PadangPanjang.Sinyalnews.com — Di antara luka yang masih membekas di kulitnya, Kasimin menyimpan kisah yang tak mudah dilupakan. Api yang selama ini ia lawan demi menyelamatkan rumah dan nyawa orang lain, justru berbalik menghanguskan rumahnya sendiri.
Namun di tengah puing-puing yang tersisa dan rasa sakit yang masih harus ia tanggung, Kasimin tidak sendirian.
Kamis (4/6/2026), untuk kedua kalinya, Wali Kota Padang Panjang, Hendri Arnis, kembali datang menjenguk ASN Analis Kebakaran Satpol PP dan Damkar itu. Kehadiran tersebut bukan sekadar kunjungan seremonial. Ia datang membawa pesan bahwa pengabdian yang tulus tidak akan pernah dibiarkan berjalan sendiri.
Jika pada kunjungan pertama Hendri Arnis hadir memberikan dukungan moril, kali ini ia datang bersama kekuatan yang lebih besar. Di sampingnya berdiri Ketua TP PKK sekaligus Ketua LKKS Maria Feronika Hendri, jajaran OPD, pimpinan Bank Nagari, serta Baz nas >yang turut membawa bantuan untuk meringankan beban keluarga Kasimin.
Total bantuan sebesar Rp35 juta disalurkan. Dana itu berasal dari Baznas Rp15 juta, Korpri Rp10 juta, dan Bank Nagari Rp10 juta.
Namun bagi Kasimin, yang kini masih menjalani perawatan rutin akibat luka bakar serius yang dideritanya, nilai bantuan itu mungkin bukan bagian yang paling mengharukan.
Yang paling menyentuh adalah kenyataan bahwa di saat dirinya terbaring lemah, kota yang selama ini ia layani memilih hadir di sisinya.
Di sebuah penginapan sederhana di Kelurahan Silaing Bawah,tempat ia dan keluarganya menumpang sementara setelah rumah mereka hangus terbakar, Kasimin kembali menceritakan detik-detik ketika musibah itu terjadi.
Naluri seorang pemadam rupanya tak pernah benar-benar padam. Saat kobaran api mulai membesar dan melahap bagian rumahnya, Kasimin tidak berlari menjauh. Ia justru bergerak mendekat, berusaha memadamkan api seperti yang selama ini menjadi tugasnya.
Dalam kepanikan dan kepulan asap yang membumbung tinggi, ia bahkan tak menyadari tubuhnya sendiri mulai tersambar api.
Ketika kesadaran datang, luka bakar telah membekas di sekujur tubuhnya.Ia berhasil menyelamatkan yang bisa diselamatkan, tetapi harus membayar mahal dengan kondisi fisiknya.
Mendengar kembali kisah itu, Hendri Arnis tampak larut dalam keheningan. Di hadapan pria yang selama bertahun-tahun mengabdikan dirinya untuk keselamatan masyarakat itu, ia menyampaikan pesan yang sederhana namun sarat makna.
“Yang utama sekarang pulihkan kesehatan dulu. Tidak perlu memikirkan hal lain. Insyaallah semua pihak akan membantu agar Bapak bisa segera sehat dan kembali beraktivitas,” ujar Hendri.
Ucapan itu bukan sekadar kalimat penghibur. Ia menjadi simbol kehadiran negara dalam bentuk yang paling nyata: datang, melihat, mendengar, lalu membantu.
Di tengah berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, kunjungan kedua Hendri Arnis kepada Kasimin menghadirkan pesan penting bahwa kepemimpinan bukan hanya soal mengambil keputusan dari balik meja kerja, melainkan juga tentang kemampuan merasakan luka yang dialami warganya.
Kasimin mungkin hanya satu dari sekian banyak aparatur yang bekerja di balik sirene dan kepulan asap kebakaran. Namanya jarang muncul dalam sorotan. Tugasnya sering kali selesai tanpa tepuk tangan.
Namun ketika musibah datang mengetuk pintunya sendiri, Padang Panjang menunjukkan bahwa pengabdian tidak dilupakan.
Kehadiran Wali Kota bersama Maria Feronika, Baznas, Korpri, Bank Nagari, dan seluruh pihak yang ikut bergotong royong membantu menjadi bukti bahwa nilai kemanusiaan masih hidup di tengah masyarakat.
Sebab pada akhirnya, seorang pemadam kebakaran tidak hanya membutuhkan keberanian saat menghadapi api.Ia juga membutuhkan uluran tangan ketika api itu menghanguskan rumahnya sendiri.Dan pada hari itu, Kasimin merasakan bahwa kota yang selama ini ia lindungi, sedang bergantian menjaganya.(Paulhendri)














