PadangPanjang.Sinyalnews.com
Di balik denting bola biliar yang saling beradu di atas meja hijau, tersimpan kisah tentang kepedulian, ketekunan, dan cinta yang tumbuh dari hati. Sosok itu bernama Nando, seorang pecinta olahraga biliar yang tak sekadar hadir sebagai penonton atau pelaku usaha, tetapi berdiri di barisan terdepan sebagai pendamping, pembina, dan penguat mental para pebiliar muda.
Kecintaan Nando terhadap biliar bukan cerita yang lahir dalam semalam. Ia tumbuh dari ruang-ruang latihan sederhana, dari perjalanan panjang mengikuti turnamen ke turnamen, hingga akhirnya menjelma menjadi komitmen nyata. Komitmen itu ia wujudkan dengan membuka Babe Biliar di Kota Padang, sebuah tempat yang kini dikenal bukan hanya sebagai arena bermain, tetapi juga sebagai rumah pembinaan bagi komunitas biliar.
Bagi Nando, Babe Biliar bukan sekadar usaha. Ia adalah ruang silaturahmi, tempat anak-anak muda belajar tentang disiplin, sportivitas, dan mimpi. Ia melengkapinya dengan kafe dan Teh Talua Malimpah, menghadirkan suasana hangat khas Minangkabau yang memadukan olahraga, kuliner, dan kebersamaan dalam satu napas.
Yang membuat sosok Nando begitu lekat di hati komunitas adalah kehadirannya yang konsisten. Ia selalu berada di sisi para anggotanya, mendampingi, menyemangati, dan membersamai mereka dalam berbagai turnamen, baik di Sumatera Barat maupun Riau. Ia hadir bukan hanya saat kemenangan diraih, tetapi juga ketika kekalahan harus diterima.
“Menang itu bonus, yang utama adalah proses dan kebersamaan,” menjadi prinsip yang kerap ia tanamkan. Baginya, biliar bukan sekadar soal trofi dan hadiah, melainkan tentang membangun karakter, keberanian, serta rasa percaya diri.
Di balik perannya sebagai penggerak olahraga, Nando juga menjalani peran yang tak kalah penting: seorang ayah muda. Ia telah dikaruniai seorang putri cantik yang kini berusia sekitar satu tahun. Kehadiran sang buah hati memberi makna baru pada setiap langkah yang ia tempuh, bahwa perjuangannya hari ini adalah tentang masa depan, tentang nilai-nilai yang kelak ingin ia wariskan.
Setiap perjalanan mendampingi atlet ke luar daerah selalu menyisakan rindu di rumah. Namun justru dari sanalah keyakinan Nando menguat, bahwa apa yang ia bangun melalui biliar bukan hanya untuk prestasi, tetapi juga untuk menghadirkan lingkungan yang sehat dan positif bagi generasi muda, sebuah dunia yang kelak ingin ia perlihatkan dengan bangga kepada putrinya.
Di tengah minimnya perhatian terhadap olahraga non-unggulan, Nando memilih berjalan dengan caranya sendiri: senyap namun konsisten. Ia percaya, jika cinta pada olahraga dirawat dengan keikhlasan, maka prestasi dan manfaat sosial akan tumbuh mengikuti.
Dari satu meja biliar, Nando telah membuktikan bahwa kepedulian bisa bergerak jauh, menjadi harapan, menjadi rumah, dan menjadi tempat pulang bagi banyak pebiliar muda di Ranah Minang.(paulhendri)














