Anak Petani Koto Gadang tanam cabe organik memanfaatkan limbah pasar dan kotoran sapi

Dharmasraya, sinyal news- Nagari Koto Gadang, Kecamatan Koto Besar, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera barat.

bisa dibilang nagari banyak ditanami sawit dan karet,Hendra Gusti mencoba peruntungan beralih tanam cabe bersama warga.

Lelaki berusia 54 tahun ini sebagai petani sudah semejak usia 17 tahun.

Sebagian kecil warga tetap memilih jalan hidup sebagai petani sawit dan karet.

siang itu Hendra Gusti sedang berkumpul bersama petani lainnya di sebuah gubuk berdinding kayu.

Istirahat sejenak melepaskan penat segelas kopi manis dan cemilan ala petani seperti rebus pisang dan ubi kayu selalu ada menemani makanan ringan lainnya.

gubuk terbuka itu hamparan sawit maupun kebun karet milik masyarakat koto Gadang bersusun rapi tinggi menjulang.

Tidak jauh dari itu gudukan kotoran sapi (bokasi) dari dari kotoran hewan,dan pupuk organik cair dari limbah pasar dan air kencing sapi berjejer jerigen plastik terbungkus plastik.

pupuk alami itu adalah bakal pupuk sebagai nutrisi untuk tanaman cabe.

Hendra Gusti dan kawan-kawan berbincang soal pertanian sekali sekali terdengar tawa lepas,tentu saja hal remeh-temeh banyak yang mereka bicarakan didalam gubuk yang teduh itu

masa peralihan kebun sawit (reflenting)yang mana dulu tanah subur royo_royo tentunya setelah ditanami sawit lahan tersebut menjadi lahan yang tandus,lahan tersebut, di antaranya untuk bertani dan bercocok tanam berbagai jenis tanaman untuk tanaman tumpang sari.

pertaniannya masih menggunakan penyubur kimiawi, mengingat kondisi saat ini para petani susah untuk mendapatkan pupuk maka beralih lah ke pupuk serba organik yang bahan baku nya mudah didapat dan harga relatip murah.

Baca Juga :  Babinsa Melaksanakan Patroli Malam dan Komsos Bersama Bhabinkamtibnas

menjadi petani sawit atau pun karet sudah iya tekuni semejak remaja” Akhirnya saya mencoba bertani tanaman cabe dilahan kritis Dengan memanfaatkan limbah pasar dan kotoran hewan (sapi) ujar pada ,” sinyal news com Minggu 30/04/23.

Sebelum mencoba menjadi petani cabe Hendra Gusti pernah pula mencoba bertanam jagung di lahan bekas tanaman sawit, tanaman tetap tumbuh bagus,namun serangan hama babi hutan tidak bisa teratasi, akhirnya panen jagung diusia dini terpaksa dilakukan dari pada tidak mendatangkan hasil ,” katanya berdalih.

Sekarang peruntungan tanam campak di lahan kritis cabe organik dengan memanfaatkan limbah pasar dan kotoran hewan.

pengelolaan tanah syarat tumbuh tanaman baik itu meliputi,paktor, yakni cahaya matahari, air,unsur hara,bibit unggul.

metode tanam campak dilahan kritis tidak perlu pembajakan tanah kembali, eks perkebunan sawit.

8Hendra Gusti hanya mengunakan metode mengali dengan kedalaman 20 cm dengan posisi meruncing kebawah seperti lupis.

praktik pertanian alami minim biaya (zero budgeting agriculture).
Model bertani tersebut mengandalkan bahan-bahan alami yang umum ditemui dipasar seperti ,buah buahan,kotoran sapi untuk dijadikan pupuk organik.

Untuk mendapatkan pasokan kami berkeliling masuk kampung mendatangi pemilik ternak, sampai ke kampung tetangga, untuk membeli kotoran ternak. Setelah terkumpul, baru diproses di sini,” katanya.

Baca Juga :  Kejaksaan Negeri Pessel Diminta Turun Untuk Telusuri Banyaknya Dugaan Proyek Bermasalah Di Nagari Sungai Tunu Utara

Bahan dicampur dengan pupuk organik dan kencing sapi untuk di oplos menjadi satu, baru didiamkan selama dua bulan, diaduk setiap dua minggu sekali dengan kedap udara.

bahan alami itu membuat petani tak perlu bergantung pada mekanisme harga pupuk produksi pabrikan.

Masa tanam hingga panen pola pertanian alami ini sedikit lebih lama dibandingkan dengan cara bertani mengandalkan pupuk kimia.

misalnya, baru bisa dipanen setelah berusia 40 hari atau 10 hari lebih lama daripada biasanya.

Begitu juga palawija juga baru bisa dipanen lima hingga sepuluh hari lebih lama.

Pola pertanian ink juga memicu kontroversi Banyak petani yang seolah sudah ”dimanjakan” oleh produk pabrik sedikit warga yang baru lahan ditanami cabe menerapkan pola pertanian alami.

Namun selalu ada langkah kecil sebelum berlari.
Langkah itu sudah kita dimulai kata,”Hendra Gusti.
Juga di Amini kawan kawan.

Harapan Semoga kesan selama ini oleh masyarakat bertani dilahan tanaman eks perkebunan sawit, untuk tanaman lama pertumbuhan nya karena tanah nya keras,hasil tidak menjanjikan,

Semua itu sudah dijawab langkah itu telah di buktikan oleh Hendra Gusti bartaman cabe di lahan kritis bertanam cabe organik dengan memanfaatkan limbah pasar,kotoran hewan.

Untuk kedepannya langkah ini membawa seluruh petani mengikuti dan bisa di praktekan karena tidak ada kata terlambat oleh petani untuk berbuat demi kedaulatan petani yang sejahtera.

Rahmad

Share :

Baca Juga

ARTIKEL

Gubernur Mahyeldi Lepas Kontingen Sumbar ke Ajang FORNAS Ke-8 di NTB

BERITA

Polda Sumbar Tangkap 4 Pelaku Penyalahgunaan BBM Bersubsidi

ARTIKEL

Kakanwil Kemenag Sumbar : Pembinaan Kepada ASN Kankemenag Kota Padang, Jangan Suka Lempar Tanggung Jawab

ARTIKEL

Kadisperindag Sumbar Tutup Bimtek Perbengkelan Roda Dua Kota Padang Angkatan ke -2

ARTIKEL

Outing Class Satgas TNI Disambut Penuh Semangat Anak-Anak Alguru

ARTIKEL

Gubernur Mahyeldi Terima Anugerah Merdeka Belajar 2023 dari Mendikbudristek

BERITA

Karyawan Gudang Alfamart Ditangkap, Curi Ratusan Bungkus Rokok

BERITA

Wabup Risnawanto Sampaikan Nota Pengantar KUA PPAS Pasaman Barat Tahun 2024