Mendung tak menghalangi ratusan warga berkumpul di Kubu Gadang, Padang Panjang. Dari suara para pemain yang saling mengingatkan saat benang berdempetan hingga kemenangan Murai Sirah yang membawa pulang hadiah Rp7 juta, lomba layang-layang beradat menjadi bukti bahwa budaya Minangkabau masih hidup, dicintai, dan diwariskan lintas generasi.
PadangPanjang.sinyalnews.com— Mendung menggantung di langit Kubu Gadang, Minggu (7/6/2026). Namun tak satu pun peserta beranjak dari lapangan. Mata mereka terus menatap ke atas, mengikuti gerak puluhan layang-layang beradat yang menari bersama angin. Di bawah langit yang seakan memberi restu itu, masyarakat tidak hanya menyaksikan sebuah perlombaan. Mereka sedang merayakan warisan budaya yang telah hidup selama puluhan tahun dan terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman.
Sejak pagi, kawasan Kubu Gadang telah dipadati masyarakat. Anak-anak berlarian di antara kerumunan penonton, kaum ibu bercengkerama di tepi arena, sementara para orang tua duduk menikmati suasana sembari mengenang masa-masa ketika permainan layang-layang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kampung.
Di tengah lapangan, para pecandu layang-layang dari Batipuah X Koto dan sejumlah daerah lainnya bersiap menerbangkan karya terbaik mereka. Layang-layang berukuran besar perlahan naik ke udara, menembus langit yang diselimuti awan kelabu. Sesekali sorak penonton pecah ketika salah satu layang-layang berhasil menemukan posisi ideal dan melayang stabil mengikuti arah angin.
Bagi masyarakat Minangkabau, layang-layang beradat bukan sekadar permainan rakyat. Ia adalah simbol kebersamaan, ruang silaturahmi, sekaligus warisan budaya yang mengajarkan nilai sportivitas, kesabaran, dan penghormatan terhadap sesama.
Hal itu tampak jelas ketika benang dua layang-layang yang sedang mengudara mulai saling berdempetan. Dari bawah arena terdengar suara para pemain yang saling memberi aba-aba.Tidak ada amarah. Tidak ada perselisihan. Mereka saling mengingatkan agar posisi benang dapat diketahui dan situasi dapat diselesaikan dengan baik.
Tradisi tersebut telah menjadi etika yang diwariskan turun-temurun dalam pertandingan layang-layang beradat.
“Kalau benang sudah mulai berdempet, kami biasanya langsung saling bersuara. Itu sudah menjadi kebiasaan sejak dulu. Kami bertanding, tetapi tetap bersaudara. Yang dijaga bukan hanya layang-layangnya, melainkan juga rasa hormat kepada sesama pemain,” ujar Rizal, salah seorang pecandu layang-layang asal Batipuah X Koto.
Menurutnya, perlombaan tahun ini menyimpan cerita tersendiri. Cuaca yang sejak pagi terlihat mendung sempat membuat para peserta khawatir.
“Kami sempat cemas hujan akan turun. Namun alhamdulillah, cuaca tetap bersahabat. Rasanya seperti alam ikut memberikan ridho kepada kami untuk menggelar pertandingan ini. Semua suka dan duka selama menyiapkan layang-layang akhirnya terbayar ketika melihatnya terbang tinggi di langit Kubu Gadang,” katanya sambil tersenyum.
Tak jauh dari arena perlombaan, para ninik mamak tampak khusyuk memperhatikan jalannya pertandingan. Bagi mereka, kegiatan ini memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar perlombaan.
Ninik Mamak Kubu Gadang, Dt. Sati, menegaskan bahwa layang-layang beradat merupakan bagian dari identitas budaya Minangkabau yang harus terus dijaga.
“Layang-layang beradat bukan hanya soal siapa yang paling tinggi atau paling lama terbang. Di dalamnya ada nilai kebersamaan, gotong royong, silaturahmi, dan penghormatan kepada adat yang diwariskan oleh para leluhur. Selama tradisi ini terus hidup, maka identitas kita sebagai urang Minang juga akan tetap hidup,” ujar Dt. Sati.
