Padang Panjang, Sinyalnews.com — Di sebuah ruangan sederhana di Kelurahan Tanah Hitam, Minggu siang hingga sore itu, pembicaraan tentang narkoba terdengar lebih getir dari biasanya. Bukan sekadar agenda seremonial Capacity Building bagi RT dan lembaga kelurahan. Di balik suasana diskusi yang hangat, tersimpan kegelisahan yang perlahan berubah menjadi alarm bersama.
Satu per satu Ketua RT angkat bicara. Mereka tak lagi bertanya soal definisi atau teori pemberantasan narkoba. Mereka bicara tentang kenyataan yang mulai masuk ke lorong-lorong kampung. Tentang anak-anak muda yang perlahan berubah. Tentang pergaulan yang semakin sulit diawasi. Tentang ketakutan bahwa barang haram itu kini tidak lagi jauh dari pintu rumah warga.
Dalam kegiatan Capacity Building Kelurahan Tanah Hitam Tahun 2026 tersebut, Muhammad Nur Idris dipercaya menjadi narasumber dengan tema “Narkoba dan Penyakit Masyarakat”. Diskusi berlangsung interaktif. Para Ketua RT aktif menyampaikan keresahan sekaligus mempertanyakan langkah nyata menghadapi ancaman narkoba yang kini dianggap semakin mengkhawatirkan di Kota Padang Panjang.
Kota kecil yang selama ini dikenal religius, sejuk, dan tenang itu kini seperti sedang menghadapi ancaman yang diam-diam menggerogoti sendi kehidupan masyarakatnya sendiri.
Fakta di lapangan berbicara lebih keras daripada slogan. Rumah tahanan sudah mengalami over kapasitas. Ironisnya, mayoritas penghuni tersandung kasus narkotika. Situasi ini menjadi sinyal keras bahwa persoalan narkoba bukan lagi kasus sporadis, melainkan ancaman sosial yang nyata.
Pertanyaan yang kemudian muncul pun terasa menohok: apakah cukup hanya dengan sosialisasi?
Jawabannya tentu tidak sesederhana itu.
Sosialisasi memang penting. Edukasi wajib dilakukan. Namun perang melawan narkoba tidak akan pernah selesai jika hanya dibebankan kepada aparat, lurah, RT, atau segelintir aktivis sosial. Persoalan ini membutuhkan keberanian kolektif seluruh stakeholder.
Pemerintah daerah dituntut hadir lebih serius, bukan sekadar lewat baliho imbauan atau kegiatan seremonial tahunan, tetapi melalui kebijakan nyata dan keberpihakan anggaran yang jelas. Program pencegahan narkoba harus menjadi prioritas daerah. Mulai dari edukasi berkelanjutan, rehabilitasi, pembinaan generasi muda, penguatan ketahanan keluarga, hingga penyediaan ruang kreatif bagi anak-anak muda agar tidak kehilangan arah.
Sebab narkoba tidak tumbuh di ruang kosong. Ia lahir dari lingkungan yang kehilangan perhatian, kehilangan pengawasan, dan kehilangan harapan.
Yuni Sandra, S.H., M.H dari PPPA LBH Justicebelen, yang turut menyoroti kondisi tersebut mengatakan, persoalan narkoba di Padang Panjang sudah berada pada titik yang mengkhawatirkan dan tidak bisa lagi ditangani setengah hati.
“Hari ini kita tidak bisa hanya mengandalkan sosialisasi sesaat lalu selesai. Narkoba sudah masuk sampai ke lingkungan terkecil masyarakat. Ini harus menjadi gerakan bersama. Narkoba tidak hanya merusak fisik, tetapi juga memutus rantai masa depan, memicu kriminalitas, dan menghancurkan keharmonisan keluarga. Hal ini juga menjadi pemicu berbagai persoalan hukum yang terjadi di Padang Panjang. Pemerintah, dinas, maupun lembaga terkait harus benar-benar bersinergi dan konsen terhadap persoalan ini. Karena yang sedang kita selamatkan bukan hanya hari ini, tetapi masa depan generasi muda Padang Panjang,” tegas Sandra.
Ia juga mengingatkan, banyak keluarga yang sebenarnya menjadi korban dalam diam. Anak-anak kehilangan masa depan, orang tua menanggung malu dan tekanan sosial, sementara lingkungan sering kali memilih tutup mata sebelum semuanya terlambat.
Karena itu, peran RT, PKK, tokoh masyarakat, sekolah, rumah ibadah, hingga organisasi kepemudaan harus dirajut menjadi satu gerakan bersama. Sebab hari ini, yang dipertaruhkan bukan hanya keamanan lingkungan, tetapi masa depan anak-anak Padang Panjang sendiri.
Diskusi di Tanah Hitam sore itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar forum pelatihan. Ia berubah menjadi panggilan moral. Sebuah pengingat bahwa menyelamatkan generasi muda tidak cukup hanya dengan rasa prihatin.
Harus ada aksi nyata. Harus ada keberanian. Dan yang paling penting, harus ada keseriusan semua pihak sebelum kota kecil ini benar-benar kehilangan terlalu banyak generasinya.(paulhendri)














