Oleh: Paulhendri
Di sudut pasar Padang Panjang, seorang bapak tua tertidur di emperan toko, bersandar letih di samping tumpukan kelapa yang dijualnya. Ia berangkat dari kampung sebelum fajar, menembus dingin malam, hujan, bahkan badai, hanya demi sampai tepat waktu di pekan Senin dan Jumat.
Usia senja tidak membuatnya berhenti mencari nafkah. Meski tubuh rapuh, langkahnya tertatih, perjuangan itu tetap ia jalani. Ironisnya, perjalanan hidupnya hari ini terasa jauh lebih perih dibanding masa mudanya saat harus bergerilya melawan penjajah. Saat itu ia berjuang demi kemerdekaan. Kini, ia berjuang hanya demi sesuap nasi.
Potret ini adalah wajah nyata bangsa kita. Di tengah rakyat yang masih berjuang keras untuk bertahan hidup, pejabat-pejabat negeri justru banyak yang larut dalam kenikmatan kekuasaan. Uang rakyat dikuras lewat praktik menyimpang, proyek-proyek penuh kepentingan, hingga kebijakan yang lebih berpihak pada segelintir elit ketimbang rakyat kecil.
Tokoh masyarakat Padang Panjang, Romi Martianus, SH, menegaskan bahwa kemerdekaan tidak akan pernah utuh selama rakyat kecil masih menanggung beban hidup yang berat. “Inilah wajah asli negeri kita. Rakyat tertatih di jalanan, sementara pejabat berpesta di ruang ber-AC. Merdeka seharusnya berarti merdeka dari penderitaan. Jika belum, artinya janji kemerdekaan masih dikhianati,” ujarnya.
Sementara itu, ulama setempat Buya Hamidi Labai Sati memberikan nasihat: “Allah tidak akan memberkahi negeri jika pemimpin menutup mata dari penderitaan rakyatnya. Kemerdekaan itu amanah. Amanah harus ditunaikan dengan adil, bukan dipakai untuk memperkaya diri sendiri.”
Kenyataan pahit ini juga dirasakan langsung oleh rakyat kecil. Salah seorang pedagang pasar, Uni Yanti, mengungkapkan, “Kami berdagang sampai malam, tidur di emperan, pulang dengan sisa untung seadanya. Kadang tidak cukup untuk makan anak-anak. Sementara orang di atas sibuk dengan acara seremonial, nasib kami tidak pernah tersentuh.”
Senada, perwakilan THL yang dirumahkan sejak 1 Juli “AS” menambahkan “Kami ini rakyat juga. Kami hanya ingin bekerja, ingin hidup layak. Kalau negara tidak berpihak pada kami, lalu kepada siapa lagi kami harus berharap?”
Kita tidak boleh menutup mata. Selama masih ada rakyat yang hidup di bawah garis layak, selama orang tua renta masih harus menanggung beban hidup tanpa perlindungan negara, maka kemerdekaan belum sepenuhnya hadir bagi semua.
Tugas pemimpin bangsa hari ini bukan sekadar menjaga simbol kemerdekaan, melainkan memastikan keadilan benar-benar dirasakan di setiap lapisan masyarakat. Agar perjuangan rakyat kecil, seperti bapak tua penjual kelapa itu, tidak lagi lebih pahit dibanding masa-masa melawan penjajah.
Merdeka seharusnya berarti merdeka dari rasa lapar, merdeka dari penderitaan, dan merdeka dari penindasan kebijakan. Selama hal itu belum tercapai, bangsa ini masih berhutang pada rakyatnya sendiri.














