PadangPanjang,Sinyalnews.com-Di bawah pancaran lampu darurat yang temaram di kawasan Jembatan Kembar, Silaing Bawah, malam itu bukan hanya tentang sebuah bencana. Bukan tentang hujan yang tak kunjung berhenti, tanah yang ambrol, atau sungai yang membawa lumpur pekat. Malam itu adalah tentang manusia,tentang keberanian, empati, dan rasa tanggung jawab yang melampaui batas fisik.
Wali Kota Padang Panjang, Hendri Arnis, tampak berdiri di tepi sungai yang surut perlahan. Bajunya basah berlumur lumpur, tangannya memegang erat tali yang terhubung pada tubuh korban yang masih tertimbun. Ia tidak menjaga jarak. Tidak berdiri memerintah dari jauh. Justru ia turun langsung ke air gelap itu, menyusuri lumpur, meraba-raba, menarik tubuh korban dengan tenaga yang nyaris tak mengenal lelah.
Di sekelilingnya, tim evakuasi dan warga bergantian memberi kekuatan. Setiap sorakan kecil menjadi penopang semangat. Setiap upaya, betapapun berat, terasa sepadan ketika satu demi satu korban akhirnya bisa diangkat.

Semangat itu terlihat meluap,lebih dari sekadar tugas seorang kepala daerah. Ada sesuatu yang ia bawa malam itu,penyesalan. Sebelumnya Hendri berada di Jakarta. Dan di malam harinya longsor terjadi, Pagi jumat ia kembali, tanah longsor merenggut ketenangan kota kecil ini. Tapi penyesalan itu tidak ia biarkan merantai langkah. Ia balas dengan tindakan. Dengan keberanian. Dengan kehadiran. Dengan tangan sendiri yang menyentuh lumpur, bukan sekadar memberikan instruksi.
Tokoh masyarakat, H. Syafrianto, yang ikut berada di lokasi sejak sore, mengatakan dengan mata berkaca-kaca, “Kami menyaksikan sendiri bagaimana pak wali tidak berhenti bergerak. Tidak ada kata lelah. Malam ini, beliau bukan hanya seorang pemimpin, tapi bagian dari kami, bagian dari warga yang sedang berduka dan berjuang. Ini malam yang akan kami ingat lama…”
Sementara itu, ulama setempat, Buya Karim menyampaikan pandangannya dengan suara bergetar: Inilah makna amanah. Allah lihat siapa yang hadir dalam susah umatnya. Saya menyaksikan beliau turun ke sungai, mengangkat tubuh korban seperti mengangkat amanah itu sendiri. Semoga Allah membalas setiap tetes peluh yang malam ini jatuh untuk menyelamatkan nyawa.”
Kata-kata itu mengalir seperti do’a di tengah gelap malam yang basah.
Dan di balik suara komando tim evakuasi, di antara gemeretak kerikil dan gesekan lumpur, ada kehangatan yang pelan-pelan tumbuh,harapan.
Di saat semua tampak runtuh, masyarakat melihat bahwa kota ini tidak sendirian. Bahwa masih ada tangan yang bergerak, kaki yang melangkah, dan hati yang hadir.
Hendri Arnis datang dengan rasa bersalah.Namun ia memilih pulang dengan semangat yang tak bisa diragukan lagi,semangat yang malam itu ia buktikan bukan dengan kata-kata, melainkan dengan lumpur di tubuhnya dan tangan yang tak berhenti menarik nyawa dari kegelapan
Dari hasil evakuasi sedari pagi tadi hingga malam akhirnya korban sudah ditemukan 20 jenazah , terdiri dari 10 warga kota Padang Panjang dan sepuluh warga luar kota Padang Panjang .dan sesuai laporan di posko masih ada 15 orang lagi belum ditemukan(paulhendri)














