Tanah Datar,Sinyalneqs.com- Final Turnamen Biliar HC 3A.3B dan Pemula di rumah biliar 35 Biliar Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar, berubah menjadi panggung drama mental dan pembuktian kelas. Angku Milleniq asal Padang Panjang sukses membungkam perlawanan Fathur dari Batu Sangkar dengan skor 5–3, dalam laga yang sempat membuat penonton menahan napas.
Pertandingan final ini tidak berjalan mulus bagi Angku. Sejak awal, Fathur tampil agresif dan mengejutkan. Angku tertinggal jauh 0–3, tertekan, dan terlihat kehilangan ritme. Di titik genting itu, Angku mengambil time out” keputusan krusial yang menjadi titik balik pertandingan.
Usai jeda, wajah permainan berubah total. Angku bangkit. Satu demi satu bola masuk dengan presisi tinggi. Tekanan mental berbalik arah. Fathur yang semula dominan mulai goyah. Dengan permainan disiplin dan agresivitas penuh, Angku memecahkan kebuntuan, menyapu lima game beruntun, dan menutup laga dengan kemenangan telak 5–3.
Sebelumnya di babak semifinal, Fathur harus berjibaku dalam duel ketat melawan Shahid dari Victory Biliar Padang Panjang. Laga berjalan panas hingga skor tipis 5–4, memastikan Fathur melaju ke final. Namun di partai puncak, kebangkitan Angku menjadi tembok yang tak mampu ia tembus. Fathur pun harus puas di posisi runner up.
Menariknya, di sisi lain bagan semifinal, Angku seharusnya berhadapan dengan rekan satu timnya, Andre Milleniq. Namun laga tersebut tidak dimainkan. Keduanya memilih jalan musyawarah internal tim untuk menentukan siapa yang tampil di final, dan keputusan jatuh kepada Angku Milleniq.
Owner 35 Biliar Sungai Tarab, Fikri, menyebut laga final ini sebagai salah satu pertandingan paling emosional sepanjang turnamen. “Ini bukan sekadar soal teknik, tapi soal mental. Angku menunjukkan bagaimana seorang atlet bangkit dari tekanan. Inilah esensi turnamen yang kami harapkan, drama, sportivitas, dan kualitas,” ujarnya.
Sementara itu, Nilam, Owner Milleniq Biliar Padang, menilai kemenangan Angku sebagai hasil kedewasaan bermain.
“Angku tertinggal jauh, tapi dia tidak panik. Time out itu sangat menentukan. Ini bukti bahwa mental juara tidak dibentuk dalam satu pertandingan saja,” kata Nilam.
Angku Milleniq sendiri mengakui laga final ini sebagai ujian terberatnya.
“Saat tertinggal 0–3, saya cuma bilang ke diri sendiri: jangan mati sebelum bertarung. Time out itu untuk menenangkan kepala. Setelah itu saya main lepas, fokus satu bola, satu bola,” ungkap Angku.
Di sisi lain, Fathur menunjukkan sikap sportif meski gagal meraih gelar juara.
“Saya akui Angku luar biasa setelah time out. Saya sempat kehilangan fokus. Runner up ini jadi pelajaran besar buat saya untuk lebih kuat secara mental,” kata Fathur.
Turnamen di 35 Biliar Sungai Tarab ini menegaskan satu hal: di meja hijau biliar, keunggulan skor bukan jaminan kemenangan. Ketika mental runtuh, segalanya bisa berbalik dalam hitungan menit. Dan malam itu, Angku Milleniq membuktikan dirinya layak disebut juara sejati.(Paulhendri)














