Home / BERITA / DAERAH / HUKUM / KEMENTERIAN / KOTA PADANG PANJANG / NASIONAL / PERISTIWA / SUMBAR

Thursday, 28 May 2026 - 00:50 WIB

Ketika Daging dari Balik Jeruji Mengetuk Nurani Kota

Iduladha di Rutan Padang Panjang menghadirkan pemandangan yang jarang terlihat: petugas dan warga binaan duduk satu talam, memasak bersama, lalu berbagi rendang untuk kaum duafa.

Padang Panjang .Sinyalnews.com— Pintu pagar rumah itu terbuka perlahan.

Seorang pria berbaju kaus hitam tampak tersenyum ketika menerima sebungkus daging kurban dari tangan petugas Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Padang Panjang. Di samping petugas itu, beberapa warga binaan ikut berdiri membawa paket-paket makanan siap santap.

Tidak ada jarak.

Tidak ada rasa canggung.

Di sudut Kota Padang Panjang itu, siang menjelang sore terasa berbeda. Sebab bantuan itu datang dari tempat yang selama ini identik dengan hukuman: rumah tahanan.

Di balik tembok tinggi dan jeruji besi yang kerap dipandang dingin, Iduladha tahun ini justru menghadirkan wajah kemanusiaan yang hangat dan menyentuh.

Sejak pagi, Rabu (27/05), suasana di dalam Rutan Padang Panjang dipenuhi aktivitas. Seekor sapi dan dua ekor domba disembelih di halaman dalam rutan. Hewan kurban itu berasal dari pegawai rutan, warga binaan pemasyarakatan (WBP), serta bantuan Yayasan Dar El-Iman.

Namun yang membuat suasana terasa berbeda bukan hanya jumlah hewan kurban yang disembelih.

Melainkan bagaimana proses itu dijalani bersama-sama.

Petugas dan warga binaan saling berjibaku membersihkan daging, memotong tulang, hingga memasak gulai dan rendang dalam kuali besar. Asap kayu bakar mengepul dari dapur sederhana di sudut rutan. Peluh bercampur aroma rempah memenuhi udara.

Tangan-tangan yang selama ini dipisahkan oleh status “penjaga” dan “yang dijaga”, hari itu bekerja berdampingan tanpa sekat.

Menjelang siang, suasana semakin hangat ketika tradisi makan bajamba khas Minangkabau digelar di aula rutan.

Nasi dan lauk tersusun di atas talam besar. Semua duduk melingkar. Tidak ada meja khusus pejabat. Tidak ada kursi kehormatan.

Filosofi Minangkabau “duduak samo randah, tagak samo tinggi” benar-benar hidup di ruangan itu.

Yang menjaga duduk sejajar dengan yang dijaga.

Kepala Rutan Kelas IIB Padang Panjang, Novri Abbas, terlihat turun langsung dalam seluruh rangkaian kegiatan. Mulai dari penyembelihan, pemotongan daging, memasak hingga menata hidangan makan bajamba.

“Kita ingin warga binaan juga merasakan suasana kurban layaknya masyarakat di luar. Dengan makan bajamba ini kita berharap silaturahmi antara petugas dan warga binaan semakin erat sehingga tercipta lingkungan rutan yang humanis, aman dan tertib,” ujarnya.

Namun cerita Iduladha di rutan itu tidak berhenti di meja makan.

Di tengah keterbatasan hidup di balik jeruji, para warga binaan ternyata masih menyisakan empati untuk masyarakat luar.

Baca Juga :  Keris Solo,  Bentuk Penghormatan dan Pengenalan Budaya Indonesia 

Sebanyak 30 paket daging kurban dibagikan kepada masyarakat sekitar rutan.

Pemandangan itu menghadirkan ironi yang menggetarkan: mereka yang sedang kehilangan kebebasan justru masih memikirkan orang lain di luar tembok penjara.

“Alhamdulillah tahun ini kami bisa menikmati daging kurban. Kami juga bersyukur bisa berbagi dengan masyarakat sekitar,” ungkap Muhammad Syukron, salah seorang warga binaan.

Kalimat sederhana itu terasa dalam.

Sebab kepedulian ternyata tidak selalu lahir dari orang-orang yang hidup berkecukupan. Kadang justru tumbuh dari mereka yang sedang berada dalam keterbatasan.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Dewi Novyenti. Dalam sambutannya, ia mengingatkan bahwa warga binaan tetap memiliki hak untuk diperlakukan secara manusiawi.

“Warga binaan juga memiliki hak mendapatkan perlakuan yang baik dari petugas. Jika ada tindakan kekerasan terhadap warga binaan, silakan laporkan,” tegasnya yang disambut tepuk tangan warga binaan.

Pesan itu terasa penting.

Sebab pemasyarakatan sejatinya bukan sekadar tempat menghukum manusia, melainkan ruang untuk mengembalikan manusia kepada nilai kemanusiaannya.

Dan Rutan Padang Panjang mencoba menunjukkannya lewat cara sederhana: makan bersama dan berbagi.

Tidak berhenti sampai di situ, malam harinya suasana hangat kembali terasa di dalam rutan.

Aroma sate yang dibakar mengepul memenuhi halaman. Bara api menyala di antara kipasan tangan para petugas dan warga binaan yang sibuk memanggang tusukan demi tusukan sate.

Kuah kuning, saus kacang, hingga kecap telah tersusun rapi di meja panjang.

Aroma daging bakar itu menggoda siapa saja yang melintas.

