PadangPanjang.Sinyalnews.com— Ada pekerjaan yang berlangsung nyaris tanpa sorotan, dari pintu ke pintu, dari satu keluarga ke keluarga lain. Para kader Dasawisma datang, mencatat, bertanya, dan mengumpulkan potongan-potongan informasi tentang kehidupan warga.
Pekerjaan itu mungkin tampak sederhana. Namun di balik lembar-lembar pendataan tersebut, tersimpan sesuatu yang menentukan arah kebijakan pemerintah: data tentang kehidupan masyarakat.
Karena itu, Wali Kota Padang Panjang Hendri Arnis mendorong kader Dasawisma mulai memanfaatkan teknologi digital dalam pendataan keluarga melalui aplikasi Papago, yang dikelola Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Padang Panjang.
Pesan tersebut disampaikan Hendri saat membuka Gebyar Dasawisma Kecamatan Padang Panjang Barat di Parkiran Barat Pasar Pusat, Rabu (19/8/2026).
Bagi Hendri, digitalisasi bukan sekadar memindahkan pekerjaan pencatatan dari kertas ke layar. Lebih jauh, Papago diharapkan membuat proses pengumpulan dan pembaruan data menjadi lebih mudah, cepat, tertib, sekaligus menghasilkan data yang akurat dan terpercaya.
Di tingkat paling bawah, kata Hendri, kader Dasawisma memiliki posisi yang sangat penting. Mereka berhadapan langsung dengan keluarga dan mengetahui kondisi riil masyarakat di lingkungan masing-masing.
Karena itu, data yang dikumpulkan kader bukan sekadar angka dalam sebuah sistem.
Di baliknya ada keluarga, anak-anak, kebutuhan warga, persoalan sosial, potensi ekonomi, dan berbagai kondisi masyarakat yang membutuhkan perhatian pemerintah.
“Data yang baik harus berangkat dari lapangan yang sebenarnya.” Prinsip itulah yang hendak diperkuat melalui pemanfaatan Papago.
Hendri meminta kader tidak melihat digitalisasi sebagai pekerjaan tambahan yang membebani. Sebaliknya, teknologi harus menjadi alat bantu agar pekerjaan pendataan yang selama ini dilakukan dapat berlangsung lebih sederhana dan efisien.
Sebab, semakin mudah data dikumpulkan dan diperbarui, semakin besar pula peluang pemerintah memiliki gambaran masyarakat yang aktual.
Dan dari sana, kebijakan semestinya bermula.Bukan Sekadar Perlombaan
Ketua TP PKK Kota Padang Panjang Ny. Maria Feronika Hendri mengajak para kader tidak ragu mengikuti perubahan zaman. Digitalisasi, menurutnya, merupakan bagian dari kebutuhan Dasawisma agar mampu bekerja lebih efektif sebagai ujung tombak gerakan PKK.
Namun, Maria mengingatkan bahwa Dasawisma tidak boleh berhenti pada urusan lomba dan administrasi.
Di balik setiap kegiatan, ada tujuan yang lebih besar,memperkuat keluarga.
Perhatian terhadap tumbuh kembang anak, ketahanan keluarga, kemandirian ekonomi, hingga kepedulian terhadap lingkungan sekitar merupakan bagian dari kerja Dasawisma yang sesungguhnya.
Sebab, keluarga yang berkualitas bukan lahir dari perlombaan sehari. Ia dibangun dari perhatian yang terus-menerus.
Semangat itulah yang dibawa dalam Gebyar Dasawisma Kecamatan Padang Panjang Barat yang berlangsung dua hari, 19–20 Agustus 2026.
Mengusung tema “Bersama Dasawisma, Mewujudkan Keluarga Berkualitas, Mandiri, dan Berprestasi”, kegiatan tersebut diisi berbagai perlombaan kreatif, mulai dari Ekspose Ketua Dasawisma, Bermain Peran, Stand UP2K, hingga Vlog Kekinian.
Tradisi dan kreativitas lokal juga mendapat ruang melalui lomba Marandang dan Nasi Lamang Sarikayo. Produk-produk UMKM masyarakat turut dipamerkan, memperlihatkan bahwa Dasawisma memiliki ruang yang luas untuk mendorong pemberdayaan ekonomi keluarga.
Camat Padang Panjang Barat Romi Ar Rahman mengapresiasi antusiasme para kader. Ia berharap kegiatan tersebut tidak hanya mempererat kebersamaan, tetapi juga melahirkan inovasi baru dan memperkuat perekonomian masyarakat melalui pemberdayaan Dasawisma dan UMKM lokal.
Data yang Menentukan Arah
Pada akhirnya, Gebyar Dasawisma bukan hanya tentang panggung, perlombaan, atau siapa yang menjadi juara.
Ada pekerjaan yang jauh lebih sunyi di baliknya.
Kader berjalan dari rumah ke rumah. Mengumpulkan informasi. Memastikan keadaan sebuah keluarga tercatat. Memperbarui data ketika kondisi berubah.
Kini pekerjaan itu diarahkan untuk masuk ke ruang digital melalui Papago.
Jika data adalah bahan baku kebijakan, maka akurasi menjadi harga yang tidak bisa ditawar.
Pemerintah tidak cukup hanya mengetahui berapa banyak warganya. Pemerintah perlu memahami bagaimana warganya hidup, apa yang mereka butuhkan, dan di mana intervensi harus diberikan.
Di situlah peran Dasawisma menjadi lebih dari sekadar organisasi di tingkat keluarga.
Ia menjadi mata yang melihat dari dekat, telinga yang mendengar dari lapangan, dan melalui Papago, data itu diharapkan dapat sampai kepada pemerintah dengan lebih cepat dan terpercaya.
Dari rumah ke rumah, data dikumpulkan. Dari data, kebijakan dirumuskan. Dan pada akhirnya, kebijakan itu harus kembali kepada rumah-rumah tempat data tersebut bermula.(paulhendri)














