Home / BERITA / BUDAYA / DAERAH / KOTA PADANG PANJANG / NASIONAL / PENDIDIKAN / PERISTIWA / SUMBAR

Wednesday, 19 August 2026 - 09:30 WIB

Mengenakan Cita-cita di Tengah Riuh Pawai Kemerdekaan

PadangPqnjang.Sinyalnews..com— Di tengah jalan yang penuh sesak, di antara bunyi drum dan kibaran Merah Putih, seorang anak berjalan dengan pakaian yang barangkali kelak ingin benar-benar dikenakannya.

Bukan sebagai kostum pawai.
Melainkan sebagai seragam kehidupan.

Raihan, 13 tahun, siswa kelas VI SDN Tanah Lapang, berjalan dalam Pawai Alegoris memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Padang Panjang, Selasa (18/8/2026). Di tengah barisan peserta yang bergerak dari Pasar Pusat menuju Lapangan Khatib Sulaiman Bancalaweh, ia membawa satu cita-cita yang sederhana sekaligus tinggi,menjadi seorang pilot.

Hari itu, untuk beberapa saat, Raihan seperti sedang mencoba mendekati masa depannya sendiri.
Ia berjalan di antara kerumunan warga, sementara orang-orang di pinggir jalan menyaksikan, memotret, dan memberi tepuk tangan. Di sekelilingnya, anak-anak lain juga membawa dunia mereka masing-masing,alat musik, pakaian adat, berbagai kostum dan kreasi yang lahir dari imajinasi.

Bagi orang dewasa, itu adalah pawai.
Bagi anak-anak, mungkin saja itu adalah kesempatan kecil untuk memperkenalkan siapa mereka ingin menjadi kelak.

“Semoga dengan pakaian hari ini saya mampu mencapainya, dan negara ini ke depan lebih baik untuk tunas muda,” ujar Raihan.

Kalimat itu sederhana.
Namun di tengah perayaan 81 tahun Indonesia merdeka, ia terdengar seperti sebuah pesan yang jauh lebih besar daripada usia yang mengucapkannya.
Sebab cita-cita seorang anak tidak pernah berdiri sendiri.

Ia membutuhkan sekolah yang baik. Guru yang mampu menyalakan rasa ingin tahu. Keluarga yang sanggup menopang. Lingkungan yang memberi ruang. Dan, pada akhirnya, sebuah negara yang memastikan bahwa kesempatan untuk tumbuh tidak hanya tersedia bagi mereka yang beruntung sejak lahir.

Selasa itu, pusat Kota Padang Panjang memang berubah. Jalanan menjadi panggung. Pasar Pusat menjadi titik awal. Warga memenuhi sisi jalan. Anak-anak duduk dan berdiri di antara kerumunan. Telepon seluler terangkat hampir di setiap sudut untuk mengabadikan peserta yang melintas.

Pawai dibuka Wali Kota Padang Panjang Hendri Arnis. Wakil Wali Kota Allex Saputra, Ketua DPRD Imbral, unsur Forkopimda, pimpinan instansi vertikal, Ketua TP PKK, Ketua GOW, Ketua DWP, Pj. Sekretaris Daerah, kepala OPD, camat, lurah, serta masyarakat turut hadir.

Baca Juga :  “Ketika Ruang Fiskal Menyempit, Padang Panjang Menolak Membiarkan Harapan Rakyat Meredup”

Dari Pasar Pusat, barisan bergerak menuju Simpang Karya, PDAM, SMPN 5 Padang Panjang, Simpang Masjid Taqwa, Rutan, Mie DKI, Paris Swalayan, kemudian berakhir di Lapangan Khatib Sulaiman Bancalaweh.

Kota seakan berhenti sejenak untuk melihat dirinya sendiri.
Ada budaya. Ada musik. Ada kostum. Ada tawa. Ada bendera yang dikibarkan tangan-tangan kecil.

Tetapi di balik kemeriahan itu, ada sesuatu yang sering luput dari sebuah perayaan: anak-anak yang sedang tumbuh menjadi Indonesia berikutnya.

Mereka yang hari ini masih berada di barisan pawai, beberapa tahun lagi akan memasuki ruang kehidupan yang berbeda.
Sebagian mungkin menjadi dokter.
Sebagian guru.
Sebagian tentara, polisi, pengusaha, petani, seniman, teknisi, jurnalis.
Dan mungkin, seperti Raihan, ada yang benar-benar akan duduk di kokpit pesawat.

Tetapi tidak ada yang dapat memastikan perjalanan mereka akan mudah.
Indonesia yang mereka warisi bukan negeri tanpa persoalan. Di luar jalan tempat pawai berlangsung, kehidupan terus berjalan dengan segala tantangannya. Pendidikan, kesempatan kerja, biaya hidup, kesenjangan, dan berbagai persoalan sosial akan menjadi bagian dari dunia yang kelak mereka hadapi.

Anak-anak itu belum tentu memahami semuanya.
Mereka hanya tahu satu hal: mereka ingin punya masa depan.
Dan mungkin justru karena itu, orang dewasa perlu berhenti sejenak untuk mendengar.

