Penulis: Darman Shiddiq
RUBRIK CAHAYA ILMU SINYALNEWS.COM – Dalam kehidupan yang semakin dipenuhi tuntutan untuk memiliki, terlihat, dan diakui, kesederhanaan menjadi sikap yang semakin penting. Sederhana bukan berarti hidup tanpa cita-cita, menolak kemajuan, atau tidak boleh memiliki harta dan kedudukan. Sederhana adalah kemampuan menempatkan sesuatu sesuai porsinya dan tidak membiarkan keinginan menguasai kehidupan.
Kesederhanaan juga mengajarkan manusia untuk mengenal batas. Sebab, sesuatu yang dilakukan secara berlebihan sering kali justru menghilangkan makna dari sesuatu yang sebenarnya baik.
Allah SWT berfirman:
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”
(QS. Al-A’raf: 31)
Ayat tersebut memberikan pelajaran bahwa Islam mengajarkan keseimbangan. Prinsip tidak berlebihan bukan hanya berkaitan dengan makanan dan minuman, tetapi juga dapat menjadi pelajaran dalam menjalani berbagai sisi kehidupan.
1. Sederhana dalam Niat dan Tujuan
Setiap perbuatan hendaknya dimulai dengan niat yang baik dan tujuan yang benar. Jangan sampai kebaikan dilakukan hanya karena ingin dipuji, dikenal, atau mendapatkan pengakuan dari manusia.
Ketulusan menjadikan seseorang tidak terlalu sibuk memikirkan bagaimana dirinya terlihat di hadapan orang lain. Yang lebih penting adalah bagaimana perbuatannya benar-benar memberikan manfaat.
2. Sederhana dalam Berpikir
Sederhana dalam berpikir bukan berarti berpikir dangkal. Justru, kesederhanaan dalam berpikir membuat seseorang mampu melihat persoalan dengan jernih dan proporsional.
Tidak semua masalah harus dibesar-besarkan. Tidak semua perkataan harus dicurigai. Dan tidak semua perbedaan harus menjadi pertentangan.
Orang yang mampu berpikir sederhana akan lebih mudah mencari solusi daripada memperpanjang masalah.
3. Sederhana dalam Mengeluarkan Perasaan
Manusia memiliki rasa marah, sedih, kecewa, bahagia, dan cinta. Semua itu merupakan bagian dari kehidupan. Namun, perasaan harus dikendalikan agar tidak berubah menjadi tindakan yang merugikan.
Ketika marah, seseorang perlu menahan diri. Ketika bahagia, tetaplah rendah hati. Ketika kecewa, jangan sampai kehilangan akal sehat.
Kekuatan seseorang bukan hanya terlihat dari kemampuannya berbicara, tetapi juga dari kemampuannya mengendalikan apa yang hendak dikatakannya.
4. Sederhana dalam Keperluan Hidup
Kebutuhan hidup hendaknya disesuaikan dengan kemampuan. Jangan memaksakan diri hanya demi mengikuti gaya hidup orang lain.
Hidup sederhana bukan berarti tidak boleh menikmati kehidupan. Sederhana berarti mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
“Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara-saudara setan…”
(QS. Al-Isra’: 27)
Dengan demikian, seseorang akan lebih mudah bersyukur dan tidak terus-menerus merasa kekurangan.
5. Sederhana dalam Perasaan Suka Cita
Keberhasilan patut disyukuri dan kebahagiaan patut dinikmati. Namun, kegembiraan jangan sampai membuat seseorang lupa diri.
Ketika memperoleh keberhasilan, tetaplah rendah hati. Sebab, keberhasilan yang sesungguhnya bukan hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi juga tentang bagaimana pencapaian tersebut dapat membawa manfaat bagi orang lain.
6. Sederhana dalam Harta Benda
Harta adalah amanah. Memiliki harta bukanlah kesalahan, tetapi menjadikan harta sebagai satu-satunya ukuran kebahagiaan dapat membawa manusia pada kehidupan yang tidak pernah merasa cukup.
Harta seharusnya digunakan secara bijaksana: memenuhi kebutuhan, menunaikan kewajiban, membantu keluarga, berbagi kepada yang membutuhkan, serta mendukung berbagai kebaikan.
Kaya boleh, tetapi jangan sampai kekayaan membuat hati menjadi miskin dari rasa syukur.
7. Sederhana dalam Mencari Nama
Tidak semua kebaikan harus diketahui orang lain. Tidak semua amal harus dipublikasikan. Tidak semua prestasi harus dijadikan alasan untuk mendapatkan pujian.
Popularitas bukanlah ukuran kemuliaan seseorang.
Ada kebaikan yang cukup diketahui oleh Allah SWT. Justru, ketika seseorang mampu berbuat baik tanpa sibuk mencari pengakuan, di situlah ketulusan sedang diuji.
8. Sederhana dalam Mencari Pangkat
Jabatan dan pangkat hendaknya dipandang sebagai amanah, bukan sekadar kebanggaan.
Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikul. Jabatan bukan kesempatan untuk meminta dihormati, melainkan kesempatan untuk memberikan pelayanan dan manfaat.
Karena itu, jangan menjadikan pangkat sebagai tujuan akhir kehidupan. Jika amanah diberikan, laksanakan dengan sebaik-baiknya. Jika amanah berakhir, terimalah dengan lapang dada.
Kesederhanaan Membawa Ketenangan
Pada akhirnya, hidup sederhana bukan berarti hidup tanpa impian. Kita tetap boleh memiliki cita-cita, bekerja keras, membangun usaha, memiliki harta, memperoleh jabatan, dan meraih keberhasilan.
Yang perlu dijaga adalah hati agar tidak diperbudak oleh semuanya itu.
Sebab, manusia sering kali bukan lelah karena terlalu banyak memiliki, tetapi karena terlalu banyak menginginkan.
Kesederhanaan mengajarkan kita untuk berkata cukup ketika memang sudah cukup, bersyukur ketika mendapatkan nikmat, sabar ketika kehilangan, dan tetap rendah hati ketika berada di atas.
Tidak semua yang berkilau harus dikejar. Tidak semua pujian harus dicari. Tidak semua jabatan harus diperebutkan.
Karena pada akhirnya, ukuran kehidupan bukanlah seberapa banyak yang kita miliki, seberapa tinggi kedudukan kita, atau seberapa terkenal nama kita, melainkan seberapa besar kebaikan dan manfaat yang mampu kita tinggalkan untuk sesama.
Renungan
Sederhanalah dalam menjalani kehidupan, karena kesederhanaan bukan tanda kelemahan. Ia adalah tanda bahwa seseorang telah mampu mengendalikan dirinya.
Semakin seseorang mampu mengendalikan keinginan, semakin lapang hatinya. Dan semakin lapang hatinya, semakin mudah ia bersyukur.
Darman Shiddiq
Penulis Tindasan Pena
“Tiada Dagang Terlantar”
Edisi 005














