Home / BERITA / DAERAH / EKONOMI / KOTA PADANG PANJANG / NASIONAL / SUMBAR / UMKM

Friday, 1 May 2026 - 13:37 WIB

Di Tengah Lonjakan Kedelai, Empati yang Tak Ikut Melonjak

Ketika harga kacang kedelai melambung dan pelaku usaha tempe mulai “menjerit” menahan napas usaha yang kian sesak, bantuan justru datang dari arah yang tak disangka. Bukan dari program besar atau seremoni panjang, melainkan dari ketukan sunyi seorang wakil rakyat,yang bahkan bukan dari dapilnya.

PadangPanjang.Sinyalnews.com- lPagi itu di Kampung Manggis, Padang Panjang Timur, aroma tempe yang biasanya menenangkan justru terasa getir. Harga kedelai naik, biaya produksi membengkak, dan pelaku usaha kecil seperti dipaksa memilih: bertahan dengan risiko rugi, atau berhenti perlahan.

Di tengah situasi itu, empat karung kacang kedelai, sekitar 100 kilogram datang tanpa banyak kata. Dibawa oleh Mardiansyah, S.Kom, anggota DPRD dari dapil Padang Panjang Barat dari Partai PAN . Secara politik, wilayah ini bukan tanggung jawabnya. Tapi bagi nurani, batas itu tampaknya tak berlaku.

Bantuan itu mendarat di Usaha Tempe Ros (UTR), usaha kecil yang menyimpan kisah panjang ketabahan. Dulu dirintis oleh almarhumah Rosdiani, yang bertahun-tahun berjuang melawan sakit sambil tetap menggenggam harapan pada usahanya. Kini, tongkat estafet itu dipegang oleh anak bungsunya, Kurniawan didampingi Ayahnya Herry Gusman ,yang melanjutkan usaha di tengah tekanan harga bahan baku yang kian tak bersahabat.

Baca Juga :  MK Selenggarakan Bimtek Hukum Acara Perselisihan Hasil Pemilu

Di tangan Kurniawan, setiap biji kedelai kini terasa seperti pertaruhan. Bukan sekadar bahan produksi, tapi soal bertahan hidup. Herry Gusman, pelaku UMKM yang turut menyaksikan perjalanan itu, tak mampu menyembunyikan getar suaranya saat mengenang sosok Mardiansyah.

“Beliau ini sudah sering membantu kami. Waktu Buk Ros masih sakit lima tahun, sampai beliau meninggal, beliau tetap datang. Tetap peduli. Kami tak menyangka masih ada yang seperti ini,” ujarnya lirih.

Di tengah derasnya narasi tentang angka, inflasi, dan kebijakan, kisah ini berdiri sebagai potret kecil,tentang bagaimana krisis benar-benar terasa di level paling bawah. Di dapur-dapur sederhana, di tungku-tungku yang mulai redup, di tangan-tangan yang menggantungkan hidup dari tempe yang kian mahal ongkosnya.

Baca Juga :  Kantongi Satu Juta Sertifikat Halal Gratis, Pelaku Usaha Bisa Kunjungi Halal Corner di Masjid Raya Sumbar

Bantuan empat karung kedelai mungkin tak akan mengubah grafik harga pasar. Ia juga tak akan menghentikan lonjakan harga yang terus menekan. Tapi bagi mereka yang bertahan di garis tipis antara hidup dan tumbang, itu adalah jeda, ruang bernapas yang sangat berharga.

Di saat banyak kebijakan masih mencari bentuk, kepedulian seperti ini justru hadir dalam bentuk paling nyata,langsung, sederhana, dan tepat sasaran.

Di Kampung Manggis, kisah itu kini hidup, di antara uap hangat tempe yang kembali mengepul. Sebuah pengingat, bahwa di tengah kerasnya ekonomi, yang paling dibutuhkan bukan sekadar solusi besar, tetapi juga hati yang tak ikut mengeras.(paulhendri)

Share :

Baca Juga

ARTIKEL

Kunjungan Dansatgas Kizi TNI Konga XXXVII-J   Pererat  Kerjasama Antar Kontingen di Minusca

BERITA

Jelang Pemilu Dan Pilpres Tahun 2024, Polres Sawahlunto Laksanakan Simulasi SispamKota

BADAN NEGARA

Usulan Tiga Nama Pj Walikota Dari DPRD Kota Sawahlunto Belum Final

ARTIKEL

Kapolres Blora Sediakan Dapur Umum untuk Korban Kebakaran Sumur Minyak

ARTIKEL

Danlanud Sultan Hasanuddin Hadiri Rapat Paripurna PIA Ardhya Garini Gabungan Koopsudnas

ARTIKEL

Komunitas Aeromodeling Meriahkan CFD Lanud Sultan Hasanuddin

BERITA

Situasi Hujan Tak Surutkan Semangat Satgas TMMD Kodim Karangasem Untuk Bantu Warga

BADAN NEGARA

Wujudkan Balita Sehat, Babinsa Dampingi Pelaksanaan Imunisasi