetapi dari bawah, dari tangan-tangan yang hari ini ia sapa langsung.
Momen itu menjadi lebih dari sekadar kunjungan. Ia menjelma menjadi penegasan: bahwa setelah seremoni usai, kerja sesungguhnya dimulai, di ruang-ruang sederhana seperti ini, di antara kain-kain yang menyimpan harapan, dan di tangan-tangan yang kini mulai merasakan hasil dari jerih payahnya.(0aulhensri)














