SOLOK SINYALNEWS.COM – Kegiatan lomba dalam rangka memperingati hari ulang tahun (HUT) ke-78 kemerdekaan RI bisa menjadi salah satu cara terapi untuk anak berkebutuhan khusus (ABK).
Seperti lomba makan kerupuk, pecah air, fashion show nuansa HUTRI, nyanyi nasional dan daerah, mewarnai gambar nuansa HUTRI khusus untuk anak downsyndrom, yang diadakan oleh Sekolah Luar Biasa Negeri 1 Kubung, Kab Solok. Lomba itu diikuti seluruh siswa Sekolah Luar Biasa SLBN 1 Kubung di halaman sekolah setempat, Selasa (15/8/2023).
Kepala SLBN 1 Kubung, Amperiyenti Jaya, S.Pd, mengatakan semua siswa SLBN 1 Kubung turut dilibatkan dan tidak membedakan meski memiliki kebutuhan khusus yang berbeda.
Dia menyebut melalui kegiatan lomba semacam itu siswa bisa berinteraksi langsung dengan teman-teman atau guru.
“Anak-anak itu kalau tidak bergabung dan berinteraksi dengan teman-temannya akan mengalami kemunduran, baik secara fisik atau emosi, itu yang kami takutkan,” kata dia ketika diwawancarai Sinyalnews.com, Selasa (15/8/2023)
Dia menyebut selain sebagai salah satu cara memperingati hari kemerdekaan, lomba itu juga bertujuan terapi bagi siswa. Meski acara itu dikemas secara sederhana, namun tetap ada kemeriahan dengan adanya iringan musik dan acara bernyanyi bersama.
Melalui kegiatan itu pula pihaknya berusaha merangsang kepercayaan diri siswa agar nantinya mereka mau membaur dengan lingkungan rumah ketika sudah lulus.
“Interaksi ini supaya lulus dari sini, anak-anak sudah siap ke masyarakat. Walaupun harapan itu masih belum bisa sepenuhnya direalisasikan,” kata dia.
Hal itu pula yang menjadi pekerjaan rumah, sebab menurut Amperiyenti, banyak siswa yang enggan pulang ke rumah masing-masing lantaran merasa lebih nyaman di sekolah.
Menurut dia, tidak hanya pihaknya yang berkewajiban menyiapkan siswa dengan kebutuhan khusus agar bisa berbaur dalam lingkungan sosial, namun juga pemerintah dan masyarakat itu sendiri.
“Kami memang gencar untuk mengenalkan disabilitas kepada masyarakat, salah satunya kita unggah di Tiktok,” kata dia. Amperiyentimenyebut masyarakat memang belum teredukasi dan memiliki kesadaran terkait isu disabilitas.
(Marlim)














