Home / BERITA / DAERAH / KOTA PADANG PANJANG / NASIONAL / PENDIDIKAN / PERISTIWA / SUMBAR

Friday, 14 August 2026 - 00:16 WIB

Bukan Sekadar Lencana, Pengabdian Hendri Arnis Menembus Cibubur

JAKARTA.Sinyalnews.com—Di bawah cahaya malam Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Cibubur, sebuah lencana disematkan di dada. Benda kecil itu mungkin tidak seberapa besar, tetapi di baliknya tersimpan cerita panjang tentang pengabdian, ketekunan dan kesetiaan merawat gerakan pendidikan karakter anak bangsa.

Kamis malam, 13 Agustus 2026, nama Kota Padang Panjang kembali disebut di panggung Gerakan Pramuka tingkat nasional.

Wali Kota Padang Panjang Hendri Arnis, BSBA, yang juga Ketua Majelis Pembimbing Cabang Gerakan Pramuka Kota Padang Panjang, menerima Lencana Dharma Bakti dari Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.

Penghargaan itu diserahkan dalam rangkaian Upacara Ulang Janji memperingati Hari Pramuka ke-65 di Lapangan Kempi 2, Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Cibubur, Jakarta Timur.

Di hadapan keluarga besar Gerakan Pramuka, lencana tersebut disematkan oleh Pembina Upacara, Komjen Pol (Purn) Budi Waseso.

Momen itu bukan sekadar seremoni tahunan.

Ada pesan yang jauh lebih dalam: kerja-kerja pengabdian di daerah, ketika dilakukan dengan kesungguhan, pada akhirnya menemukan jalannya sendiri menuju pengakuan di tingkat nasional.

Lencana Dharma Bakti menjadi simbol bahwa Pramuka tidak hanya berbicara tentang seragam cokelat, barisan upacara atau kegiatan perkemahan. Di baliknya ada pekerjaan panjang membentuk manusia, menanamkan disiplin, kemandirian, kepedulian, keberanian dan rasa tanggung jawab kepada generasi muda.

Sebagai Ketua Majelis Pembimbing Cabang, Hendri Arnis tidak hanya berdiri sebagai simbol pemerintahan di belakang gerakan Pramuka. Ia berada pada posisi yang ikut menentukan bagaimana gerakan kepanduan mendapat ruang, dukungan dan arah untuk tumbuh di tengah perubahan zaman.

Bagi Padang Panjang, penghargaan tersebut sekaligus menjadi cermin bahwa pembangunan sebuah kota tidak selalu dapat diukur dari jalan yang mulus, gedung yang berdiri atau angka-angka dalam laporan pemerintahan.

Ada pembangunan yang bekerja jauh lebih sunyi: membangun karakter manusia.

Di tengah zaman ketika anak-anak dan remaja berhadapan dengan derasnya teknologi, perubahan perilaku sosial dan banjir informasi, pendidikan karakter menjadi pekerjaan yang tidak kalah penting dibanding pembangunan fisik.

Baca Juga :  Posyandu Sinar Gunung 11 Wakil Kec Padang Utara Lomba Kader Posyandu Berprestasi Tingkat Kota Padang

Karena itu, penghargaan kepada Hendri Arnis sesungguhnya membawa nama yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Ia membawa nama Padang Panjang.

Kota kecil di jantung Sumatera Barat itu kembali mendapat ruang di panggung nasional melalui kerja pengabdian di bidang kepemudaan dan pendidikan karakter.

Surat Kwartir Nasional Gerakan Pramuka tertanggal 12 Agustus 2026 secara resmi meminta Kwarda Gerakan Pramuka Sumatera Barat menginformasikan kepada Hendri Arnis untuk hadir menerima tanda penghargaan tersebut.

Sehari kemudian, undangan itu berubah menjadi kenyataan. Di Cibubur, lencana disematkan. Kamera mengabadikan detiknya.Namun makna sebenarnya tidak berhenti pada satu foto.

Ketua PWI Padang Panjang, Supriyanto, menilai penghargaan tersebut bukan semata-mata penghormatan kepada seorang kepala daerah, tetapi juga pesan bahwa pembinaan generasi muda merupakan bagian penting dari pembangunan daerah.

“Penghargaan ini harus kita lihat lebih jauh dari sekadar lencana yang disematkan kepada seorang wali kota. Ada pesan tentang pentingnya menjaga pengabdian dan memberikan ruang yang besar bagi generasi muda untuk tumbuh dengan karakter, disiplin dan rasa cinta terhadap bangsa,” ujar Supriyanto.

Menurutnya, momentum penghargaan tersebut menjadi semakin bermakna karena pada saat yang hampir bersamaan, anak-anak Pramuka dari berbagai daerah akan memasuki momentum besar Jambore.

