PadangPanjang,Sinyalnews.com-Hujan belum reda. Langit Padangpanjang masih menyimpan kelabu yang belum pergi. Di antara dingin yang menusuk dan kepanikan yang belum sepenuhnya mereda, satu per satu warga yang terdampak bencana mencoba bertahan di lokasi pengungsian,sebagian hanya berbekal pakaian di badan.
Di halaman sebuah sekolah yang kini berubah menjadi posko darurat, suasana haru kembali mengalir. Beberapa warga berdiri berdekatan, menyambut kedatangan bantuan yang mereka butuhkan untuk sekadar melanjutkan hari.
Di tengah kerumunan itu, tampak Ketua DPD PAN Kota Padangpanjang, Mardiansyah, S.Kom, menyodorkan paket sembako,beras dan telur—kepada para relawan posko. Tangannya terulur, wajahnya tampak serius namun lembut. Di sisinya, beberapa warga menyaksikan dengan mata yang memancarkan rasa lega. Sementara seorang pria lain tampak membungkukkan badan, mengangkat karung beras yang baru saja ditempatkan di lantai posko.
Gerak kecil itu sederhana. Namun di situ, tersimpan makna besar: ada yang peduli, ada yang tidak tinggal diam ketika 1226 (464 Jiwa PP.Barat , 762 jiwa PP.Timur) harus meninggalkan rumah mereka akibat bencana hidrometeorologi yang melanda PadangPanjang
“Ini bukan sekadar bantuan,” ujar Mardiansyah dalam kesempatan itu. “Ini bentuk kepedulian kami kepada saudara-saudara yang sedang berjuang melewati masa sulit. Kami tidak ingin hanya hadir dengan tangan kosong. Kami ingin memberi apa yang kami mampu, sambil terus mencarikan solusi untuk persoalan yang menimpa masyarakat saat ini.”
Karena bencana ini bukan hanya merusak rumah dan harta benda. Ia juga memutus aktivitas ribuan warga. Lahan pertanian rusak, pekerjaan terhenti, pendapatan lumpuh. Bagi sebagian besar, hidup terasa berhenti mendadak.
Di sembilan lokasi pengungsian ,dari GOR Bancah Laweh hingga ruang-ruang kelas SDN 11 PadangPanjangTimur,ratusan warga bertumpuk. Ada anak-anak yang masih menangis ketakutan. Ada orang tua yang belum sempat menyelamatkan apapun dari rumah mereka. Dan ada yang hanya memandang kosong, masih sulit percaya bahwa bencana datang begitu cepat.
Asisten Administrasi Umum Setdako, Ade Nafrita Anas, menyebut jumlah pengungsi masih terus bertambah. Longsor kecil bermunculan, beberapa lokasi mulai menunjukkan retakan tanah. Pemerintah tak berhenti mengevakuasi.
Namun di balik semua itu, aliran bantuan terus datang. Dari pemerintah, lembaga, hingga masyarakat yang ingin berbagi. Dapur umum pun menerima paket makanan dari berbagai pihak yang peduli.
Dalam foto yang diabadikan diatas ,tampak jelas sebuah pesan kuat,bencana memang merenggut banyak hal, tetapi ia juga melahirkan solidaritas dan solidaritas itulah yang membuat PadangPanjang tetap berdiri.(paulhendri)














