PadangPanjang.Sinyalnews.com
Ruang IGD RSUD Padang Panjang, Selasa (7/10) siang, terasa lebih sesak dari biasanya. Di beberapa ranjang pasien, anak-anak berseragam putih biru terbaring lemah, sebagian masih terpasang selang oksigen. Para ibu dan guru duduk di sampingnya, wajah-wajah cemas tak bisa disembunyikan.
Mereka adalah siswa SDN 09 Padang Panjang Timur. Tujuh diantaranya harus dilarikan ke RSUD setelah mengalami muntah-muntah usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menambah semangat belajar mereka pagi itu.
“Ada tujuh orang yang sedang kami tangani. Kami belum bisa memastikan apakah memang keracunan MBG atau tidak, harus observasi dulu,” ujar Kabid Pelayanan RSUD Padang Panjang, Marlina, saat dihubungi wartawan.
Nasi, Telur, dan Tempe Pagi Itu
Menurut Kepala SDN 09 PPT, Hj. Nurhayati, menu MBG pagi itu adalah nasi putih dengan lauk telur dadar dan tempe goreng. Makanan datang sekitar pukul 08.30 WIB dan langsung dibagikan kepada siswa. Tak lama berselang, sejumlah anak mulai merasa mual, lalu muntah-muntah.
“Saya langsung hubungi kepala dinas. Tak lama, tim Dinas Kesehatan datang dan membawa anak-anak ke RSUD,” ungkapnya.

Namun, Nurhayati mengaku gejala demam sudah muncul sejak Jumat (3/10) lalu. Saat itu, 51 siswa dan 5 guru mengalami demam usai menyantap MBG, meski belum sampai pada gejala muntah.
“Waktu itu saya pikir hanya demam biasa. Tapi karena hari ini sudah ada yang muntah, saya langsung lapor ke dinas,” ujarnya.
Respons Dinas: Tunggu Hasil Labor
Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang Panjang, Nasrul, membenarkan kejadian tersebut. Ia menyebut pihaknya langsung berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk pemeriksaan labor terhadap sampel makanan.
“Belum bisa dipastikan apakah faktor makanan atau sebab lain. Kita tunggu hasil labor dulu,” katanya.
Nasrul juga menyebut, pasca kasus serupa di Agam, pihaknya sudah mengingatkan penyedia MBG agar lebih berhati-hati dalam proses penyajian.
“Yang pasti, anak-anak yang sakit sudah ditangani. Kita menunggu hasil observasi RSUD dan hasil uji labor,” tambahnya.
Sementara kepala dinas kesehatan Padang Panjang saat dikonfirmasi dan dihubungi berkali kali melalui telepon seluler nya tak menjawab Warga Pertanyakan Kelayakan SPPG dan Pengawasan Antar Dinas
Peristiwa ini menimbulkan kegelisahan di tengah masyarakat. Program MBG yang semula disambut dengan antusias kini menimbulkan pertanyaan serius: bagaimana sebenarnya pengawasan terhadap makanan yang masuk ke sekolah-sekolah?
Salah seorang orang tua murid, Rita (38), menyebut bahwa kasus ini harus menjadi evaluasi total. Seperti kasus yang telah ada ,kasus seperti ini sering bersumber dari lemahnya pengawasan SPPG (Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga) terhadap produsen jajanan seperti MBG.
Bagaimana k kriteria dan standar kelayakan SPP-IRT / SPPG (Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga) yang harus dipenuhi oleh produsen seperti MBG agar dianggap layak beroperasi dan melayani masyarakat, terutama anak-anak ujar nya mempertanyakan
“Kalau programnya bagus, kami dukung. Tapi yang kami tanya, apakah SPPG-nya memang sudah layak dan tersertifikasi? Jangan sampai bahan makanannya tidak segar atau cara masaknya asal-asalan,” tambahnya
Tokoh masyarakat Padang Panjang Timur, Amril Datuak Basa, juga menyoroti lemahnya koordinasi antar instansi.
“Dinas Kesehatan dan dinas pertanian seharusnya rutin memeriksa kandungan gizi dan kebersihan MBG itu, bukan setelah anak-anak sakit baru turun tangan. Dinas Pertanian pun harus memastikan bahan seperti telur, tempe, dan sayur tidak busuk atau kadaluwarsa. Dan Dinas Pendidikan harus jadi pengawas utama di sekolah. Jangan hanya memantau laporan di atas kertas,” tegasnya.
Menurut Amril, sistem cross check antar dinas perlu diperkuat agar tidak ada pihak saling lempar tanggung jawab ketika masalah muncul.
Kalau sudah bicara makanan anak-anak sekolah, ini bukan soal proyek lagi, tapi soal nyawa dan masa depan mereka,” katanya
Kasus Meluas ke Sekolah Lain
Dari penelusuran media ini , dugaan keracunan MBG tidak hanya menimpa siswa SDN 09 PPT. Beberapa siswa SMPN 3 Padang Panjang yang satu kompleks dengan SDN 09 juga mengalami gejala serupa.
Selain itu, siswa dari SDN 10, SDN 07, dan SDN 05 Padang Panjang Timur juga dilaporkan mengalami demam setelah menyantap MBG, meski tidak sampai muntah.
Menanti Jawaban dari Laboratorium
Hingga Selasa malam, ketujuh siswa SDN 09 PPT masih menjalani observasi di RSUD Padang Panjang. Masyarakat kini menanti hasil laboratorium yang diharapkan dapat menjawab: apakah benar MBG menjadi penyebab utama, atau ada faktor lain di luar dugaan.
Program yang digadang-gadang untuk memperkuat gizi dan semangat belajar anak-anak itu kini menghadapi ujian kepercayaan.Di tengah keresahan para orang tua, muncul satu pertanyaan yang menggantung, apakah makanan bergizi gratis itu benar-benar bergizi dan aman? ( Paulhendri )














