JACOB ERESTE| SINYALNEWS.COM – Menulis itu seperti buang hajat, tak boleh ditunda, apalagi di tahan-tahan. Karena pada momen yang tepat, sulit untuk ditemukan momen yang bisa terulang. Apalagi karena keterlambatan saja, keinginan untuk menulis itu bisa hilang. Seperti kentut yang menguap dibawa angin tak bisa diharap bisa kembali ke keadaan semula.
Kalau pun kemudian muncul semacam ide dan gagasan baru penggantinya, itu tetap sama seperti yang pernah muncul sebelumnya. Maka itu, menuliskan ide atau gagasan itu tetap seperti menyampaikan hajat yang tidak boleh ditunda-tunda atau diganti dalam bentuk hajat yang lain, karena yang muncul kemudian adalah ide dan pemikiran yang berubah bersama waktu atau tempat yang ikut berubah atau berpindah.
Karena itu ide atau gagasan yang mampu diwujudkan dalam bentuk tulisan yang tersusun indah dan enak dibaca serta perlu diketahui oleh orang lain, menjadi semacam karunia yang mungkin tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kecuali itu, menulis suatu peristiwa, kisah atau semacam biografi dan sejenis karya tulis yang lain — termasuk fiksi — adalah suatu bukti yang paling otentik sebagai bukti bahwa sang penulis pernah hidup. Maka itu, karya tulis seseorang menjadi tanggung jawab pribadi, apapun bentuknya, tidak kecuali dalam bentuk berita atau laporan, apalagi ulasan ilmiah seperti opini maupun artikel.
Pada era kejayaan media online sekarang ini — yang secara tak langsung melibas media mainstream — bentuk dan warna racikannya pun patut disesuaikan agar memenuhi selera pembaca. Minimal muatan nilai investigasi bisa diramu lebih kental, agar ketahanannya dari kesan basi dapat lebih kuat bertahan, sebab nilai beritanya dari sebuah tulisan, hanya sekedar untuk menjadi wadah pembungkus semata, agar supaya dapat memenuhi unsur sajian yang tidak lagi menjadi unggulan. Selain itu — nilai berita atau berita — perlu disadari semacam nilai yang dapat memuat sajian tulisan secara keseluruhan — dalam bentuk apapun — yang menjadi sajian media online. Sebab keunggulan media online yang utama adalah keunggulan dalam kecepatan dalam bilangan menit, tidak seperti media lain yang dicetak. Apalagi kemudian harus disandingkan dengan media audio visual atau audio type yang bisa dilakukan on air — seketika itu juga — saat acara atau acara sedang berlangsung.
Banten, 20 Juli 2024














