Home / BERITA / BUDAYA / DAERAH / KOTA PADANG / PERISTIWA / POLITIK / SUMBAR

Thursday, 24 September 2026 - 12:55 WIB

Pertarungan Usai, Konsolidasi Adat Dimulai: Musdafirman Titip Harapan Besar kepada Irwan Basir

PADANG, Sinyalnews.com — Pemilihan Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Kota Padang telah usai. Irwan Basir, SH., MH., Dt. Rajo Alam, dipercaya memimpin LKAAM Kota Padang. Bagi Ketua KAN Pauh IX Kota Padang, Musdafirman Datuk Rajo di Guci, S.Si., berakhirnya proses pemilihan harus sekaligus menjadi penanda berakhirnya aura pertarungan antarkandidat.

Kini, kata Musdafirman, saatnya seluruh energi yang sebelumnya terserap dalam kontestasi dikembalikan kepada kepentingan yang lebih besar, yakni konsolidasi adat dan masa depan kehidupan bernagari di Kota Padang.

“Setelah terpilihnya Irwan Basir Dt. Rajo Alam sebagai Ketua LKAAM Kota Padang, dengan sendirinya aura pertarungan kandidat harus berubah menjadi aura konsolidasi menuju kebaikan. Tidak ada lagi kubu-kubuan. Yang ada sekarang adalah bagaimana kita bersama-sama membangun adat,” ujar Musdafirman.

Menurutnya, kemenangan dalam sebuah pemilihan bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab yang sesungguhnya.

“Justru setelah terpilih, tanggung jawab beliau menjadi semakin besar. Harapan ninik mamak dari seluruh nagari di Kota Padang sekarang tertumpang kepada beliau,” katanya.

Berangkat dari Aspirasi Ninik Mamak

Musdafirman menilai posisi Irwan Basir memiliki modal sosial yang kuat karena berangkat dari usulan ninik mamak Kerapatan Adat Nagari se-Kota Padang.

Karena itu, menurutnya, amanah tersebut tidak boleh dipandang sekadar sebagai jabatan organisasi.

“IB berangkat dari usulan ninik mamak. Maka yang dibawa bukan hanya nama organisasi, tetapi juga harapan banyak ninik mamak di Kota Padang. Itu menjadi amanah yang besar,” ujarnya.

Di sisi lain, posisi Irwan Basir sebagai anggota Tim Percepatan Pembangunan (TPP) Kota Padang dinilai memberikan ruang strategis untuk mempertemukan kepentingan pemerintah dengan kepentingan adat.

Menurut Musdafirman, tantangannya adalah bagaimana program pembangunan pemerintah dapat berjalan seiring dengan penguatan nilai dan kelembagaan adat.

“Beliau punya posisi yang strategis. Sebagai anggota TPP, tentu diharapkan mampu mendinergikan program pemerintah dengan kepentingan kaum adat. Jangan sampai pemerintah berjalan ke satu arah dan adat berjalan ke arah lain. Harus ada titik temu,” katanya.

Bukan Sekadar Menjaga Simbol Adat

Musdafirman menilai komitmen menjaga marwah adat Kota Padang harus diterjemahkan ke dalam kerja nyata.

Menurutnya, menjaga marwah adat bukan sekadar mempertahankan simbol, gelar, atau seremoni, tetapi menghidupkan kembali nilai-nilai adat dalam kehidupan masyarakat.

“Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana mewujudkan kehidupan bernagari dalam konteks Kota Padang. Kita tidak mungkin memutar waktu kembali ke masa lalu. Tetapi nilai-nilai kehidupan bernagari yang masih relevan harus bisa kita hidupkan dalam masyarakat modern,” katanya.

Baca Juga :  Dinas Pendidikan Sumbar akan Bangun SMAN 17 Padang di Tahun Ini, Solusi Zonasi Bagi Siswa Asal Nanggalo

Ia menilai ninik mamak harus kembali memiliki ruang yang nyata dalam kehidupan sosial masyarakat, termasuk dalam persoalan keluarga, budaya, generasi muda, serta hubungan masyarakat dengan tanah ulayat.

