Di sebuah ruangan terang yang nyaris tanpa cela, empat perempuan berdiri tegak menghadap podium. Tak ada gemuruh, hanya suara sumpah yang mengalir pelan, namun menyimpan beban besar: harapan, kerja panjang, dan nasib ribuan pelaku usaha kecil. Kamis, 30 April 2026, Ny. Maria Feronika Hendri Arnis resmi dilantik sebagai Ketua DPD Pegiat Pendidik Ekonomi Kreatif (PPEKRAF) Sumatera Barat.
PadangPanjang.Sinyalnews.com-Karpet merah membentang rapi di Hall Lantai III Balai Kota. Di atasnya, langkah-langkah pelan para pengurus baru seolah menakar jarak antara seremoni dan tanggung jawab yang akan segera mereka pikul. Pelantikan itu berlangsung khidmat, dipimpin langsung oleh Ketua PPEKRAF Pusat, T. Nurliyana Habsjah, disaksikan Wali Kota Hendri Arnis, Wakil Wali Kota Allex Saputra, serta jajaran undangan yang memenuhi ruangan.
Namun, di balik formalitas yang tertata, tersimpan satu pertanyaan yang tak pernah benar-benar selesai: sejauh mana organisasi ini mampu menjawab denyut nyata ekonomi kreatif, yang sering kali hidup dalam keterbatasan, di sudut-sudut pasar, dapur-dapur kecil, dan tangan-tangan yang tak pernah berhenti bekerja.
Wali Kota Hendri Arnis dalam sambutannya menegaskan satu hal yang kerap diulang, tetapi jarang benar-benar diwujudkan: kolaborasi.
“Kita tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan kolaborasi untuk mendukung UMKM agar semakin berkembang dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Ketua PPEKRAF Pusat, T. Nurliyana Habsjah, menambahkan dimensi lain: generasi muda. Di tengah perubahan zaman yang serba cepat, organisasi ini diharapkan tidak sekadar menjadi wadah, tetapi mesin penggerak.
“PPEKRAF harus mampu membuka ruang inovasi, melahirkan kreativitas, dan menghidupkan perekonomian dari bawah,” katanya.
Di titik itu, suara dari kalangan pers ikut memberi penegasan. Ketua PWI Padang Panjang, Supriyanto, menilai kehadiran PPEKRAF tidak boleh berhenti pada seremoni pelantikan semata.
“Ini bukan sekadar organisasi baru. Publik menunggu kerja nyata, bagaimana PPEKRAF hadir, menyentuh pelaku UMKM, dan benar-benar menjadi jembatan antara potensi dan pasar,” ujarnya.
Ia menambahkan, transparansi dan konsistensi program akan menjadi kunci agar kepercayaan masyarakat tidak berhenti pada euforia awal.
Sorot mata kemudian beralih pada Maria Feronika Hendri Arnis . Bukan sekadar ketua baru, tetapi figur yang kini menjadi tumpuan ekspektasi. Dalam pernyataannya, Maria tidak menawarkan janji besar yang melambung tinggi. Ia memilih nada yang lebih tenang, namun tegas: hadir dan mendampingi.

“Kami akan terus berada di tengah pelaku UMKM, mendorong, mendampingi, dan memastikan mereka punya ruang untuk tumbuh dan bersaing,” ujarnya.
Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan konsekuensi panjang. Sebab di Sumatera Barat, UMKM bukan sekadar sektor ekonomi, ia adalah denyut kehidupan masyarakat. Dari usaha rumahan hingga produk kreatif yang mencoba menembus pasar digital, semuanya membutuhkan lebih dari sekadar perhatian: mereka membutuhkan keberpihakan yang nyata.
Susunan pengurus pun telah terbentuk,Sri Wahyuni Allex sebagai Wakil Ketua, Rahmi sebagai Sekretaris, dan Meldha Dharma sebagai Bendahara, melengkapi struktur yang diharapkan tidak hanya aktif di atas kertas, tetapi juga hadir di lapangan.
Pelantikan ini akhirnya bukan sekadar seremoni. Ia adalah garis awal. Sebuah titik di mana janji diucapkan, harapan disematkan, dan kerja nyata menunggu untuk dibuktikan.
Sebab di luar ruangan yang terang itu, ekonomi kreatif tidak pernah benar-benar diam. Ia bergerak,kadang tertatih, kadang melesat, menunggu siapa yang benar-benar datang untuk menguatkannya.(paulhendri)














