Dua Kali Lolos dari Tekanan, Alfi–Habibi Akhiri Porprov dengan Perak
Menang dramatis atas pasangan Bukittinggi dan Padang Pariaman, duet biliar Padang Panjang harus mengakui keunggulan Pesisir Selatan di final nomor ganda bola 10 Porprov XVI Sumatera Barat.
PADANG,Sinyalnews.com—Dua kali berada di ambang penentuan, dua kali pula Alfi dan Habibi berhasil keluar dari tekanan. Namun, setelah melewati pertandingan demi pertandingan yang menguras tenaga dan konsentrasi, duet biliar Kota Padang Panjang itu akhirnya harus merelakan medali emas nomor ganda bola 10 Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVI Sumatera Barat 2026 kepada pasangan Kabupaten Pesisir Selatan.
Bertanding di Hall Biliar Labewa, Kota Padang, Jumat (9/10/2026), Alfi/Habibi menutup perjuangan mereka dengan medali perak. Hasil tersebut lahir dari perjalanan panjang yang tidak hanya menguji kemampuan teknik, tetapi juga ketahanan fisik dan ketenangan mental ketika pertandingan memasuki fase paling menentukan.
Sebelum mencapai final, pasangan Padang Panjang itu harus melewati dua pertandingan sengit. Keduanya bahkan berakhir dengan selisih yang sangat tipis, memperlihatkan betapa kecilnya jarak antara kemenangan dan kekalahan di meja biliar.
Pada babak delapan besar, Alfi/Habibi berhadapan dengan pasangan Kota Bukittinggi. Pertandingan berlangsung ketat, dengan kedua pasangan saling mengejar angka hingga kedudukan imbang 7-7.
Dalam situasi seperti itu, satu kesalahan dapat mengakhiri perjalanan sebuah pasangan. Ketelitian membaca posisi bola, mengatur kekuatan pukulan, dan menjaga konsentrasi menjadi penentu.
Setelah jeda istirahat untuk menunaikan salat Jumat, pertandingan berlanjut ke frame ke-15. Alfi/Habibi akhirnya mampu menuntaskan perlawanan pasangan Bukittinggi dan memastikan tempat di semifinal.
Kemenangan tersebut menjadi modal penting, sekaligus awal dari ujian berikutnya.
Semifinal Kembali Ditentukan pada Angka Kritis
Di semifinal, tantangan yang dihadapi Alfi/Habibi tidak lebih ringan. Mereka harus berhadapan dengan pasangan Kabupaten Padang Pariaman, Robert/Jacki.
Pada awal pertandingan, Alfi/Habibi sempat tertinggal 1-3. Namun, mereka tidak membiarkan ketertinggalan itu mematahkan ritme permainan. Perlahan, angka demi angka dikejar hingga kedudukan kembali seimbang.
Pertandingan kemudian berlangsung dalam pola saling susul. Tidak ada pasangan yang benar-benar mampu menjauhkan diri dari tekanan lawan.
Situasi kembali mengarah ke hill-hill, istilah dalam biliar ketika kedua pasangan berada pada angka penentuan dan hanya membutuhkan satu kemenangan lagi untuk menutup pertandingan.
Di tengah tekanan tersebut, Alfi/Habibi kembali menunjukkan ketenangan. Mereka mampu memanfaatkan kesempatan yang tersedia dan akhirnya mengalahkan Robert/Jacki dengan skor 8-7.
Dua pertandingan telah dilalui. Dua kemenangan diraih dengan perjuangan hingga batas akhir.
Tiket final pun berada dalam genggaman.
Namun, perjalanan menuju partai puncak menyisakan persoalan lain, waktu pemulihan yang sangat terbatas.
Ketika Final Menuntut Lebih dari Sekadar Ketepatan Pukulan
Belum sempat beristirahat secara memadai, bahkan belum sempat makan, Alfi/Habibi harus kembali bersiap menghadapi pertandingan final. Sementara itu, pasangan Kabupaten Pesisir Selatan, Nando/Jon Hendri, telah menunggu setelah memperoleh waktu istirahat.
Jadwal final yang telah melewati waktu yang direncanakan membuat kedua pasangan memasuki pertandingan dengan kondisi persiapan yang berbeda. Bagi Alfi/Habibi, tantangannya bukan hanya menghadapi lawan yang tangguh, melainkan juga menjaga kebugaran dan ketajaman permainan setelah dua laga berat.
Biliar menuntut ketelitian yang tinggi. Sedikit perubahan konsentrasi dapat memengaruhi arah pukulan, kekuatan tenaga, hingga kemampuan menempatkan bola untuk pukulan berikutnya.
Meski demikian, Alfi/Habibi memulai final dengan cukup menjanjikan. Mereka sempat unggul 2-1 atas Nando/Jon Hendri.
Akan tetapi, sebuah kesalahan membuka kesempatan bagi lawan untuk mengejar dan menyamakan kedudukan. Pertandingan kembali berlangsung ketat hingga angka 3-3.
