Home / BERITA / DAERAH / EKONOMI / KESEHATAN / KOTA PADANG PANJANG / NASIONAL / SUMBAR

Wednesday, 19 August 2026 - 20:49 WIB

Enam Bulan Terbaring, Sui Mar Tak Sendiri

Di tengah padatnya agenda seharian, kepedulian membawa Ketua TP PKK Padang Panjang Maria Feronika Hendri Sei Wahyuni Allex Saputra dan sejumlah unsur pemerintah dan juga Ketua Baznas Padang Panjang Novi Hendri dengan program Padang Panjang sehatnya ,ke rumah seorang warga yang enam bulan terbaring karena tumor.

PadangPanjang.Sinyalnews.com— Menjelang Magrib, ketika kesibukan sehari penuh mulai surut, sebuah kunjungan berlangsung jauh dari panggung acara dan keramaian.

Di sebuah rumah di Jalan Siti Mangopoh, Kampung Teleng, Padang Panjang, seorang lelaki 52 tahun terbaring di tempat tidur. Tubuhnya tak lagi leluasa bergerak seperti dulu. Enam bulan sudah ia menjalani hari-hari dalam kondisi sakit tumor.

Namanya Sui Mar Esdi. Orang-orang di lingkungan mengenalnya dengan panggilan Cun Gapuak alias Nagari.
Dulu, ia adalah bagian dari hiruk-pikuk dunia olahraga Padang Panjang. Ia aktif di KONI dan pernah menjadi pengurus salah satu cabang olahraga. Ada masa ketika tubuhnya digunakan untuk bergerak, berkegiatan dan bergaul dengan banyak orang.
Kini, sebagian besar waktunya berlangsung di atas tempat tidur.

Sore itu, setelah seharian mengikuti rangkaian Gebyar Dasa Wisma se-Kelurahan Padang Panjang Barat, Ketua TP PKK Kota Padang Panjang Maria Feronika Hendri memilih menyisihkan waktu untuk datang ke rumah Sui Mar.
Ia datang bersama Ketua GOW Kota Padang Panjang Sri Wahyuni Allex Saputra. Turut hadir Lurah Kampung Manggis Akbarsyahnan dan Ketua RT 14 Anudi, yang pernah bertugas sebagai Danton Satpol PP Kota Padang Panjang.

Tidak ada panggung. Tidak ada mikrofon. Tidak ada tepuk tangan.
Hanya sebuah rumah, seorang warga yang sedang sakit, dan beberapa orang yang datang untuk memastikan bahwa ia masih diperhatikan.

Maria duduk di dekat Sui Mar. Percakapan berlangsung dalam suasana yang tenang. Kepada Sui Mar dan keluarganya, Maria menyampaikan bahwa sakit bukan alasan untuk kehilangan harapan.

“Sakit itu tanda Allah masih sayang kepada kita. Kalau kita ikhlas dan sabar, itu menjadi salah satu bentuk Allah menggugurkan dosa-dosa kita. Tetapi ikhtiar tetap harus dilakukan. Kita tetap harus berobat dan jangan berprasangka tidak baik kepada Allah.”

Nasihat itu bukan berarti meminta seseorang pasrah terhadap keadaan.
Sebaliknya, Maria menekankan bahwa menerima ujian dan berikhtiar adalah dua hal yang harus berjalan bersama. Ada kesabaran, tetapi juga ada usaha. Ada doa, tetapi juga ada pengobatan.

Baca Juga :  Sosialisasikan Operasi Patuh Candi 2023, Satlantas Polres Pekalongan Ajak Warga Tertib Berlalu Lintas

Bagi keluarga yang telah enam bulan melihat orang yang mereka cintai terbaring, kalimat sederhana seperti itu boleh jadi bukan sekadar nasihat. Ia adalah pengingat bahwa perjuangan mereka masih memiliki teman.

Di rumah itu, perjuangan memang bukan hanya milik Sui Mar.
Ada Dessy Novita, istrinya, yang setiap hari berjualan di Pasar Pusat Kota Padang Panjang. Di satu sisi ia harus mencari nafkah untuk keluarga. Di sisi lain, ada suami yang membutuhkan perhatian dan pendampingan.

Pasangan ini memiliki dua orang anak.
Sebuah keluarga yang sebelumnya menjalani kehidupan sebagaimana keluarga lainnya, kini harus menyesuaikan diri dengan kenyataan baru,sakit yang panjang, aktivitas yang terbatas, dan kebutuhan yang tidak berhenti hanya karena salah satu anggota keluarga tidak lagi mampu bekerja seperti sebelumnya.

Kehadiran pemerintah kelurahan sore itu tidak berhenti pada kunjungan.
Lurah Kampung Manggis Akbarsyahnan mengatakan, pihaknya telah berupaya mengomunikasikan kondisi Sui Mar kepada Dinas Sosial, termasuk mengusulkan bantuan kursi roda.
“Kami dari kelurahan sudah mengupayakan bantuan untuk beliau. Kami telah berkoordinasi dengan Dinas Sosial agar Pak Sui Mar Esdi bisa mendapatkan kursi roda. Mudah-mudahan bantuan itu dapat segera terealisasi dan bisa membantu aktivitas beliau serta meringankan beban keluarga.”