Pauh IX Sudah Memulai

Musdafirman mengungkapkan, dalam pertemuannya dengan Ketua LKAAM Sumatera Barat, Prof. Dr. Fauzi Bahar, M.Sc., Dt. Sati, ia sempat membicarakan pengalaman penguatan adat yang telah berjalan di Nagari Pauh IX.

Menurutnya, beberapa hal yang sekarang menjadi perhatian dalam penguatan adat sesungguhnya sudah mulai dijalankan di Pauh IX.

“Di bawah kepemimpinan dan pertimbangan IB, beberapa penguatan adat sudah kita jalankan di Nagari Pauh IX. Bahkan ada program yang mungkin baru menjadi gagasan atau niat bagi pengurus lain, tetapi di Pauh IX sudah kita praktikkan,” ujar Musdafirman.

Ia mencontohkan penguatan peran ninik mamak dalam prosesi pernikahan, pelibatan ninik mamak dalam persoalan keabsahan ulayat, serta kegiatan-kegiatan yang mengangkat kembali nilai budaya dan adat di tengah masyarakat.

“Ini sebenarnya pengalaman yang bisa dibawa ke tingkat Kota Padang. Apa yang sudah berjalan di Pauh IX tidak harus berhenti sebagai pengalaman satu nagari. Kalau memang baik dan sesuai dengan kondisi nagari lain, tentu bisa dikembangkan,” katanya.

Dari Pauh IX untuk Kota Padang

Musdafirman melihat pengalaman tersebut sebagai modal awal bagi kepemimpinan LKAAM Kota Padang ke depan.

Menurutnya, Kota Padang tidak kekurangan tokoh adat maupun gagasan. Yang dibutuhkan adalah kemampuan menghubungkan berbagai pengalaman baik di masing-masing nagari menjadi sebuah gerakan bersama.

“Setiap nagari tentu mempunyai pengalaman dan kekuatan masing-masing. Tugas kepemimpinan adat di tingkat kota adalah bagaimana pengalaman-pengalaman itu dikonsolidasikan,” ujarnya.

Ia berharap kepemimpinan Irwan Basir dapat menjadi ruang bertemunya berbagai kekuatan adat di Kota Padang.

Bukan untuk menyeragamkan seluruh nagari, tetapi untuk memperkuat nilai-nilai adat yang menjadi akar bersama masyarakat Minangkabau.

“Jangan lagi energi kita habiskan untuk memperdebatkan siapa yang paling berhak berbicara tentang adat. Sekarang waktunya membuktikan bahwa adat memang bisa memberi kontribusi terhadap kehidupan masyarakat dan pembangunan kota,” tegas Musdafirman.

“Biduak Lalu, Kiambang Batawik”

Dalam konteks berakhirnya kontestasi tersebut, Musdafirman mengingatkan kembali salah satu ungkapan adat Minangkabau yang menurutnya sangat relevan untuk menjadi pegangan bersama, yakni “Biduak lalu, kiambang batawik.”

Menurutnya, pepatah tersebut menggambarkan bahwa setelah suatu proses dilalui, hubungan yang sempat renggang harus kembali dipulihkan. Perbedaan pilihan dalam sebuah pemilihan merupakan bagian dari dinamika organisasi, tetapi setelah keputusan ditetapkan, seluruh pihak harus kembali bersatu untuk kepentingan adat.

Baca Juga :  Dinilai Memiliki Kepedulian Besar, Gubernur Mahyeldi Dianugerahi Gelar Kehormatan "Abah Rakean" oleh Paguyuban Warga Sunda.

“Biduak lalu, kiambang batawik. Artinya, setelah proses pemilihan selesai, jangan lagi kita bawa suasana pertarungan ke dalam perjalanan organisasi. Yang perlu kita lakukan sekarang adalah merajut kembali hubungan, memperkuat silaturahmi dan bersama-sama membangun adat,” ujar Musdafirman.

