Home / BERITA / BUDAYA / DAERAH / KOTA PADANG PANJANG / NASIONAL / PERISTIWA / SUMBAR

Sunday, 30 August 2026 - 18:02 WIB

Dari Ranah ke Lancang Kuning, Ketika Padang Panjang Datang untuk Belajar

PekanBaru .Sinyalnews.com— Waktu, kadang-kadang, mengubah arah perjalanan.

Dulu, Sumatera Barat kerap menjadi tempat sejumlah daerah datang untuk melihat dan belajar. Padang Panjang, kota kecil dengan jejak panjang pendidikan dan kebudayaan, ikut dikenal sebagai salah satu ruang rujukan dalam banyak percakapan tentang pembangunan daerah.

Kini, arah perjalanan itu berbalik.
Di Balai Kota Pekanbaru, akhir Agustus 2026, rombongan Pemerintah Kota Padang Panjang datang untuk belajar.

Bukan karena Padang Panjang kehilangan sesuatu. Bukan pula karena Pekanbaru telah menjadi kota tanpa persoalan.

Justru karena sebuah daerah yang ingin terus bergerak harus memiliki keberanian untuk membuka diri.

Termasuk belajar kepada kota yang dahulu pernah datang melihat pengalaman dari Ranah Minang.

Selama dua dekade terakhir, wajah Pekanbaru berubah cepat. Pertumbuhan kota, perkembangan kawasan perkotaan, dinamika ekonomi, hingga tuntutan pelayanan publik telah membawa ibu kota Provinsi Riau itu ke fase yang berbeda.

Perubahan itu pula yang membawa rombongan Pemko Padang Panjang melakukan studi komparatif pada 27–29 Agustus 2026.

Rombongan dipimpin Wakil Wali Kota Padang Panjang Allex Saputra. Turut mendampingi Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Harry Rizkya Perdana, Kepala Bidang Keterbukaan Informasi Publik Maryulis Max, jajaran Dinas Kominfo, serta sejumlah wartawan media cetak dan daring yang bertugas di Padang Panjang.

Tujuannya cukup spesifik: melihat pengelolaan komunikasi publik dan pengembangan Media Center di tengah perubahan teknologi informasi yang bergerak semakin cepat.

Di Balai Kota Pekanbaru, rombongan disambut Wakil Wali Kota Pekanbaru Markarius Anwar bersama jajaran pemerintah kota.

Pertemuan berlangsung dalam suasana akrab.
Namun, sesungguhnya yang dipertukarkan bukan sekadar cenderamata dan sambutan.

Ada pengalaman.
Ada gagasan.

Dan ada kesadaran bahwa pemerintah daerah tidak bisa lagi bekerja dengan cara-cara lama.

Kota yang Tumbuh, Cara Berpikir yang Berubah
Pekanbaru hari ini tentu berbeda dengan Pekanbaru dua puluh tahun silam.

Kota ini tumbuh menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi dan pemerintahan penting di Sumatera. Pertumbuhan itu membawa konsekuensi: tuntutan masyarakat semakin tinggi, persoalan semakin kompleks, sementara pemerintah dituntut bergerak semakin cepat.

Pemerintah tidak lagi cukup hanya bekerja.
Ia juga harus mampu menjelaskan apa yang dikerjakannya.

Di tengah derasnya arus media sosial, informasi bergerak dalam hitungan detik. Kabar yang benar bercampur dengan informasi yang belum terverifikasi. Kebijakan pemerintah dapat dipahami, tetapi dalam waktu bersamaan juga dapat dipelintir.

Di situlah komunikasi publik menemukan urgensinya.
Wakil Wali Kota Pekanbaru Markarius Anwar menegaskan, komunikasi publik merupakan instrumen penting untuk membangun pemerintahan yang dekat dengan masyarakat.

Pemerintah, menurut dia, harus mampu menyampaikan informasi secara tepat agar masyarakat memahami apa yang sedang dikerjakan dan manfaat yang dapat mereka peroleh.

“Komunikasi publik harus dikelola dengan baik. Pemerintah harus mampu menyampaikan informasi kepada masyarakat secara tepat, sehingga masyarakat mengetahui apa yang dilakukan pemerintah dan apa manfaatnya bagi mereka,” ujar Markarius.

Pernyataan itu terdengar sederhana.
Tetapi dalam pemerintahan modern, persoalannya tidak sesederhana itu.

Banyak kebijakan gagal dipahami bukan semata-mata karena substansinya buruk.

Kadang, pemerintah gagal menjelaskan.
Kadang, informasi datang terlambat.
Kadang, masyarakat lebih dahulu memperoleh kabar dari media sosial sebelum mendapatkan penjelasan resmi.

Komunikasi publik, karena itu, tidak boleh hanya dimaknai sebagai kegiatan menyebarkan berita.
Ia harus menjadi ruang untuk membangun kepercayaan.

Baca Juga :  25 Desember 2022, Jubir RSUP dr.M.Djamil Padang Raih Gelar Doktor

Jejak Minangkabau di Kota Bertuah

Bagi rombongan dari Padang Panjang, Pekanbaru bukan kota yang benar-benar asing.

