Tabing . Sinyalnews.com— Sabtu itu, langkah menuju Gedung Makkatul Mukkaramah Asrama Haji Tabing, Padang, terasa lebih panjang dari biasanya. Ribuan kendaraan mengular di sejumlah ruas jalan. Kemacetan seakan menguji kesabaran siapa pun yang hendak sampai ke tujuan.
Namun, bagi sebagian orang, perjalanan panjang itu justru menjadi simbol dari kisah yang akan mereka saksikan.
Di ujung perjalanan, dua anak muda akhirnya dipersatukan dalam ikatan suci pernikahan. Warid Alfalah Sawir, A.Md.T, yang bertugas di Kejaksaan Negeri Kepulauan Mentawai, resmi mempersunting Rike Oktaviona, A.Md.A.B, yang mengabdi di Kejaksaan Negeri Padang Panjang.
Bagi keluarga besar, pernikahan itu bukan sekadar pesta. Ia adalah akhir dari penantian panjang sekaligus awal dari perjalanan hidup baru yang dibangun di atas kesabaran, kepercayaan, dan doa.
Perjalanan cinta Warid dan Rike bukanlah kisah yang lahir dalam kemudahan. Penempatan tugas di daerah berbeda, kesibukan sebagai aparatur penegak hukum, serta berbagai dinamika kehidupan menjadi ujian yang harus mereka lalui. Jarak tak jarang menjadi penghalang, waktu menjadi tantangan, tetapi keduanya memilih tetap bertahan.
Mereka membuktikan bahwa cinta sejati bukan hanya tentang saling mencintai ketika keadaan mudah, melainkan tetap menggenggam tangan pasangan ketika keadaan meminta untuk bersabar.
Menariknya, kisah perjuangan itu seolah mendapat gambaran nyata pada hari resepsi.
Rombongan PWI Kota Padang Panjang yang datang memenuhi undangan keluarga besar mempelai pria juga harus berjibaku melawan kemacetan panjang. Jika biasanya perjalanan dari Padang Panjang menuju Asrama Haji Tabing dapat ditempuh sekitar satu setengah jam, hari itu waktu tempuh membengkak menjadi hampir empat jam.
Lebih dari dua setengah jam tambahan dihabiskan di balik antrean kendaraan yang nyaris tidak bergerak. Mesin kendaraan menyala, lalu kembali berhenti. Beberapa meter melaju, kemudian kembali diam. Kesabaran benar-benar diuji.
Namun tidak ada keluhan yang terdengar.
Di dalam kendaraan justru mengalir canda, tawa, dan cerita antarsesama wartawan. Semua memahami bahwa di ujung perjalanan telah menunggu kebahagiaan seorang sahabat yang selama ini dikenal luas di dunia jurnalistik Sumatera Barat.
Perjalanan rombongan PWI itu seakan menjadi metafora dari kisah cinta Warid dan Rike sendiri. Bila kedua mempelai harus melewati panjangnya waktu dan berbagai ujian sebelum dipersatukan di pelaminan, para tamu pun harus melewati panjangnya kemacetan demi menjadi saksi lahirnya sebuah keluarga baru.
Di pelaminan yang dihiasi kemegahan adat Minangkabau, haru semakin terasa ketika kedua orang tua menyampaikan pesan-pesan kehidupan.
Ayah mempelai pria, Sawir Pribadi, Wakil Pemimpin Redaksi Harian Singgalang, mengingatkan bahwa rumah tangga bukan dibangun oleh siapa yang paling kuat, melainkan oleh dua insan yang sama-sama bersedia saling memahami.
“Rumah tangga bukan mencari siapa yang paling benar, tetapi siapa yang paling mampu menjaga cinta tetap hidup. Hormati pasangan, saling percaya, dan jangan pernah meninggalkan doa dalam setiap langkah kehidupan,” pesannya.
Sementara ayah mempelai perempuan, Azyudi Zul, mengingatkan bahwa kebahagiaan rumah tangga tidak lahir dari kesempurnaan, melainkan dari kemampuan suami dan istri menjaga komunikasi, saling menghormati, dan meredam ego ketika perbedaan datang.
“Jangan biarkan ego lebih besar daripada kasih sayang. Jadikan rumah sebagai tempat pulang yang paling menenangkan,” tuturnya.
Momentum bahagia itu juga menjadi ajang silaturahmi keluarga besar insan pers. Hadir memberikan ucapan selamat, Ketua PWI Kota Padang Panjang Supriyanto MF bersama Ketua SIWO PWI Padang Panjang Paulhendri.
Dalam sambutannya, Supriyanto dan Paulhendri menyampaikan bahwa kebahagiaan keluarga Sawir Pribadi juga menjadi kebahagiaan keluarga besar PWI.
“Kami turut bersyukur menyaksikan Warid dan Rike akhirnya dipersatukan. Semoga rumah tangga yang dibangun hari ini menjadi rumah yang dipenuhi kasih sayang, keberkahan, dan saling menguatkan hingga akhir hayat,” ujarnya.
Sementara Supriyanto MF didampingi ketua Siwo Padang Panjang yang juga meyunbangan tembang kenangan menilai, pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan, tetapi juga dua keluarga, dua nilai kehidupan, dan dua perjalanan yang kini menjadi satu tujuan.
“Kejujuran, kesetiaan, komunikasi, dan saling menghormati adalah fondasi yang harus terus dijaga. Semoga Warid dan Rike menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah serta memberi manfaat bagi lingkungan dan masyarakat,” katanya.
Di penghujung acara, senyum kedua mempelai menjadi penutup yang paling indah. Senyum yang tidak hanya lahir karena megahnya pesta, tetapi karena mereka telah berhasil melewati seluruh ujian menuju hari yang dinanti.
Dan mungkin, kemacetan panjang yang dialami para tamu hari itu akan segera terlupakan. Namun makna yang ditinggalkannya akan tetap tinggal: bahwa setiap perjalanan menuju kebahagiaan selalu membutuhkan kesabaran.
Sebab sejatinya, kehidupan mengajarkan satu hal yang sama, baik dalam cinta maupun dalam perjalanan menuju sebuah perayaan: tidak semua jalan menuju kebahagiaan terbentang lurus. Ada yang harus melewati jarak, waktu, kemacetan, air mata, bahkan penantian panjang. Tetapi ketika semua itu dilalui dengan keikhlasan dan doa, di ujungnya selalu ada pelaminan kehidupan yang dipenuhi senyum, restu, dan harapan.(paulhendri)














