Tiga Peserta PWI Padang Panjang Lulus Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian. Ryan Oscar menjadi salah satu dari empat peserta dengan penulisan feature terbaik se-Sumatera Barat.
PadangPanjang.Sinyalnews.com—Ukuran sebuah karya jurnalistik tidak pernah ditentukan oleh dari mana wartawannya berasal. Ia diuji oleh ketajaman melihat persoalan, kedalaman menggali fakta, dan kemampuan menghadirkan manusia di balik sebuah peristiwa.
Pesan itu terasa kuat dalam Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) PWI Sumatera Barat Angkatan I Tahun 2026.
Dari 59 peserta yang datang dari berbagai cabang PWI kabupaten dan kota se-Sumatera Barat, tiga peserta dari PWI Padang Panjang dinyatakan lulus. Salah satunya, Ryan Oscar, mencatat capaian yang lebih menonjol: ia terpilih sebagai satu dari empat penulis feature terbaik dalam rangkaian OKK tersebut.
Prestasi itu bukan sekadar angka.
Di antara puluhan peserta yang datang membawa pengalaman, karakter dan latar jurnalistik masing-masing, sebuah karya dari Padang Panjang berhasil masuk ke jajaran empat tulisan feature terbaik.
Bagi kota yang tidak sebesar pusat-pusat pemberitaan di Sumatera Barat, capaian itu seperti mengingatkan kembali satu hal: kualitas jurnalistik tidak mengenal batas geografis.
Ketua PWI Padang Panjang Supriyanto menyambut capaian tersebut dengan rasa bangga. Menurutnya, keberhasilan Ryan menjadi salah satu dari empat penulis feature terbaik merupakan kebanggaan bukan hanya bagi pribadi yang bersangkutan, tetapi juga bagi seluruh keluarga besar PWI Padang Panjang.
“Kami tentu bangga. Dari 59 peserta OKK yang datang dari berbagai cabang PWI kabupaten dan kota se-Sumatera Barat, salah satu dari empat penulis feature terbaik berasal dari PWI Padang Panjang. Ini bukan hanya kebanggaan Ryan, tetapi kebanggaan kita bersama sebagai keluarga besar PWI Padang Panjang,” ujar Supriyanto.
Namun Supriyanto tidak ingin capaian tersebut berhenti sebagai sebuah penghargaan. Menurutnya, kelulusan OKK dan prestasi dalam penulisan feature justru menjadi pintu masuk bagi tanggung jawab yang lebih besar.
“Setelah OKK, tantangannya justru semakin besar. Wartawan harus terus belajar, meningkatkan kompetensi, menjaga kode etik, dan menghasilkan karya jurnalistik yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Prestasi ini harus menjadi motivasi untuk terus berkarya, bukan berhenti pada sebuah predikat,” katanya.
Ia menilai, wartawan daerah memiliki tantangan yang tidak ringan. Di satu sisi harus mampu mengikuti perubahan teknologi dan kecepatan arus informasi, tetapi di sisi lain tidak boleh kehilangan kedalaman, independensi dan tanggung jawab etik.
“Kami berharap Ryan dan teman-teman yang lulus OKK terus mengembangkan kemampuan. Wartawan Padang Panjang harus percaya diri. Karya dari daerah juga bisa berbicara di tingkat Sumatera Barat, bahkan lebih luas, sepanjang ditulis dengan kompetensi, etika dan keberanian,” ujar Supriyanto.
Belajar Bukan Sekadar Menulis
OKK PWI Sumbar Angkatan I berlangsung selama 14–15 Agustus 2026 dan dibuka secara daring oleh Ketua PWI Sumatera Barat Widia Navies.
Sebanyak 59 peserta dari berbagai cabang PWI kabupaten dan kota mengikuti pembekalan kewartawanan sekaligus keorganisasian.
Materi yang diberikan tidak berhenti pada bagaimana membuat berita. Peserta diajak memahami fondasi profesi pers, mulai dari PWI dan Dewan Kehormatan Pers, AD/ART, kesekretariatan PWI, UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, Kode Etik Jurnalistik, Kode Perilaku Wartawan, hukum pers, UU ITE, hingga perlindungan perempuan, anak dan penyandang disabilitas.
Pada sesi dasar-dasar jurnalistik, peserta mendapatkan materi mengenai teknik wawancara, penulisan straight news dan penulisan feature.
Materi disampaikan sejumlah pengurus PWI Sumbar dan Dewan Kehormatan Pers PWI Sumbar, di antaranya Zul Efendi, Firdaus Abi, Emil Mahmudsyah, Refiandi, Guspa Caniago, Susilo, H.M. Kudri, Sawir Pribadi dan Sukri Umar.
Di sinilah makna OKK menjadi lebih luas. Wartawan tidak hanya dituntut mampu menulis, tetapi juga memahami batas antara fakta dan opini, kecepatan dan ketelitian, kepentingan publik dan kepentingan pribadi.
Sebab satu berita yang ditulis dengan tergesa-gesa dapat melahirkan kesalahan. Tetapi satu tulisan yang digali dengan kesungguhan dapat membuat sebuah persoalan yang selama ini luput dari perhatian menjadi terlihat.
Dari Padang Panjang, Sebuah Pesan
Tiga peserta PWI Padang Panjang mengikuti OKK dengan pendampingan jajaran KSB PWI Padang Panjang, yakni Ketua Supriyanto, Sekretaris Isril Naidi, dan Bendahara Jon Kenedi.
Bagi organisasi, tiga peserta yang lulus merupakan bagian dari proses regenerasi. Sementara terpilihnya Ryan Oscar dalam empat penulis feature terbaik se-Sumatera Barat menjadi tambahan energi untuk terus mendorong wartawan Padang Panjang meningkatkan kualitas karya.
Karena pada akhirnya, dunia jurnalistik tidak hanya membutuhkan wartawan yang mampu mengejar berita.
Ia membutuhkan wartawan yang mampu membaca zaman, mendengar suara yang nyaris tak terdengar, melihat persoalan dari sisi manusia, lalu menuliskannya dengan keberanian dan tanggung jawab.
Dari 59 peserta OKK yang datang dari berbagai penjuru Sumatera Barat, empat tulisan feature terbaik dipilih.
Satu di antaranya lahir dari Padang Panjang.
Bukan untuk membuktikan bahwa Padang Panjang lebih hebat dari daerah lain.
Melainkan untuk menunjukkan bahwa dari kota kecil pun dapat lahir karya besar—ketika wartawannya mau terus belajar, berani menggali, dan tidak pernah berhenti mempertajam pena.
Dan bagi Ryan Oscar, empat besar itu bukan garis akhir.
Itu baru sebuah tanda bahwa perjalanan panjang seorang wartawan untuk menemukan kebenaran melalui kata-kata baru saja dimulai.(paulhendri)