Satu per satu warga binaan mulai berbaris rapi. Mereka duduk bersaf di aula sederhana. Di depan masing-masing telah tersaji sepiring sate dengan sepuluh tusuk sate lengkap dengan kuah dan nasi.

Tidak ada perbedaan.

Menu yang disantap warga binaan sama dengan yang dinikmati Karutan dan tamu yang hadir, termasuk Dewi Novyenti.

Sebelum makan dimulai, seorang warga binaan diminta memimpin doa. Suasana mendadak hening.

Di tempat yang biasanya dipenuhi tekanan hidup dan kegelisahan, malam itu justru terasa seperti sebuah keluarga besar yang sedang berkumpul.

Usai makan, suasana berubah cair.

Warga binaan dipersilakan menampilkan suara emas mereka. Satu demi satu lagu mengalun dari pengeras suara sederhana. Beberapa menyanyikan lagu bernuansa perjuangan hidup. Sebagian lainnya membawakan lagu penuh kerinduan kepada keluarga.

Nada-nada itu terdengar biasa.

Tetapi malam itu, ia seperti membawa luka yang selama ini dipendam para penghuni rutan.

Baca Juga :  Kecamatan lembah melintang kabupaten pasaman barat Upacara Peringatan HUT RI ke 78 proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2023

Di tengah suasana haru itu, seorang warga binaan bernama Gema Yuda Dt Marakan berdiri memegang mikrofon.

Dengan suara bergetar, ia menyampaikan isi hati para warga binaan.

“Selama Pak Novri Abbas di sini, kami merasa jadi manusia kembali. Baru 15 hari beliau menjadi Karutan, tapi bagi kami beliau bukan hanya kepala rutan, beliau adalah bapak kami. Dan Ibu Kakanwil adalah ibu kami. Dulu kami merasa hanya terpidana. Sekarang kami merasa kembali mendapatkan kemanusiaan kami,” ucapnya.

Ruangan mendadak sunyi.

Beberapa tamu tampak menundukkan kepala. Ada yang diam-diam mengusap air mata.

Di sudut ruangan, Dewi Novyenti terlihat berdiri menghampiri warga binaan yang sedang bernyanyi.

Ia kemudian menyawer penyanyi itu.

Suasana pun pecah menjadi tepuk tangan dan tawa haru.

Saweran demi saweran mengalir di setiap lagu yang dinyanyikan warga binaan malam itu. Alunan suara mereka yang penuh penghayatan membuat suasana berubah emosional.

Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya malam hiburan sederhana di dalam rutan.

Namun bagi para warga binaan, malam itu terasa seperti sesuatu yang telah lama hilang dari hidup mereka: dihargai sebagai manusia.

Langkah itu juga mendapat apresiasi dari Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Padang Panjang, Supriyanto.

Menurutnya, keputusan membagikan rendang siap saji menunjukkan bahwa berbagi tidak cukup hanya memberi, tetapi juga memahami kesulitan masyarakat kecil hari ini.

“Hari ini mungkin banyak masyarakat mendapatkan daging kurban. Tapi tidak semua punya uang membeli cabai, santan, atau bumbu untuk memasaknya. Ada yang menerima daging, tapi bingung mau dimasak bagaimana. Ketika Rutan Padang Panjang memilih membagikan rendang siap saji, itu sangat menyentuh. Ini bukan hanya berbagi makanan, tetapi berbagi rasa kemanusiaan,” ujarnya.

Di tengah pembagian itu, seorang warga penerima bantuan tampak berkaca-kaca saat menerima paket rendang dari tangan petugas dan warga binaan.

“Biasanya kami hanya menerima daging mentah. Tapi kali ini sudah dimasak jadi rendang dan tinggal dimakan bersama keluarga. Kami benar-benar salut. Tidak menyangka warga binaan di dalam rutan masih punya kepedulian sebesar ini kepada masyarakat luar,” tuturnya pelan.

Di tengah tekanan ekonomi yang makin berat bagi masyarakat kecil, langkah sederhana dari balik jeruji itu justru terasa begitu besar maknanya.

Sebab ternyata, kadang yang paling memahami rasa lapar bukan mereka yang hidup dalam kelimpahan.

Melainkan mereka yang pernah merasakan kehilangan.(paulhendri)

Share :

Baca Juga

ARTIKEL

Perkokoh Kemanunggalan, Babinsa Koramil Kuala Kencana Bersama Warga Kerja Bakti Pasang Paving Block Di Halaman Masjid

BERITA

Pandam I Bukit Barisan Pimpin Sertijab Danrem 032 Wirabraja Kolonel KAV.Rayen Obersyl

ARTIKEL

Panglima TNI Hadiri Rapat Terbatas Pimpinan Presiden RI  

ARTIKEL

Chef Dr Liza Zainol Malaysia, Kuliner Terbaik Dunia, Pemegang Guiness Book of Records 2023 Hadir di IMLF

ARTIKEL

RTL Transisi PAUD-SD, Kegiatan Pertukaran Guru Segera Dilaksanakan

SEPAK BOLA

“Di Meja Bukber Itu, Ratusan Karyawan MTJ–MT Group Menemukan Hangatnya Keluarga di Bulan Ramadan”

BERITA

Kepala Desa Windu Sakti Dasan Menolong Pengendara Sepeda Motor yang Kecelakaan

BERITA

Bakamla RI Bangun Peluang Kerja Sama Lewat Maritime Security Symposium