Di Balik Jeruji, Perang Melawan Narkoba Itu Masih Menyala

PadangPanjang.Sinyalnews,com-Suara ikrar itu menggema kuat dari dalam Rutan Kelas IIB Padang Panjang. Di balik tembok tinggi dan pintu besi yang terkunci, perang terhadap narkoba kembali ditegaskan: tidak boleh ada ruang bagi handphone ilegal, narkoba, maupun praktik penipuan tumbuh dari dalam tahanan.

Kegiatan “Ikrar Pemasyarakatan Bersih dari Handphone Ilegal, Narkoba dan Praktik Penipuan” yang dipimpin Kepala Rutan, Novri Abbas, menjadi simbol keseriusan pemasyarakatan membersihkan diri dari ancaman laten narkotika yang selama ini menghantui lapas dan rutan di Indonesia.

Dari Badan Narkotika Nasional Provinsi Sumatera Barat, kegiatan itu dihadiri perwakilan BNNP Sumbar, Jostra Maidi.
Dalam keterangannya, Jostra menegaskan bahwa Sumatera Barat saat ini berada dalam kondisi darurat narkoba dan membutuhkan keseriusan semua pihak.

“Ini sangat memprihatinkan. Perang terhadap narkoba bukan hanya tugas aparat penegak hukum, tetapi tanggung jawab kita bersama. Seluruh elemen harus serius dalam pencegahan narkoba,” ujarnya.

Baca Juga :  HUT Bhayangkara Ke 77 Dandim 0304/Agam Berikan Surprise Kepada Kapolresta Bukittinggi

Ia menilai, ancaman narkoba kini semakin kompleks karena jaringan peredaran mampu bergerak dari mana saja, termasuk dari balik jeruji penjara dengan memanfaatkan handphone ilegal sebagai alat komunikasi dan pengendali transaksi.

Karena itu, menurutnya, langkah yang dilakukan Rutan Padang Panjang melalui ikrar, razia kamar hunian, hingga tes urine merupakan bentuk nyata perang terhadap narkoba dari dalam institusi pemasyarakatan.

Jostra juga menyoroti pentingnya dukungan anggaran dalam upaya pemberantasan narkoba.

“Kami berharap pemerintah bisa menganggarkan dana yang serius untuk pemberantasan narkoba. Ini menyangkut masa depan tunas bangsa. Saat Covid-19 dulu kita bisa menganggarkan dana besar demi menyelamatkan masyarakat. Kenapa untuk pencegahan narkoba kita tidak serius?” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, tim gabungan juga melakukan pemeriksaan tes urine terhadap warga binaan dan petugas rutan.

Hasilnya, dari 136 warga binaan pemasyarakatan (WBP) yang diperiksa, ditemukan tiga orang menunjukkan hasil positif. Namun setelah dilakukan pendalaman, hasil itu bukan disebabkan penggunaan narkotika, melainkan efek konsumsi obat rutin yang sedang dijalani.

Baca Juga :  Kali Kedua Polres Padang Panjang Lakukan "Restorative Justice"

“Sementara untuk 52 petugas, alhamdulillah seluruhnya negatif,” ujar tim pemeriksa tes urine di hadapan peserta kegiatan.

Selain tes urine, petugas juga melakukan razia kamar hunian warga binaan untuk memastikan tidak ada handphone ilegal maupun barang terlarang lainnya di dalam rutan. Pemeriksaan dilakukan menyeluruh sebagai bentuk komitmen menciptakan lingkungan pemasyarakatan yang bersih, aman, tertib dan berintegritas.

Karutan Novri Abbas menegaskan, lapas dan rutan harus kembali menjadi tempat pembinaan, bukan ruang aman bagi jaringan narkoba dan praktik kejahatan lainnya.

Di tengah meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap ancaman narkoba yang terus merusak generasi muda, ikrar itu menjadi pengingat bahwa perang belum selesai.

Sebab ketika narkoba masih mampu menyusup hingga balik jeruji, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar keamanan penjara ,tetapi masa depan sebuah bangsa.(paulhendri)

Share :

Baca Juga

ARTIKEL

Wakapolda Riau Tegaskan Diktukba Polri gelombang II TA 2024 adalah Bagian Pembentukan Karakter

BERITA

Anggota DPRD Kota Padang Ja’far S.HI Lepas Tour Wisata Arisan IBAP (Ikatan Bako Anak Pisang) Sungai Sapih

BERITA

Cara Polri Pantau Situasi Keamanan KTT AIS Forum 2023 yang Tak Terjangkau CCTV

BERITA

Tim Disperindag Sumbar Berhasil Masuk Semi Final Lomba Cerdas Cermat Anti Korupsi Antar ASN Prov Sumbar

BERITA

AKP Afrino SH, MH : Di Tunggul Hitam, Balita Usia 3 Tahun Hilang di Depan Rumah yang sedang Banjir

BERITA

Polri dan Penyedia Jasa Telekomunikasi Gelar Deklarasi Pemilu Damai

BERITA

Danramil Kedungreja Hadiri Penyerahan Sertifikat Program PTS di Desa Bangunreja

ARTIKEL

Jacob Ereste : Raja Zalim Tak Hanya Disanggah, Tapi Layak Dipancung Seperti Luis XVI