Kursi roda mungkin tampak sebagai benda sederhana bagi sebagian orang.
Namun bagi seseorang yang berbulan-bulan lebih banyak berbaring, benda itu bisa berarti kesempatan untuk duduk lebih nyaman, berpindah tempat, menikmati udara di luar kamar, atau sekadar merasakan kembali sedikit ruang gerak yang selama ini hilang.
Karena itu, bantuan sosial seharusnya tidak berhenti pada administrasi.
Ia harus sampai kepada manusia yang membutuhkannya.

Ketua RT 14 Anudi juga melihat persoalan itu dari dekat. Sebagai orang yang berada di lingkungan warga, ia memahami bahwa kondisi seperti yang dialami Sui Mar membutuhkan perhatian bersama.

“Kita tentu berharap Pak Sui Mar diberikan kekuatan dan kesembuhan. Sebagai warga dan lingkungan, kita harus hadir ketika ada masyarakat yang sedang menghadapi kondisi seperti ini. Apa yang bisa kita bantu, tentu akan kita upayakan bersama.”

Anudi memahami bahwa RT bukan sekadar urusan administrasi lingkungan. Ada persoalan warga yang terkadang baru terlihat ketika seseorang mengetuk pintu rumah dan melihat langsung keadaan di dalamnya.
Dari Lapangan Olahraga ke Tempat Tidur

Baca Juga :  KKP : Marak Illegal Fishing Di Lautan Natuna Penambahan Kapal Pengawas Bekas Dari Jepang

Kisah Sui Mar menjadi lebih menyentuh karena ada jarak yang begitu jauh antara dirinya yang dulu dan dirinya hari ini.
Ia pernah aktif dalam olahraga. Berada di lingkungan KONI dan menjadi bagian dari salah satu cabang olahraga. Dunia itu identik dengan gerak, stamina, pertemuan, pertandingan dan semangat.

Kini, gerak itu menyempit.
Enam bulan sakit telah mengubah ritme hidupnya.
Namun sore itu, di tengah keterbatasan tubuh, Sui Mar masih menerima kedatangan orang-orang yang datang membawa perhatian.

Maria Feronika tidak datang dengan janji kesembuhan. Ia juga tidak datang membawa jawaban atas semua persoalan keluarga itu.
Ia datang untuk menguatkan.
Dan mungkin, dalam keadaan tertentu, penguatan adalah bentuk pertolongan yang tidak kalah penting dari bantuan benda atau uang.

Sebab orang yang sakit berkepanjangan tidak hanya berhadapan dengan rasa sakit pada tubuh. Ada kejenuhan, kecemasan, perubahan kehidupan keluarga, ketidakpastian, dan hari-hari panjang yang harus dilalui.
Di situlah perhatian menjadi berarti.
Ketika Kepedulian Tidak Menunggu Panggung

Seharian Maria Feronika berada dalam kegiatan Gebyar Dasa Wisma. Sebuah agenda yang tentu menyita waktu, tenaga dan perhatian.
Namun menjelang Magrib, langkahnya berbelok ke sebuah rumah warga.

Di sana tidak ada kemeriahan.
Yang ada hanya seorang lelaki yang sedang berjuang dengan sakitnya, seorang istri yang tetap bekerja, anak-anak yang memiliki seorang ayah yang sedang diuji, serta lingkungan yang mencoba mencari jalan agar beban keluarga itu sedikit lebih ringan.

Kunjungan itu barangkali hanya berlangsung sebentar.
Tetapi bagi Sui Mar, waktu singkat ketika seseorang datang dan duduk di sisinya dapat memiliki arti panjang.

Ada tangan yang datang membawa bantuan.
Ada pemerintah yang mengupayakan kursi roda.
Ada lingkungan yang ikut memperhatikan.
Dan ada pesan agar ia tidak berhenti berikhtiar.

Matahari akhirnya turun di balik perbukitan Padang Panjang. Hari berganti malam.
Sui Mar masih di tempat tidurnya.
Enam bulan telah berlalu sejak sakit membuat banyak hal dalam hidupnya berubah. Tetapi sore itu menyisakan satu hal yang mungkin jauh lebih penting daripada sekadar sebuah kunjungan:
bahwa dalam menjalani sakit yang panjang, Sui Mar tidak sendiri.(paulhendri)

Share :

Baca Juga

BERITA

Danramil 07/ Maos Hadiri Evaluasi Perkembangan Desa dan Kelurahan tahun 2023

BADAN NEGARA

Fraksi PBB-PKS Sorot 100 Hari Kerja Hendri-Arlex

BERITA

Karang taruna kusuma bakti gerak cepat Lakukan penambah1unit armada Penyiraman Jalan

ARTIKEL

Panglima TNI Hadiri Pelantikan Kepala Daerah di Istana Negara

ARTIKEL

Jumat Curhat, Tukang Sapu Keluhkan Pedagang Pasar Kurang Disiplin Kebersihan

BADAN NEGARA

Rektor UIN IB Padang Tutup PPSL

BERITA

Komitmen Berantas Mafia Bola, Polri Tetapkan 6 Tersangka Match Fixing Liga 2

ARTIKEL

Wabup Risnawanto Kukuhkan Ratusan Sumber Daya Insani Yayasan Ainur Rahmah Pasbar