Banten.Sinyalnews.com – Di tengah riuh Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Serang, Banten, ada momen kecil yang nyaris luput dari sorotan panggung utama. Bukan pidato, bukan seremoni. Hanya sepenggal dialog sederhana di pelataran Masjid Raya Al Bantani,tentang rasa, tentang senyum, dan tentang harapan pelaku UMKM yang hari itu merasa benar-benar dilihat.
Di pelataran masjid yang megah itu, Wali Kota Hendri Arnis menyempatkan diri berkeliling arena puncak HPN, didampingi insan pers. Tanpa jarak protokoler yang kaku, ia menyapa satu per satu stan UMKM binaan Pemerintah Provinsi Banten. Percakapan ringan mengalir, tangan saling berjabat, dan tawa sesekali pecah di antara hiruk-pikuk pengunjung.
ASN Banten yang menjaga stan tak sekadar berdiri di balik meja. Mereka menjadi wajah dari produk-produk lokal: bakso ikan khas Lebak, minuman infused aneka buah, susu olahan dari peternak sapi lokal, hingga beragam pangan olahan rumahan. Setiap produk membawa cerita tentang proses, perjuangan, dan harapan agar usaha kecil tetap bertahan.
Hampir di setiap stan, para pedagang melakukan hal yang sama. Dengan nada penuh harap, mereka meminta testimoni dari setiap pembeli. “Bagaimana rasanya, Pak?” tanya mereka polos.
Saat Wali Kota Hendri Arnis mencicipi salah satu hidangan, jawabannya mengalir spontan, “Lamak bana.”
Para penjual sempat terdiam sejenak. “Apa artinya, Pak?” tanya mereka, penasaran.
Wali kota tersenyum, lalu menjawab ringan, “Enak banget.”
Tawa pun pecah. Sekat pun luruh. Di momen sederhana itu, tak ada jarak antara pemimpin dan rakyat, antara pejabat dan pedagang kecil.
Tak berhenti pada pujian, Hendri Arnis juga membeli makanan dan minuman yang dijajakan. Gestur kecil, namun bermakna besar. Dukungan tak hanya diucapkan, tetapi dirasakan,sebagai pembeli, sebagai penguat semangat, sebagai pengakuan atas kerja keras pelaku UMKM.
Di sela agenda besar HPN, peristiwa-peristiwa kecil seperti inilah yang justru paling membekas. Di pelataran Masjid Raya Al Bantani, HPN tak hanya diperingati. Ia hidup dalam rasa, dalam senyum, dan dalam satu kata sederhana yang hari itu menjadi penguat harapan: lamak bana.(paulhendri)