Menurutnya, kegiatan budaya seperti ini menjadi jembatan yang mempertemukan generasi muda dengan akar tradisinya sendiri.
Kemeriahan perlombaan semakin terasa dengan hadirnya Walikota Padang Panjang Hendri Arnis, Sekretaris Daerah Kota Padang Panjang, Ketua DPRD Kota Padang Panjang, para pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), tokoh masyarakat, serta unsur ninik mamak dari berbagai kaum.
Kehadiran para pemangku kepentingan itu menjadi simbol dukungan terhadap upaya masyarakat menjaga dan melestarikan budaya lokal.
Walikota Hendri Arnis mengatakan, lomba layang-layang beradat merupakan ruang perjumpaan antara budaya, kebersamaan, dan pendidikan karakter bagi generasi muda.
“Hari ini kita tidak hanya menyaksikan sebuah perlombaan. Kita sedang menyaksikan budaya yang hidup. Ada kebersamaan, ada silaturahmi, dan ada kecintaan terhadap warisan leluhur. Pemerintah Kota Padang Panjang akan terus mendukung kegiatan-kegiatan yang mampu memperkuat identitas budaya daerah sekaligus menjadi ruang positif bagi generasi muda,” ujar Hendri Arnis.
Ia menilai budaya yang dirawat dengan baik akan menjadi kekuatan daerah, baik dalam membangun karakter masyarakat maupun dalam mengembangkan sektor pariwisata berbasis kearifan lokal.
Senada dengan itu, Ketua DPRD Kota Padang Panjang menilai kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat masih memiliki kepedulian tinggi terhadap nilai-nilai adat dan budaya.
“Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Kubu Gadang menunjukkan bahwa tradisi tidak harus ditinggalkan. Justru tradisi dapat menjadi perekat sosial dan sumber kebanggaan daerah. Kegiatan seperti ini layak terus didukung dan dilestarikan,” ujarnya.
Menjelang sore, suasana arena semakin tegang ketika panitia mulai melakukan penilaian akhir. Puluhan pasang mata menatap ke arah langit, berharap layang-layang jagoan mereka mampu menjadi yang terbaik.
Setelah melalui persaingan yang ketat, dewan juri akhirnya menetapkan Murai Sirah ,tandan hijau sebagai juara pertama. Posisi kedua diraih Bundo Hitam, disusul Pangka Pongker di peringkat ketiga.
Sementara itu, Putiah Cacar Babek menempati posisi keempat, Merah Babek Satu berada di urutan kelima, dan Salendang menutup daftar pemenang di posisi keenam.
Sorak-sorai penonton pecah ketika nama Murai Sirah diumumkan sebagai juara.
Puncak kemeriahan terjadi saat Walikota Padang Panjang Hendri Arnis menyerahkan langsung hadiah utama berupa uang pembinaan sebesar Rp7.000.000 kepada tim Murai Sirah.Tepuk tangan bergemuruh dari seluruh penjuru arena.Namun hari itu, kemenangan bukanlah cerita utama.
Cerita sesungguhnya adalah tentang sebuah tradisi yang masih mampu menyatukan masyarakat dalam satu ruang kebersamaan. Tentang anak-anak yang belajar mencintai budaya leluhurnya. Tentang para orang tua yang melihat warisan nenek moyang mereka tetap hidup. Dan tentang sebuah kampung adat yang berhasil menjaga jati dirinya di tengah perubahan zaman.
Ketika matahari mulai condong ke barat dan layang-layang satu per satu diturunkan dari langit, yang tersisa bukan hanya hasil perlombaan.
Yang tersisa adalah keyakinan bahwa budaya akan selalu menemukan jalannya untuk bertahan selama masih ada masyarakat yang mencintai dan merawatnya.
Di langit Kubu Gadang sore itu, layang-layang memang telah kembali ke bumi
Namun semangat adat, persaudaraan, dan kecintaan terhadap warisan budaya Minangkabau tetap terbang tinggi, menembus waktu, menjaga identitas sebuah bangsa kecil di ranah Minang agar tak pernah hilang ditelan zaman.(paulhendri)