Pada fase inilah tantangan bagi Alfi/Habibi semakin berat. Kelelahan setelah menjalani dua pertandingan sebelumnya mulai terlihat dari sejumlah pukulan yang tidak lagi seakurat pada babak delapan besar dan semifinal.
Sebaliknya, Nando/Jon Hendri mampu menjaga konsistensi permainan. Kesempatan demi kesempatan dimanfaatkan untuk menambah angka, sementara Alfi/Habibi kesulitan membangun kembali momentum.
Jarak angka perlahan melebar. Upaya untuk mengejar ketertinggalan tidak cukup membendung laju pasangan Pesisir Selatan hingga pertandingan berakhir.
Medali emas nomor ganda bola 10 pun menjadi milik Kabupaten Pesisir Selatan. Alfi/Habibi harus puas membawa pulang medali perak untuk Kota Padang Panjang.
Kelelahan dan terbatasnya waktu pemulihan menjadi bagian penting dari cerita pertandingan tersebut. Namun, tanpa keterangan langsung dari atlet atau pelatih, faktor itu tidak dapat dipastikan sebagai satu-satunya penyebab kekalahan di final.
Perak yang Menyimpan Catatan Perjuangan
Hasil final tentu menyisakan kekecewaan bagi Alfi/Habibi. Setelah dua kali melewati pertandingan yang ditentukan pada angka kritis, medali emas tampak masih mungkin diraih.
Namun, perjalanan mereka di Porprov XVI Sumatera Barat memperlihatkan bahwa prestasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengalahkan lawan, tetapi juga oleh kesiapan menghadapi rangkaian pertandingan yang panjang.
Dua kemenangan dengan skor ketat menjadi bukti bahwa Alfi/Habibi mampu bertahan di bawah tekanan. Mereka menunjukkan kemampuan mengejar ketertinggalan dan menjaga peluang ketika pertandingan memasuki fase penentuan.
Di sisi lain, pengalaman di final menjadi bahan evaluasi penting, terutama terkait pengelolaan stamina, pemulihan, dan kesiapan menghadapi jadwal pertandingan yang padat.
Dalam olahraga prestasi, kemampuan teknis harus berjalan beriringan dengan kondisi fisik dan konsentrasi. Sebab, ketika pertandingan berlangsung berjam-jam, ketepatan pukulan saja tidak selalu cukup untuk menjamin kemenangan.
Bagi biliar Padang Panjang, medali perak ini tetap menjadi capaian yang patut diapresiasi. Alfi/Habibi telah membawa daerahnya hingga partai puncak melalui dua kemenangan yang tidak mudah.
KONI Padang Panjang Sampaikan Apresiasi
Perjuangan Alfi/Habibi turut disaksikan Eko Setiawan, perwakilan KONI Kota Padang Panjang, yang hadir langsung di Hall Biliar Labewa, Kota Padang, untuk menyaksikan pertandingan final.
Usai pertandingan, saat penyerahan medali, perwakilan KONI Padang Panjang menyampaikan ucapan selamat kepada kedua atlet atas perjuangan mereka hingga meraih medali perak. Momen tersebut kemudian diabadikan melalui foto bersama.
Kehadiran perwakilan KONI menjadi bentuk dukungan moral bagi atlet yang tengah berjuang membawa nama Kota Padang Panjang dalam ajang olahraga tingkat provinsi tersebut.
Eko Setiawan menyampaikan apresiasi atas perjuangan Alfi/Habibi yang mampu menembus final setelah melewati pertandingan-pertandingan ketat.apalagi Habibi proprov adalah pengalaman pertama bagi nya , dan alhamdulillah menorehkan prestasi, (Perak dan Perunggu)
“Kita tentu mengapresiasi perjuangan Alfi dan Habibi yang sudah berusaha maksimal hingga mencapai final. Mereka telah melewati pertandingan yang sangat ketat dan menunjukkan semangat juang yang patut dihargai. Hasil ini harus menjadi pengalaman berharga untuk evaluasi dan persiapan ke depan agar prestasi atlet biliar Padang Panjang bisa terus meningkat.”
Pada akhirnya, Alfi/Habibi memang harus meninggalkan meja final tanpa medali emas. Namun, dua kemenangan dramatis yang mengantarkan mereka ke partai puncak menunjukkan bahwa perjalanan menuju podium bukanlah perkara mudah.
Medali perak menjadi hasil akhir. Pengalaman menghadapi tekanan, kemampuan bangkit dari ketertinggalan, dan pelajaran dari pertandingan final menjadi bekal untuk perjalanan berikutnya.
Sebab, di meja biliar, kemenangan ditentukan oleh ketepatan pada setiap pukulan. Namun, dalam olahraga prestasi, kemajuan ditentukan pula oleh kemampuan belajar dari setiap pertandingan.(paulhendri)