Hubungan Sumatera Barat dan Riau telah lama terjalin melalui perdagangan, pendidikan, perantauan, hingga hubungan kekerabatan.

Masyarakat Minangkabau menjadi salah satu bagian penting dalam kehidupan sosial Pekanbaru. Jejaknya mudah ditemukan dalam dunia usaha, organisasi masyarakat, pendidikan, kuliner, hingga pemerintahan.

Kedekatan itu juga terlihat pada sosok yang menyambut rombongan Padang Panjang.

Markarius Anwar memiliki akar Minangkabau. Ia lahir di Pangian, Sumatera Barat, dan sebelumnya berkiprah sebagai anggota DPRD Provinsi Riau, termasuk pernah memimpin Fraksi PKS serta Komisi III DPRD Riau. Ia kemudian dilantik sebagai Wakil Wali Kota Pekanbaru untuk periode 2025–2030.

Dalam dirinya, pertemuan Padang Panjang dan Pekanbaru seperti menemukan salah satu simpulnya.

Ranah dan rantau memang tidak pernah benar-benar terpisah.
Orang Minangkabau membawa kampung halaman dalam ingatan, tetapi perantauan membentuk cara pandang yang lebih luas.

Dan Pekanbaru, selama puluhan tahun, menjadi salah satu ruang penting bagi perjalanan masyarakat Minangkabau di rantau.

Karena itu, studi komparatif tersebut terasa lebih dari sekadar kunjungan antarpemerintah daerah.
Ada sejarah yang menyertainya.

Padang Panjang Tidak Datang untuk Meniru

Wakil Wali Kota Padang Panjang Allex Saputra mengatakan, studi komparatif itu menjadi kesempatan untuk melihat langsung berbagai inovasi dan pengalaman yang telah dilakukan Pemerintah Kota Pekanbaru.

Padang Panjang dan Pekanbaru, katanya, memang memiliki karakter yang berbeda.

Pekanbaru tumbuh sebagai kota besar dengan dinamika perkotaan yang kompleks.

Padang Panjang tumbuh dengan ruang yang jauh lebih terbatas.
Namun, perbedaan bukan alasan untuk tidak saling belajar.

“Padang Panjang dan Pekanbaru memang memiliki karakter dan kondisi yang berbeda. Namun, banyak aspek yang dapat kita kolaborasikan. Kita bisa saling bertukar pengalaman, baik dalam pemerintahan, pelayanan publik, komunikasi, teknologi informasi maupun bidang lainnya,” ujar Allex.

Di situlah sesungguhnya makna sebuah studi komparatif.
Belajar bukan berarti menyalin.

Tidak semua keberhasilan Pekanbaru dapat dipindahkan begitu saja ke Padang Panjang.

Begitu pula sebaliknya.
Setiap daerah memiliki ukuran, persoalan, sumber daya, dan karakter masyarakat yang berbeda.

Yang lebih penting adalah memahami cara berpikir di balik sebuah keberhasilan.

Bagaimana sebuah pemerintah membaca perubahan.
Bagaimana teknologi digunakan untuk memperbaiki pelayanan.

Bagaimana informasi dikelola agar tidak hanya sampai kepada masyarakat, tetapi juga dapat dipahami.

Dan yang tak kalah penting, bagaimana sebuah kunjungan diterjemahkan menjadi perubahan setelah rombongan pulang.

Ketika Wartawan Turut Belajar

Kehadiran sejumlah wartawan dalam rombongan menjadi bagian menarik dari perjalanan itu.

Mereka tidak hanya datang untuk mencatat sambutan dan mengambil gambar.

Para jurnalis ikut menyimak bagaimana komunikasi publik dikelola di kota lain.
Keterlibatan itu mengingatkan bahwa ekosistem informasi tidak hanya terdiri atas pemerintah.

Ada media.
Ada masyarakat.
Ada ruang digital yang bergerak tanpa henti.
Pemerintah memiliki program dan kebijakan.
Media menjalankan fungsi jurnalistik: mengumpulkan, memeriksa, menguji, dan menyampaikan informasi kepada publik.

Hubungan keduanya tidak selalu harus berjalan mulus.
Dan memang tidak seharusnya selalu demikian.

Pemerintah membutuhkan kritik agar tidak terlalu lama memandang dirinya sendiri melalui cermin keberhasilan.

Media membutuhkan keterbukaan agar masyarakat tidak hanya menerima potongan informasi.

Sinergi diperlukan.
Tetapi independensi tetap harus dijaga.

Allex menekankan pentingnya hubungan antara pemerintah, Kominfo, dan media tanpa mengabaikan profesionalitas pers.

Baca Juga :  Pemprov Sumbar Melesat ke Jajaran 6 Besar Provinsi dengan Penyelenggaraan Pelayanan Publik Kulitas Tertinggi

Sebuah garis yang penting untuk dijaga.
Sebab, pers bukan sekadar corong pemerintah.
Dan pemerintah bukan pula pihak yang harus selalu berhadapan dengan media.

Keduanya berada dalam ruang publik yang sama, dengan peran yang berbeda.
Tujuannya tetap satu: masyarakat memperoleh informasi yang benar.