Wali Kota Hendri Arnis mengatakan Pawai Alegoris bukan sekadar hiburan, tetapi ruang bagi masyarakat untuk menunjukkan kreativitas, kebersamaan, dan kecintaan terhadap Kota Padang Panjang.

“Pawai ini bukan sekadar hiburan. Ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk menunjukkan kreativitas, kebersamaan, dan kecintaan terhadap Kota Padang Panjang,” ujar Hendri.

Pernyataan itu terasa menemukan maknanya ketika melihat Raihan dan anak-anak lain berjalan.

Sebab kreativitas yang dipertontonkan hari itu sesungguhnya adalah bagian kecil dari proses panjang membentuk generasi.

Anak yang hari ini memainkan alat musik mungkin sedang menemukan dunianya.

Anak yang mengenakan pakaian profesi mungkin sedang mencoba membayangkan kehidupannya kelak.

Baca Juga :  Forkopimda Batang Gelar Upacara Tabur Bunga di Laut Peringati Hari Pahlawan Tahun 2023

Dan anak yang berjalan dengan pakaian pilot seperti Raihan sedang melakukan sesuatu yang sangat sederhana: berani membayangkan dirinya lebih jauh daripada hari ini.

Di situlah kemerdekaan menemukan makna yang lain.
Kemerdekaan bukan hanya tentang kemampuan sebuah bangsa mengenang perjuangan masa lalu.

Ia juga tentang kemampuan memberikan masa depan kepada mereka yang belum lahir ketika kemerdekaan diperjuangkan.

Barangkali bagi sebagian orang, pawai akan selesai ketika peserta terakhir tiba di Bancalaweh.
Drum berhenti dipukul.
Kostum dilepas.
Bendera kecil disimpan.
Jalan kembali menjadi jalan biasa.

Tetapi bagi Raihan, cita-cita itu tidak selesai bersama pawai.
Besok ia kembali menjadi siswa.
Kembali belajar.
Kembali menjalani kehidupan sebagai anak kelas VI.

Namun ada sesuatu yang sudah ia ucapkan hari itu kepada orang-orang yang mendengarnya: ia ingin menjadi pilot.

Dan ia berharap negeri tempat ia tumbuh kelak menjadi lebih baik bagi tunas muda.

Harapan itu seharusnya tidak dianggap sebagai kalimat kecil seorang anak.
Sebab setiap generasi selalu mewarisi Indonesia dari generasi sebelumnya.

Mereka tidak hanya mewarisi bendera.
Mereka mewarisi sekolah, jalan, udara, kesempatan, kebijakan, lingkungan, dan segala keputusan yang dibuat orang-orang dewasa hari ini.

Karena itu, ketika anak-anak berjalan membawa cita-citanya dalam sebuah pawai kemerdekaan, pertanyaan sesungguhnya bukan lagi tentang seberapa meriah acara itu.

Pertanyaannya jauh lebih sederhana, tetapi sekaligus lebih berat,
Apakah Indonesia akan menjadi negeri yang cukup baik untuk membuat mimpi mereka menjadi kenyataan?

Raihan hari itu belum menerbangkan pesawat.
Ia baru berjalan di sebuah ruas jalan Kota Padang Panjang, mengenakan pakaian dari cita-citanya, di tengah riuh tepuk tangan dan kibaran Merah Putih.

Tetapi mungkin memang begitulah masa depan dimulai.
Bukan dari kokpit.
Bukan dari podium.
Melainkan dari seorang anak yang berani berkata:

“Saya ingin menjadi pilot.”

Dan dari orang-orang dewasa yang memilih untuk memastikan bahwa suatu hari nanti, ia benar-benar punya kesempatan untuk terbang.(paulhendri)

Share :

Baca Juga

ARTIKEL

Kegaduhan Tengah Malam di Cilacap Selatan Disertai Tembakan Benda Mirip Pistol, Dua Pemuda Ditangkap

BERITA

MKKS SMKN KAB BENGKALIS DUKUNGAN MASYARAKAT SEKOLAH DALAM PELAKSANAAN KURIKULUM MERDEKA BELAJAR DI PROV RIAU

ARTIKEL

Lebih “Awal”, Polres Kebumen Gelar Latihan Dalmas serta Pengecekan Peralatan Pengamanan Pemilu 2024

BADAN NEGARA

Wamendag RI Monitoring Harga Bahan Pokok di Pasar Raya Padang  

BERITA

Pukau Seluruh Penonton : Team Sholawat MTsN 1 Padang di Festival Sholawat Nabi Tingkat Sumbar

BERITA

Perahu Terbalik Akibat Terhantam Ombak di TPI PASIR, 1 orang Dikabarkan Hilang

ARTIKEL

Personel Kodim 1710/Mimika Melaksanakan Tes Samapta UKP 1 Oktober 2025

BERITA

Tidak Hanya pada Masyarakat, Bid Propam Polda Kepri dan Ditlantas Laksanakan Gaktibplin Pemeriksaan Kelengkapan Surat-Surat Kendaraan Terhadap Personel Polda Kepri