Bagi mereka, kata Supriyanto, penghargaan yang diterima seorang pembina seharusnya bukan sekadar kabar yang lewat di telinga.

Ia harus menjadi semangat yang ikut dibawa ke arena Jambore.

“Untuk adik-adik Pramuka yang besok mengikuti dan membuka lembaran Jambore, jangan pernah menganggap kalian hanya sedang mengikuti sebuah perkemahan. Kalian sedang belajar menjadi manusia yang kelak akan memegang masa depan bangsa. Nikmati prosesnya, jaga persaudaraan, bawa nama baik daerah dan tunjukkan bahwa anak-anak Sumatera Barat mampu berdiri dengan percaya diri di tengah anak-anak Indonesia lainnya,” katanya.

Pesan itu sederhana, tetapi mungkin justru karena kesederhanaannya ia menjadi penting.Sebab Jambore bukan tentang siapa yang paling hebat mendirikan tenda.

Baca Juga :  Posko LKAAM Sumbar besinergi Peduli Bencana Gempa Cianjur Targetkan 10 Ton Rendang

Bukan pula tentang siapa yang paling ramai ketika berada di tengah kerumunan.Jambore adalah ruang untuk belajar hidup bersama.Belajar menerima perbedaan. Belajar bertanggung jawab.Belajar memimpin dan, pada saat yang sama, belajar mendengarkan.

Dan mungkin, bertahun-tahun dari sekarang, anak-anak yang malam ini masih mengenakan seragam Pramuka itu akan mengingat bahwa pernah ada satu malam ketika mereka berangkat membawa nama daerah, kebudayaan dan harapan orang-orang di rumah.

Pada malam yang sama di Cibubur, seorang wali kota menerima Lencana Dharma Bakti.

Dua peristiwa itu seolah berada di dua dunia yang berbeda. Yang satu adalah penghargaan kepada mereka yang telah mengabdi.Yang satu lagi adalah perjalanan anak-anak yang baru memulai. Namun keduanya bertemu pada satu kata yang sama: pengabdian.
Lencana di dada Hendri Arnis adalah jejak dari perjalanan yang telah ditempuh.

Sementara langkah anak-anak Pramuka menuju Jambore adalah awal dari perjalanan yang belum selesai.Karena suatu hari nanti, bisa jadi dari antara anak-anak yang berangkat dengan ransel, seragam dan semangat itu, akan lahir pemimpin-pemimpin baru.

Dan ketika hari itu tiba, mungkin yang paling penting bukan lagi siapa yang pernah menerima penghargaan.

Melainkan apakah mereka telah berhasil mewariskan nilai pengabdian kepada generasi berikutnya.

Malam itu, sebuah lencana menempel di dada seorang wali kota.Tetapi sesungguhnya yang sedang dihormati bukan sekadar seorang pejabat.

Yang sedang dihormati adalah pengabdian.Dan ketika lencana itu dibawa pulang ke Padang Panjang, ia semestinya tidak hanya menjadi benda yang disimpan di lemari penghargaan.

Ia harus menjadi pengingat bahwa membangun kota bukan hanya tentang bagaimana sebuah daerah terlihat hari ini.

Jauh lebih penting adalah tentang manusia seperti apa yang akan tumbuh di dalamnya esok hari.

Dan kepada anak-anak Pramuka yang besok membuka lembaran Jambore, pesan itu seakan menemukan bentuknya sendiri:

Berangkatlah sebagai anak-anak yang membawa nama daerah. Pulanglah sebagai generasi yang membawa harapan Indonesia.(Paulhendri)

Share :

Baca Juga

BERITA

Pelatihan Kompetensi DBHCHT, Serap 90 persen Lulusan Ke Dunia Kerja

ARTIKEL

Fadly Amran Dampingi Andre Rosiade Tinjau Operasi Pasar LPG 3 Kg

BERITA

Erianto Mahmuda : Ucapkan Terima Kasih Pada Warga Dapil II Kuranji Kota Padang

ARTIKEL

Panglima TNI Tanamkan Nilai Kepemimpinan dan Nasionalisme kepada Siswa SMA Taruna Nusantara

ARTIKEL

MAN 2 Padang Terima Kendaraan Operasional dari Kakanwil Kemenag Sumbar

ARTIKEL

Mohammad Natsir: Ulama, Negarawan, dan Pemersatu Bangsa dari Ranah Minang

ARTIKEL

Keperpihakan pada Sektor Pertanian sebagai Upaya untuk Mensejahterakan Petani dan Nelayan

ARTIKEL

KPU Gelar Debat Kedua Pasangan Cawako-Cawawako 9 November