Ia menegaskan, perbedaan pilihan selama proses pemilihan merupakan hal yang wajar. Namun, perbedaan tersebut tidak semestinya menjadi sekat dalam menjalankan amanah adat.

“Kalau ada perbedaan selama proses pemilihan, itu hal yang biasa. Tetapi setelah pemilihan selesai, kiambang harus kembali batawik. Yang terpilih harus merangkul semuanya, dan yang belum terpilih juga harus memberikan dukungan terhadap agenda-agenda adat yang baik,” katanya.

Menurut Musdafirman, semangat “Biduak lalu, kiambang batawik” bukan berarti menghapus proses yang telah terjadi, melainkan menjadikan seluruh pengalaman selama kontestasi sebagai bahan untuk memperkuat kebersamaan.

“Yang sudah berlalu jadikan pengalaman. Jangan dijadikan alasan untuk terus mempertahankan perbedaan. Sekarang waktunya kembali kepada tujuan utama, yaitu bagaimana adat tetap hidup, marwah ninik mamak terjaga, dan kehidupan masyarakat Kota Padang semakin baik,” tegasnya.

Tidak Ada Lagi yang Menang dan Kalah

Musdafirman kembali menegaskan bahwa setelah pemilihan selesai, istilah menang dan kalah seharusnya tidak lagi menjadi ukuran dalam perjalanan LKAAM Kota Padang.

“Dalam pemilihan tentu ada yang terpilih dan ada yang belum terpilih. Itu bagian dari proses. Tetapi setelah keputusan selesai, tidak ada lagi yang menang dan kalah. Semua harus kembali menjadi kekuatan adat,” katanya.

Menurutnya, Irwan Basir kini memiliki tugas untuk merangkul seluruh elemen yang sebelumnya berbeda pilihan.

“Ketua terpilih harus menjadi rumah bersama. Yang mendukung maupun yang tidak mendukung saat pemilihan, semuanya adalah bagian dari masyarakat adat Kota Padang,” ujar Musdafirman.

Ia berharap momentum pergantian kepemimpinan LKAAM tersebut menjadi titik balik bagi penguatan komunikasi antara LKAAM, KAN, pemerintah daerah, serta seluruh unsur masyarakat adat.

Sebab, menurut Musdafirman, persoalan terbesar adat bukan lagi soal siapa yang memimpin, tetapi bagaimana adat tetap mempunyai tempat dalam kehidupan masyarakat yang terus berubah.

“Kalau konsolidasi ini bisa dilakukan, maka pemilihan kemarin bukan sekadar pergantian ketua. Ia bisa menjadi awal dari babak baru penguatan adat di Kota Padang,” tutup Musdafirman Datuk Rajo di Guci.

(Putra sgm)

Share :

Baca Juga

BERITA

Ketika 3.500 Senyum Menjadi Harapan Sebuah Kota

ARTIKEL

Perkokoh Kemanunggalan, Babinsa Koramil 1710-07/Mapurujaya Bantu Pembangunan Rumah Warga

BERITA

Polsek Teluk Bintan Berikan Himbauan Keselamatan Kepada Masyarakat Dalam Bekerja

BERITA

Donizar Berikan Pencerahan Politik ke Gen Z di Pasaman

ARTIKEL

Bhabinkamtibmas Kelurahan Gunung Pangilun Hadiri Acara Milad 1 Konunitas Ta’awun Tabek

BERITA

Danramil 07/ Maos Menghadiri Undangan Kejuaraan Pencak Silat Anak dan Remaja lingkungan Perguruan PERSINAS ASAD Tahun 2023

BERITA

H. Edy Oktafiandi: Lepas Ribuan Gerak Jalan Kerukunan Tingkat Kota Padang

BERITA

Meriahkan HUT RI Ke-78, Polres Bintan Turunkan 3 Regu Dalam Tri Lomba Juang