Jangan Hanya Membawa Pulang Foto

Setiap perjalanan studi banding selalu menyisakan pertanyaan yang sama.

Apa yang dibawa pulang?
Pertanyaan itu jauh lebih penting daripada berapa tempat yang dikunjungi.

Lebih penting daripada berapa banyak foto yang diunggah.
Sebab, perjalanan dinas dapat selesai ketika pesawat mendarat.

Tetapi proses belajar seharusnya baru dimulai ketika rombongan kembali ke daerahnya.

Pekanbaru telah memberikan sejumlah pengalaman untuk dilihat Padang Panjang, khususnya dalam pengelolaan komunikasi publik dan perkembangan Media Center. Studi komparatif itu sendiri diharapkan menjadi masukan bagi Padang Panjang untuk mengembangkan pengelolaan informasi yang lebih profesional dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Namun, pelajaran tidak hanya berasal dari keberhasilan.
Sebuah kota yang tumbuh pesat juga menghadapi persoalan yang semakin kompleks.

Pertumbuhan membawa peluang.
Sekaligus tantangan.
Karena itu, belajar dari daerah lain tidak cukup dengan melihat apa yang berhasil.

Pemerintah juga perlu memahami persoalan yang mereka hadapi.

Apa yang berhasil.
Apa yang belum selesai.
Dan apa yang sebaiknya tidak diulang.
Di situlah studi komparatif menemukan nilainya.

Roda Itu Berputar

Ada satu hal yang membuat perjalanan Padang Panjang ke Pekanbaru menarik untuk direnungkan.

Roda belajar memang terus berputar.
Dulu, daerah datang ke Sumatera Barat untuk melihat pengalaman yang dimiliki Ranah Minang.

Kini, ketika Pekanbaru tumbuh dan berubah pesat, orang-orang dari Sumatera Barat datang untuk melihat pengalaman yang berkembang di kota ini.

Tidak ada yang perlu dipertentangkan.
Tidak ada pula yang harus merasa lebih tinggi.

Sebab, kemajuan sebuah daerah tidak ditentukan oleh siapa yang lebih dahulu menjadi rujukan.

Yang menentukan adalah apakah sebuah daerah masih memiliki kerendahan hati untuk terus belajar.

Hari ini Padang Panjang datang ke Pekanbaru.
Besok, mungkin arah perjalanan itu berubah lagi.

Pekanbaru bisa datang ke Padang Panjang.
Atau keduanya bertemu di tempat lain, membawa pengalaman masing-masing untuk saling bertukar gagasan.

Begitulah seharusnya hubungan antardaerah dibangun.
Bukan untuk menentukan siapa yang paling maju.

Melainkan untuk memastikan bahwa kemajuan di satu tempat dapat menjadi pelajaran bagi tempat lain.

Di Balai Kota Pekanbaru, akhir Agustus itu, sebuah perjalanan studi komparatif berlangsung.

Di permukaan, ia mungkin tampak seperti agenda pemerintahan biasa.
Ada sambutan.
Ada diskusi.
Ada pertukaran cenderamata.
Ada foto bersama.

Tetapi jika perjalanan itu benar-benar diterjemahkan menjadi perubahan, maknanya akan jauh melampaui semua seremoni.

Padang Panjang datang untuk melihat.
Untuk mendengar.
Untuk membandingkan.
Dan, yang paling penting, untuk belajar.

Sebab, sebuah kota tidak menjadi besar hanya karena gedung-gedungnya bertambah tinggi.

Sebuah kota menjadi matang ketika pemerintahnya tidak pernah merasa paling tahu.

Dulu, mungkin Pekanbaru datang belajar ke Ranah.
Kini, Ranah datang ke Pekanbaru.
Dan sejarah pembangunan akan terus bergerak seperti itu.

Saling belajar.
Saling mengoreksi.
Saling menguatkan.

Karena pada akhirnya, kemajuan bukan milik kota yang paling sering dipuji, melainkan milik mereka yang tidak pernah berhenti belajar.(paulhendri)

Share :

Baca Juga

BERITA

Suku Guci Lubuk Lintah Kec.Kuranji Nagari Pauh IX Kota Padang, Meriahkan Idul Adha 1444 H Dengan Pemotongan Hewan Kurban

BERITA

Rico Alviano Gelar Lomba Mancing Berhadiah Mobil 

ARTIKEL

Sertu Tofik Hadiri Peresmian Mushola Nurul Hidayah

BERITA

Kemenag Kota Padang, Monitoring Pelaksanaan PK Online Guru PAI

BERITA

Stasiun Bakamla Sambas Amankan Nelayan Nakal Pengguna Pukat Harimau

ARTIKEL

Keris Solo,  Bentuk Penghormatan dan Pengenalan Budaya Indonesia 

BERITA

Kepala UPTD BPSMB Terima Kunjungan Kerja Direktur Standar Nasional Satuan Ukuran Termoelektrik dan Kimia BSN

ARTIKEL

IPARI Gelar FGD Bersama Lintas Sektoral, Siapkan Ibu Tangguh, Wujudkan Anak Sehat dan Hebat